<
Batam  

Prof Iskandar Soroti Kesehatan Mental di Era Digital, Pendidikan Diminta Tak Abaikan Sisi Batin

Guru Besar UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi Prof. Iskandar menjadi narasumber Podcast Ruang Bicara. Ia membahas tantangan kesehatan mental, penggunaan teknologi digital dan pentingnya pendidikan yang turut menyentuh aspek emosional serta spiritual manusia.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Arus informasi yang tak pernah berhenti dan penggunaan gawai yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari dinilai ikut mengubah pola perilaku serta interaksi manusia. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), pendidikan dinilai tidak cukup hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu menyentuh aspek emosional dan spiritual.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi, Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., MSI., MH., PhD., dalam Podcast Ruang Bicara. Guru besar bidang psikologi pendidikan itu menyoroti tantangan manusia dalam menjaga fokus, mengendalikan diri dan mempertahankan interaksi sosial di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.

Menurut Prof. Iskandar, masyarakat kini menerima informasi secara terus-menerus. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi, terutama pada anak-anak dan generasi muda.

“Ketika informasi datang terus-menerus, anak-anak kita tidak bisa fokus dan mudah berpindah. Karena tumpukan informasi yang datang silih berganti,” ujar Prof. Iskandar.

Ia juga menyoroti penggunaan telepon pintar yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, interaksi langsung dalam keluarga menurutnya dapat tergeser ketika setiap anggota keluarga lebih sibuk dengan perangkat masing-masing.

Padahal, kata dia, teknologi pada dasarnya memberikan banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Persoalan utamanya bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan kemampuan manusia dalam mengendalikan penggunaan teknologi tersebut.

Pendidikan Tak Cukup Mengasah Intelektual

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Iskandar juga menekankan pentingnya pendidikan yang mengembangkan manusia secara utuh.

Menurutnya, kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Ia juga memperkenalkan gagasan ruhiologi yang dikaitkannya dengan upaya memahami dimensi batin manusia.

“Tidak cukup dengan ilmu. Ada sisi terdalam manusia yang harus disentuh,” katanya.

Ia menilai seseorang yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu memiliki kemampuan mengelola emosi, berempati dan menemukan makna dalam kehidupannya. Karena itu, pendidikan menurutnya perlu memberikan ruang bagi pembentukan karakter, keteladanan, refleksi dan pembinaan spiritual.

Ruhiologi dan Mengenali Diri

Prof. Iskandar menjelaskan, gagasan ruhiologi yang dikembangkannya berangkat dari perjalanan akademik dan spiritual yang dijalaninya. Konsep tersebut antara lain menekankan perhatian terhadap hubungan aspek jasmani dan rohani manusia.

Ia mengatakan manusia tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, pendidikan, pekerjaan dan pencapaian material. Ada pula kebutuhan batin yang perlu diperhatikan.

Kesibukan mengejar berbagai kebutuhan eksternal, menurutnya, terkadang membuat seseorang kehilangan waktu untuk melakukan refleksi dan mengenali dirinya sendiri.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menyediakan waktu untuk berhenti sejenak dari aktivitas digital. Refleksi, ibadah dan komunikasi dengan diri sendiri dinilai dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran pribadi.

Salat dan Muhasabah

Dalam perspektif keagamaan yang disampaikannya, Prof. Iskandar juga menempatkan salat sebagai salah satu sarana membangun kesadaran dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Namun, menurutnya, ibadah tidak seharusnya berhenti pada aktivitas ritual. Nilai ibadah juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Kalau sudah salat kita masih menyakiti kawan, masih buka aib kawan, masih bullying, berarti salatnya belum membekas,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak masyarakat melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Menurutnya, seseorang perlu belajar mengenali pikiran, perasaan, keinginan dan perilaku yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Anak Muda dan Tantangan Digital

Prof. Iskandar menilai persoalan yang dihadapi generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Menurutnya, pendampingan tidak cukup hanya melalui motivasi, tetapi juga membutuhkan keteladanan, latihan, lingkungan yang mendukung serta pendekatan emosional dan spiritual.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi sosial secara langsung.

AI dan teknologi digital, kata dia, tetap dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia. Namun, penggunaannya perlu disertai kemampuan mengendalikan diri agar manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Teliti Dampak Salat 40 Hari

Pada kesempatan tersebut, Prof. Iskandar mengungkapkan dirinya tengah melakukan penelitian mengenai penerapan salat lima waktu selama 40 hari yang disertai jurnal. Penelitian tersebut antara lain melibatkan anak muda dan warga binaan di lembaga pemasyarakatan.

Ia menyebut terdapat sejumlah perubahan yang menurut pengamatannya menarik setelah program tersebut dijalankan. Namun, ia menegaskan proses tersebut masih menjadi bagian dari penelitian sehingga hasilnya masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Podcast Ruang Bicara bersama Prof. Iskandar kemudian ditutup dengan pesan mengenai pentingnya mengenali diri, menggunakan teknologi secara bijak serta menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Menurut Prof. Iskandar, kemampuan mengenali diri dan melakukan refleksi menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih tenang dan bermakna. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *