Lingga-(NagoyaPos.Com)- Daik Lingga menawarkan perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar kunjungan wisata. Di wilayah ini, alam, legenda, sejarah kerajaan, adat, dan kebudayaan Melayu bertemu dalam satu lanskap.
Daik merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Letaknya di kawasan selatan Kepulauan Riau membuat perjalanan menuju daerah ini menjadi bagian dari pengalaman. Dari Batam atau Tanjungpinang, wisatawan harus menyeberangi laut sebelum tiba di negeri yang masih lekat dengan suasana tenang dan tradisi Melayu.
Salah satu penanda identitas Lingga adalah Gunung Daik. Namanya bahkan melekat dalam pantun Melayu yang terkenal: “Pulau Pandan jauh ke tengah, Gunung Daik bercabang tiga, hancur badan di kalang tanah, budi baik dikenang juga.” Pantun itu membuat Gunung Daik tidak sekadar menjadi bentang alam, tetapi bagian dari ingatan budaya Melayu.
Kini, Gunung Daik yang tampak jelas memiliki satu puncak utama. Dua cabang yang dahulu dikenal dalam pantun tidak lagi terlihat sebagaimana gambaran masa lalu. Perubahan tersebut melahirkan beragam cerita rakyat mengenai patahnya cabang gunung hingga kisah-kisah yang berkaitan dengan kekuatan alam dan dunia gaib.
Bagi masyarakat setempat, cerita tentang Gunung Daik menjadi bagian dari warisan lisan. Kabut, hutan yang sunyi, tebing batu, dan suara alam di kawasan gunung turut menyuburkan berbagai legenda tentang kesakralan dan penunggu alam gaib.
Namun, Gunung Daik bukan satu-satunya alasan untuk datang ke Lingga.
Di kawasan ini terdapat Air Terjun Resun yang menawarkan aliran air jernih di tengah hutan tropis. Ada pula Lubuk Papan yang dalam cerita masyarakat dipercaya pernah menjadi tempat mandi para putri kerajaan. Untuk wisata keluarga, Lubuk Muncung dan Air Terjun Tanda menjadi pilihan untuk menikmati kesejukan air, sementara Sungai Kim di Desa Wisata Resun menawarkan pengalaman berkemah di tepian sungai.
Sejarah Lingga membawa perjalanan ke masa Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pada akhir abad ke-18, Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan kesultanan ke Lingga. Daik kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Melayu selama lebih dari satu abad sebelum kesultanan itu dihapuskan pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Jejak kerajaan itu masih dapat ditemukan di Kompleks Situs Istana Damnah. Reruntuhan yang tersisa menjadi pengingat bahwa Daik pernah menjadi pusat kekuasaan Melayu. Batu dan sisa bangunan di kawasan tersebut membawa pengunjung pada cerita tentang kehidupan kerajaan pada masa lalu.
Di kawasan Bukit Cengkeh terdapat makam para sultan dan kerabat kerajaan. Suasananya teduh dan tenang. Sementara itu, Masjid Jami Sultan Lingga menjadi salah satu peninggalan penting yang memperlihatkan hubungan erat antara kerajaan, Islam, dan kebudayaan Melayu.
Warisan budaya Lingga juga hadir melalui Tudung Manto. Penutup kepala khas bangsawan Melayu Lingga itu dibuat menggunakan teknik tekat kelingkan dengan sulaman benang perak atau emas di atas kain beludru. Tudung Manto masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat, termasuk tradisi Tepuk Tepung Tawar.
Perjalanan ke Daik belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Bubur Lambok dan aneka olahan sagu menjadi bagian dari makanan tradisional masyarakat. Sagu tidak hanya menjadi bahan pangan, tetapi juga bagian dari sejarah kehidupan masyarakat kepulauan.
Untuk menikmati suasana malam, pengunjung dapat singgah di Kedai Kopi Balang di Jalan Datuk Laksamana, Kampung Bugis, Daik. Kopi dimasak langsung di dalam panci bersama krimer, kemudian dituangkan ke dalam balang dengan tambahan daun pandan. Minuman itu dapat dinikmati bersama roti bakar Mak Yam.
Daik Lingga pada akhirnya menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya melihat air terjun atau gunung, tetapi juga dapat menelusuri jejak kerajaan dan mengenal warisan kebudayaan Melayu.
Daik seperti mengajak pengunjung berjalan perlahan. Gunung Daik menjadi penanda alam, Istana Damnah menjadi pintu menuju masa lalu, sementara adat dan kuliner menjaga kebudayaan tetap hidup.
Perjalanan menuju Lingga memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, jarak itu justru menjadi bagian dari pengalaman untuk menemukan sebuah daerah yang masih menawarkan kesunyian dan kekayaan sejarah.
Di sana, Gunung Daik tetap berdiri. Cabangnya mungkin tak lagi tiga seperti dalam pantun, tetapi cerita tentang gunung itu terus hidup—berpindah dari sejarah menjadi legenda, lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*)
Reporter : RY














