Batam-(NagoyaPos.Com) – Sore itu, matahari masih terik menerpa Kota Batam. Namun suasana terasa berbeda. Seolah langit sedang belajar menahan tangis ketika seorang anak terbaik kota ini diantar pulang ke pangkuan bumi yang begitu dicintainya.
Ada kepergian yang sekadar meninggalkan nama. Namun ada pula kepergian yang meninggalkan gema.
Kepergian Adi Harnus, SE, adalah yang kedua.
Ia pergi, tetapi ketukan drum, tiupan saxophone, langkah tegap anak-anak muda, karya seni, serta kenangan tentang pengabdian yang pernah ditanamkannya masih akan terdengar jauh setelah tubuhnya beristirahat untuk selamanya.
Tanggal 18 Agustus 2026 menjadi batas antara hadir dan tiada. Sehari kemudian, tubuhnya diserahkan kepada tanah Batam. Tanah yang dahulu menyambut langkahnya sebagai seorang anak muda pada 1993, kini menjadi tempat terakhir ia beristirahat.
Seolah perjalanan panjang itu menemukan lingkarannya sendiri: datang membawa mimpi, menjalani hidup dengan pengabdian, lalu pulang meninggalkan karya.
Pemerintah Kota Batam kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Bagi masyarakat, Adi Harnus dikenal sebagai birokrat yang tegas, responsif dan dekat dengan masyarakat. Pada akhir pengabdiannya, ia dipercaya memimpin Kecamatan Batu Aji sebagai camat.
Namun bagi mereka yang pernah berjalan bersamanya, Adi bukan sekadar pejabat pemerintahan.
Ia adalah manusia yang memiliki dua dunia di dalam dirinya. Satu dunia ditempa oleh disiplin birokrasi, sementara dunia lainnya berdenyut oleh musik, kreativitas, persahabatan dan kecintaannya kepada anak-anak muda.
Saya mengenalnya bukan pertama-tama dari balik meja kerja, bukan pula dari jabatan dan pangkat yang kemudian melekat pada namanya.
Saya mengenalnya dari sebuah tempat sederhana, sebuah gubuk di kompleks Mess Pemda Sei Harapan, Sekupang.
Di tempat itulah, pada masa awal ketika masih bujang dan baru menginjakkan kaki di Batam, Adi merajut hari-harinya dengan kesederhanaan dan ketekunan.
Batam tahun 1993 tentu belum seperti sekarang. Kota ini masih bertumbuh dan banyak orang datang membawa harapan yang belum tentu menemukan jalan.
Adi datang dengan tekad yang sama. Ia tidak membawa kemewahan. Ia hanya membawa keberanian untuk memulai.
Ia menjalani hari sebagai tenaga honorer lepas di lingkungan Pemerintah Kota Batam. Namun di luar pekerjaan, tangannya tidak pernah benar-benar lepas dari tongkat pelatih.
Di lapangan, ia menemukan dunia yang berbeda. Dunia tempat anak-anak muda belajar berdiri tegak, menghitung ketukan, menyelaraskan langkah, mendengar satu sama lain, dan memahami bahwa harmoni tidak akan lahir jika setiap orang hanya ingin memainkan nadanya sendiri.
Dari sanalah Bahana Barelang mulai ditempa. Kelak kelompok itu berkembang menjadi Bahana Barelang Drum Corps, sebuah nama yang tidak hanya dikenal karena bunyi drum dan barisan yang rapi, tetapi juga karena jejak panjangnya dalam membentuk karakter generasi muda Batam.
Bagi Adi, melatih bukan sekadar pekerjaan sampingan. Itu adalah panggilan jiwa. Ia mungkin seorang birokrat pada siang hari. Namun ketika berada di lapangan, ia adalah seorang guru yang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada musik.
Ia mengajarkan disiplin, ketekunan, keberanian, rasa percaya diri dan kebanggaan menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Ratusan anak muda pernah merasakan sentuhan tangannya. Banyak di antara mereka yang mungkin dahulu hanya mengenal drum sebagai alat musik, tetapi kemudian menemukan jalan hidup melalui musik karena pernah ditempa olehnya.
Perjalanan pengabdiannya di pemerintahan pun terus bergerak. Ia mengawali baktinya di Biro Umum, kemudian berpindah ke Dinas Pariwisata. Setelah itu dipercaya menjadi Sekretaris Kelurahan Sei Harapan, kemudian Lurah Tiban Lama, hingga akhirnya memimpin Kecamatan Batu Aji.
Jabatan demi jabatan datang. Tanggung jawab semakin besar. Seragam dinasnya semakin menunjukkan perjalanan panjang seorang aparatur negara.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah: darah seninya. WMeja birokrasi tidak pernah berhasil membunuh jiwa seniman di dalam dirinya.
Di tangannya, Bahana Barelang bukan sekadar kelompok marching band. Ia menjadikannya sekolah kehidupan.
Ketukan drum menjadi latihan disiplin. Barisan menjadi pelajaran tentang kebersamaan. Kesalahan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan panggung menjadi tempat anak-anak muda belajar bahwa keberhasilan tidak datang hanya karena bakat, tetapi melalui latihan panjang, keringat dan kemauan untuk tidak menyerah.
Kecintaannya kepada musik kemudian menemukan ruang yang lebih luas melalui Jazz Mangrove, wadah eksplorasi musik jazz di Batam.
Di sana tampak sisi lain Adi Harnus: romantis, dinamis dan penuh rasa.
Ia memahami bahwa jazz, seperti kehidupan, tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ada improvisasi, ada kejutan, ada kesalahan yang justru dapat berubah menjadi keindahan ketika dimainkan dengan hati.
Ia mungkin bukan orang yang paling pandai bernyanyi. Namun ketika berhadapan dengan partitur, keyboard, saxophone dan aransemen, seolah ada dunia lain yang terbuka di hadapannya.
Berjam-jam ia dapat duduk dalam konsentrasi yang dalam, menekan tuts keyboard, membaca notasi, atau meniup saxophone dengan alunan syahdu.
Dari ketekunan itulah lahir berbagai karya, termasuk lagu tema Kenduri Seni Melayu yang pernah dikenal luas.
Dari Bahana Barelang yang diasuhnya pula lahir banyak musisi hebat yang kemudian menghiasi panggung-panggung musik Batam.
Tetapi karya terbesar seorang guru barangkali bukanlah lagu yang ia ciptakan, melainkan manusia-manusia yang tumbuh setelah pernah berada di bawah bimbingannya.
Dan Adi meninggalkan banyak manusia seperti itu.
Salah satu perjalanan yang tidak mungkin dilupakan adalah ketika Bahana Barelang tampil dalam panggung Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional di Pekanbaru pada 1994.
Setahun kemudian, anak-anak Batam melangkah tegap dalam Parade Senja di Istana Negara pada 1995.
Bagi sebuah kelompok yang ditempa dari kota yang sedang bertumbuh, pencapaian itu bukan perkara kecil.
Ada nama Batam yang dibawa ke panggung nasional. Ada kebanggaan yang ditanamkan ke dalam dada anak-anak muda yang kala itu mungkin belum memahami betapa jauh langkah mereka akan membawa nama kotanya.
Kemudian datang malam yang menjadi salah satu puncak perjalanan itu.
Malam puncak MTQ Nasional ke-25 tahun 2014 di Batam.
Ribuan pasang mata menjadi saksi ketika seorang birokrat berdiri dengan tongkat konduktor di tangannya. Di hadapannya berdiri sebuah orkestra megah.
Di panggung terdengar suara besar seperti Sam Bimbo, Vidi Aldiano dan Ebiet G. Ade. Musik religi mengalun teduh, menyusup perlahan ke ruang batin siapa saja yang mendengarnya.
Bahkan Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, turut menjadi bagian dari malam bersejarah tersebut.
Di bawah sorot lampu panggung, mungkin orang hanya melihat seorang konduktor yang menggerakkan tongkat mengikuti irama.
Namun di balik gerakan itu ada puluhan tahun perjalanan. Ada latihan yang tidak terhitung, malam-malam panjang, kegagalan, keringat dan kesetiaan pada dunia musik yang tidak pernah ia tinggalkan.
Kemampuannya membaca dan menerjemahkan partitur not balok juga melahirkan aransemen lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi yang tampil dalam parade defile malam itu.
Musik menjadi bahasa yang mempertemukan begitu banyak warna Indonesia dalam satu panggung.
Namun setiap panggung megah selalu memiliki sisi lain yang jarang terlihat.
Di balik gemerlap lampu, tepuk tangan dan kemegahan pertunjukan, ada masa-masa sederhana yang justru paling sulit dilupakan.
Saya mengenal Adi dalam suka dan duka yang sangat dekat.
Kami pernah duduk di pinggir lapangan setelah berjam-jam latihan, berbagi sebungkus nasi yang sama. Ada masa ketika anggaran belum turun. Perut lapar, tenggorokan kering, tetapi latihan tetap berjalan.
Kadang kami hanya bisa meneguk air putih untuk mengusir haus, lalu kembali berdiri dan bekerja.
Kami juga pernah mengalami hari ketika kedisiplinan diuji dengan cara yang tidak menyenangkan.
Pernah sebuah instansi memarahi kami habis-habisan karena terlambat datang membawa pasukan marching band. Di depan umum kami ditegur keras oleh pimpinannya.
Saat itu kami hanya bisa diam.
Namun setelah semua selesai, teguran itu tidak kami jadikan alasan untuk berhenti. Justru menjadi bahan bakar untuk tampil lebih baik.
Begitulah Adi.
Ia tidak mudah runtuh hanya karena satu kegagalan. Ia tahu setiap perjalanan memiliki hari buruk, dan manusia harus belajar berdiri kembali setelah jatuh.
Yang mengagumkan, semua itu berlangsung tanpa membuat pekerjaannya sebagai birokrat terbengkalai.
Malamnya ia bisa menghabiskan waktu bersama nada, melodi, anak-anak marching band dan teman-teman musisi. Ketika pagi datang, ia kembali mengenakan seragam sebagai aparatur negara dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Dua dunia itu berjalan beriringan dalam dirinya, bukan saling mengalahkan.
Mungkin di situlah keistimewaan Adi Harnus.
Ia adalah birokrat yang tidak kehilangan rasa sebagai manusia.
Di luar pemerintahan dan musik, ia juga gemar mengabadikan kehidupan melalui kamera.
Sesekali ia menyandang kamera, berjalan dari satu sudut Batam ke sudut lainnya, menangkap wajah kota melalui lensa.
Seperti seorang seniman yang tidak pernah kehabisan cara mencari keindahan, ia melihat Batam bukan sekadar bangunan, jalan dan kawasan industri, tetapi juga manusia, cahaya, ruang dan kehidupan yang bergerak di dalamnya.
Ia juga dikenal mudah bergaul.
Tidak ada jarak yang terlalu tinggi untuk membuatnya enggan menyapa. Ia bisa duduk bersama musisi, berbicara dengan sesama birokrat, bercanda dengan anak-anak muda dan berbaur dengan masyarakat.
Jabatan tidak pernah membuatnya merasa lebih tinggi dari orang lain.
Mungkin karena itu pula, ketika kabar duka datang, begitu banyak orang merasa kehilangan.
Hampir lima bulan ia berjuang melawan rasa sakit. Tidak banyak keluhan yang ia tunjukkan. Ia menjalaninya dengan ketabahan hingga akhirnya Sang Khalik memanggilnya pulang.
Kabar itu datang dari rumah duka di Tiban, Sekupang.
Seperti alunan musik yang perlahan mengumpulkan nada, orang-orang datang satu demi satu. Mantan anggota Bahana Barelang yang kini telah berkeluarga dan memiliki anak, para musisi yang pernah ditempa olehnya, teman-teman sepermainan ketika jamming, rekan-rekan birokrat, tetangga, sahabat dan handai taulan, semuanya datang memberikan penghormatan terakhir.
Ada orang-orang yang dahulu masih anak-anak ketika pertama kali mengenal Adi. Kini mereka telah dewasa. Sebagian telah menjadi orang tua, sebagian telah memiliki karier sendiri.
Namun di hadapan jenazah gurunya, mereka kembali menjadi anak-anak yang pernah berdiri dalam satu barisan, menunggu aba-aba, menghitung ketukan dan belajar arti disiplin.
Air mata yang jatuh di rumah duka hari itu mungkin adalah penghargaan paling tulus yang pernah diterima seorang manusia.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai. Seragam akan dilepas. Ruang kerja akan ditempati orang lain. Meja seorang camat akan kembali digunakan untuk urusan baru. Nama di pintu kantor akan berganti.
Namun kebaikan yang pernah diberikan kepada manusia lain tidak pernah benar-benar mati.
Kini nada terakhir sang pelatih telah dimainkan.
Tongkat konduktor telah diletakkan.
Keyboard telah sunyi.
Saxophone telah berhenti mengalunkan nada.
Meja kerja sang camat telah rapi. Langkah kaki yang dahulu begitu akrab menyusuri jalan-jalan Batam kini telah berhenti untuk selamanya.
Namun ketika seorang manusia pergi, karya-karyanya justru menemukan kehidupan yang lebih panjang.
Ketukan irama Bahana Barelang akan terus hidup di tangan generasi yang pernah ditempanya. Musik yang pernah ia aransemen akan terus dimainkan. Anak-anak muda yang dahulu ia didik akan membawa pelajaran tentang disiplin dan keberanian ke dalam kehidupan mereka.
Setiap kali sebuah nada dimainkan dengan penuh penghayatan, mungkin akan ada seseorang yang teringat kepada lelaki sederhana yang dahulu mengajarkan bagaimana sebuah nada ditempatkan agar menjadi harmoni.
Adi Harnus telah menyelesaikan perjalanan panjangnya.
Ia datang ke Batam sebagai seorang anak muda pada 1993 dengan membawa mimpi. Melewati hari-hari sederhana sebagai tenaga honorer. Membangun Bahana Barelang. Tumbuh menjadi aparatur negara. Dipercaya memimpin masyarakat. Tetap menjadi musisi, pelatih, fotografer dan sahabat.
Ia menanamkan sesuatu kepada begitu banyak orang.
Dan akhirnya, ia pulang kepada Tuhan dengan meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus oleh waktu.
Barangkali hidup memang seperti sebuah komposisi musik.
Ada nada tinggi dan nada rendah. Ada bagian yang riuh, ada bagian yang sunyi. Ada jeda panjang yang membuat kita bertanya-tanya, lalu ada nada terakhir yang menutup seluruh komposisi.
Kini nada terakhir itu telah dimainkan oleh Adi Harnus.
Kita hanya bisa mengucapkan selamat jalan.
Selamat jalan, Pak Adi.
Beristirahatlah dengan tenang di tanah Batam yang dahulu menyambut langkahmu, tempat engkau menanam begitu banyak mimpi dan pengabdian.
Semoga segala kebaikan yang pernah engkau tanam menjadi cahaya dalam perjalananmu menuju keabadian.
Untuk istri tercinta, empat puteri dan seorang putera yang ditinggalkan, semoga ketabahan menyertai setiap langkah.
Kehilangan seorang suami dan ayah tidak akan pernah mudah. Namun lelaki yang kalian cintai itu tidak benar-benar pergi. Ia hidup dalam kenangan, karya, doa, dan terutama dalam begitu banyak manusia yang pernah disentuh kebaikannya.
Untuk kami yang pernah berdiri di sampingnya, mungkin suatu hari nanti ketika sebuah drum ditabuh, ketika saxophone mengalun di sebuah malam yang sunyi, atau ketika barisan anak-anak muda melangkah tegap dalam satu irama, kami akan berhenti sejenak.
Kami akan teringat kepadamu.
Seorang birokrat yang berhati seniman.
Seorang pelatih yang mengajarkan lebih dari sekadar musik.
Seorang sahabat yang pernah berbagi nasi di pinggir lapangan ketika keadaan sedang sulit.
Seorang lelaki yang datang ke Batam membawa mimpi, lalu pergi meninggalkan karya.
Selamat jalan, Adi Harnus.
Tiupan saxophone terakhirmu memang telah berhenti terdengar, tetapi musikmu belum selesai.
Ia akan terus dimainkan oleh waktu, oleh anak-anak yang pernah kau didik, oleh sahabat-sahabat yang pernah berjalan bersamamu, dan oleh kota yang pernah begitu engkau cintai.
Tanah Batam kini memelukmu.
Semoga langit menerima langkahmu dengan penuh cahaya.
Selamat jalan, sahabat.
Jasamu untuk Batam tidak selesai bersama kepergianmu. Ia akan tinggal, tumbuh dan bergema selama masih ada orang-orang yang mengingat kebaikanmu.
Batam, 19 Agustus 2026
Rekanmu,
Buralimar. (*)














