Batam-(NagoyaPos.Com)- Generasi Z tumbuh di tengah dunia yang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Informasi datang tanpa henti, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, sementara teknologi semakin masuk ke hampir seluruh sisi kehidupan.
Di balik kemudahan itu, muncul persoalan lain yang tak kalah serius. Anak-anak muda semakin mudah terdistraksi, kesulitan menemukan identitas, mengalami kegelisahan hingga kehilangan ruang untuk berinteraksi secara mendalam dengan lingkungan sekitarnya.
“Dunia hari ini berubahnya semakin cepat, bukan lagi lompatan tapi ledakan. Anak-anak terjebak karena ketergantungan, itu menjadi satu tantangan yang besar untuk kita semua,” ujar Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sulthan Thaha Saifuddin (UIN Sutha) Jambi, Prof. Iskandar Nazari, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D., dalam podcast Ruang Bicara.
Iskandar melihat persoalan tersebut tidak semata-mata sebagai persoalan teknologi. Yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya ketika berhadapan dengan arus informasi dan perubahan yang begitu cepat.
Menurut dia, tekanan psikologis pada generasi muda kerap berlangsung tanpa terlihat. Mereka bisa berada di tengah keramaian, aktif di media sosial, berkomunikasi dengan banyak orang, tetapi pada saat yang sama menghadapi kegelisahan seorang diri.
Kondisi itu semakin rumit karena anak-anak muda hidup dalam kepungan informasi. Setiap hari, ratusan bahkan ribuan informasi dapat masuk melalui gawai dan berbagai platform digital.
Masalahnya bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana memilah, memahami dan mengolah informasi tersebut.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk fokus menjadi tantangan. Ketika anak muda sedang mencari jati diri, terlalu banyak referensi justru dapat membuat mereka kehilangan arah.
“Ketika mereka mencari identitas sehingga mereka kehilangan identitas, dan itu memengaruhi psikologis anak-anak,” katanya.
Iskandar juga menyoroti perubahan orientasi pendidikan di tengah generasi yang tumbuh dalam budaya serba cepat.
Keinginan mendapatkan hasil terbaik dengan proses seminimal mungkin, menurut dia, menjadi salah satu gejala yang perlu diperhatikan. Anak tidak lagi selalu melihat pendidikan sebagai proses membangun pengetahuan, karakter dan kedewasaan, tetapi dapat terjebak pada pencapaian angka dan hasil akhir.
Ia mengibaratkan seorang siswa yang menginginkan ujian mudah tetapi memperoleh nilai tinggi. Persoalannya, ketika orientasi tersebut semakin kuat, substansi pendidikan justru berpotensi hilang.
Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya mengolah kemampuan berpikir. Ada aspek emosional, moral, sosial dan spiritual yang ikut membentuk manusia.
“Pendidikan kita mengolah akal, tapi kita tidak sadar. Kesadaran itu yang menjauh dari kehidupan saat ini sehingga menghantam mental kita,” ujarnya.
Meski mengkritisi dampak ketergantungan teknologi, Iskandar tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Menurut dia, tantangannya justru bagaimana manusia tetap menjadi pengendali teknologi. Teknologi harus menjadi alat yang membantu manusia berkembang, bukan sebaliknya manusia yang seluruh perilakunya dibentuk oleh teknologi.
Ketika komunikasi berlangsung semakin instan, ruang untuk percakapan yang mendalam juga semakin menyempit. Anak muda terbiasa berinteraksi melalui layar, tetapi belum tentu mendapatkan pengalaman yang cukup untuk membaca ekspresi, emosi dan perasaan orang lain secara langsung.
Dari sinilah persoalan empati menjadi penting.
“Gen Z kepintarannya luar biasa, tapi dalam praktik perilakunya itu yang manipulatif. Mereka tidak siap dengan keadaan sehingga mereka bermain di belakang layar. Komunikasi yang sifatnya instan itu tidak secara total,” katanya.
Iskandar menilai kondisi tersebut tidak bisa dibebankan kepada generasi muda semata. Orangtua, sekolah, perguruan tinggi dan lingkungan sosial memiliki tanggung jawab yang sama.
Orangtua, misalnya, perlu memahami bahwa generasi hari ini tumbuh dengan pola kehidupan yang berbeda. Pola komunikasi, cara mendapatkan informasi hingga cara mereka membangun relasi telah berubah.
Jika perubahan tersebut tidak dipahami, orangtua berpotensi hanya melihat perilaku anak dari permukaannya tanpa memahami persoalan yang ada di baliknya.
Menurut Iskandar, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah melemahnya empati.
Kemampuan manusia memahami perasaan orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Namun, ketika interaksi semakin banyak berlangsung melalui layar dan komunikasi semakin pendek serta instan, kemampuan tersebut menghadapi tantangan baru.
Ia mengingatkan, manusia pada hakikatnya bukan sekadar makhluk yang memiliki kemampuan berpikir. Ada dimensi kemanusiaan yang membuat manusia mampu merasakan, memahami dan memberikan makna terhadap kehidupannya.
Ketika akal berkembang tetapi emosi tidak terkendali, persoalan dapat merembet pada cara seseorang berpikir dan bertindak.
“Kalau emosional itu semakin tak terkendali, itu memengaruhi pikiran dan tingkah laku. Syndrome teknologi tadi masuk ke otak kita sehingga membentuk sikap. Ada yang terlupakan sehingga kita menjadi tidak kuat,” katanya.
Bagi Iskandar, persoalan terbesar pendidikan hari ini bukan semata bagaimana membuat anak semakin pintar.
Yang lebih penting adalah bagaimana kecerdasan tersebut memiliki arah. Pendidikan perlu membantu anak memahami siapa dirinya, bagaimana berhubungan dengan orang lain, bagaimana mengelola emosi, sekaligus bagaimana menggunakan teknologi secara bijaksana.
Sebab, kecerdasan tanpa kesadaran dapat kehilangan arah. Kemampuan mengakses informasi tanpa kemampuan menyaringnya justru dapat menjadi beban.
Karena itu, ia mendorong pendidikan agar tidak terjebak pada pencapaian akademik dan kemampuan teknis semata. “Pendidikan kita hari ini cenderung mati rasa karena ada substansi yang terabaikan,” pungkasnya.
Dalam konteks itulah Ruhiologi yang dikembangkan Iskandar mencoba menawarkan perspektif pendidikan yang lebih holistik. Di tengah dunia yang semakin digital, manusia tetap ditempatkan sebagai pusat pendidikan, bukan sekadar sebagai pengguna teknologi.
Sebab, teknologi boleh semakin pintar. Informasi boleh semakin cepat. Tetapi pendidikan tetap memiliki tugas yang jauh lebih mendasar: memastikan manusia tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah kemajuan zaman. (*)
Reporter : RY














