Batam-(NagoyaPos.Com) – Sebanyak 87 Warga Negara Indonesia (WNI) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dipulangkan dari Malaysia melalui Pelabuhan Batam Center, Jumat (2/10/2026). Mereka diberangkatkan dari Terminal Feri Stulang Laut, Johor, menggunakan kapal feri Pulo Rondo.
Kepulangan tersebut difasilitasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru bekerja sama dengan Depot Tahanan Imigresen (DTI) Pekan Nenas.
Dari jumlah tersebut, 80 WNI/PMI berstatus deportan, sedangkan tujuh lainnya dipulangkan melalui program repatriasi. KJRI Johor Bahru juga memfasilitasi biaya tiket kepulangan seluruhnya.
Para WNI yang dipulangkan terdiri atas 53 laki-laki dan 30 perempuan, termasuk empat anak-anak berusia mulai dua bulan hingga 14 tahun. Salah seorang PMI juga mendapat pendampingan khusus karena dipulangkan dalam kondisi sakit akibat stroke.
Seluruh rombongan berangkat dari Johor menuju Batam melalui jalur laut sekitar pukul 13.45 waktu setempat. Batam menjadi salah satu pintu masuk utama pemulangan WNI dari Semenanjung Malaysia selain Dumai, Riau, dan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara.
Ketua Satuan Tugas Perwakilan Pelindungan Terpadu (Satgas PPT) sekaligus Pelaksana Fungsi Konsuler 1 KJRI Johor Bahru, Debbi Oktarossa, berharap para WNI dapat segera kembali berkumpul dengan keluarga dalam kondisi selamat.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri agar menggunakan jalur resmi untuk menghindari persoalan hukum maupun risiko lainnya selama berada di negara tujuan.
“Pengalaman ini harus menjadi pengingat bagi kita bahwa niat bekerja di luar negeri harus ditempuh melalui jalur yang resmi, aman, dan terjamin pelindungannya,” kata Debbi.
Masyarakat yang berencana bekerja ke luar negeri juga diminta mencari informasi melalui instansi resmi, seperti Dinas Tenaga Kerja kabupaten/kota, BP3MI, maupun Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI).
Sepanjang 2026 hingga saat ini, KJRI Johor Bahru mencatat telah memfasilitasi deportasi 4.561 WNI/PMI serta repatriasi 182 WNI/PMI.
Jawa Timur menjadi daerah asal dengan jumlah deportan paling banyak dalam catatan tersebut. (*)
Reporter : RY












