<
Batam  

Data Center Diduga Picu Krisis Air di Nongsa Batam, Meutya Hafid: Jangan Ganggu Layanan Publik

Data Center Diduga Picu Krisis Air di Nongsa Batam, Meutya Hafid: Jangan Ganggu Layanan Publik
Menkomdigi Meutya Hafid menyoroti keberadaan Data Center dan krisis air di Batam (ist)

Batam, Nagoyapos.com – Persoalan air yang dikeluhkan warga di kawasan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, turut mendapat perhatian Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid. Ia menegaskan pembangunan pusat data (data center) harus memperhitungkan kebutuhan dasar masyarakat, terutama ketersediaan air dan energi.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya setelah muncul keluhan warga Nongsa yang menyebut pasokan air di permukiman mereka mengalami gangguan selama berbulan-bulan.

Di tengah persoalan itu, keberadaan sejumlah data center di Batam turut ditengarai berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan air di kawasan tersebut.

Meutya mengatakan Indonesia memang membutuhkan infrastruktur data center seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dan meningkatnya kebutuhan komputasi. Namun, pembangunan fasilitas tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukung wilayah dan kebutuhan masyarakat.

“Kalau data center begini, tentu harus dicari balancing-nya. Jadi kita tentu punya kebutuhan, kemampuan komputasi yang tentu memerlukan data center. Tapi di saat yang bersamaan, tentu kita harus melihat kecukupan energi, terganggu untuk hal-hal lain, terutama layanan publik. Tidak boleh juga kebutuhan air terganggu,” kata Meutya kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).

Data Center Batam Diminta Tak Ganggu Air Warga

Menurut Meutya, kebutuhan pembangunan data center tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan infrastruktur pendukung lainnya, seperti jaringan internet, energi dan sumber air.

Karena itu, perencanaan pembangunan pusat data harus melibatkan berbagai sektor agar kebutuhan industri digital tidak berbenturan dengan kebutuhan masyarakat.

Ia mengatakan regulasi terkait pembangunan data center saat ini belum seragam di setiap wilayah. Kondisi tersebut membuat koordinasi antarpemangku kepentingan menjadi penting sebelum izin pembangunan diberikan.

“Jadi perlu dihitung kebutuhan akan komputasi, jaringan internet, dan lokasi, serta kebutuhan masyarakat akan energi dan air,” ujarnya.

Meutya menegaskan pertumbuhan ekonomi digital dan industri kreatif tetap perlu didorong. Namun, pembangunan infrastruktur digital tidak boleh membuat kebutuhan dasar masyarakat terabaikan.

“Bagaimana ekonomi kreatif digital tetap tumbuh, tapi air terjaga, energi tetap terjaga,” ungkapnya.

Penentuan Lokasi Data Center Jadi Perhatian

Meutya menyebut persoalan keseimbangan antara kebutuhan industri digital dan kebutuhan masyarakat tidak hanya menyangkut kapasitas data center, tetapi juga lokasi pembangunannya.

Menurut dia, lokasi menjadi faktor penting agar operasional pusat data tidak menimbulkan gangguan terhadap pasokan air maupun energi yang digunakan masyarakat.

“Namun, penentuan lokasi akan sangat penting, tidak boleh mengganggu kebutuhan air di situ, dan juga kebutuhan energi di situ. Kemudian juga, yang penting masyarakat kebutuhannya tidak perlu diganggu, tapi di sisi lain, juga kebutuhan komputasinya,” tegasnya.

Polemik Data Center Juga Terjadi di Daerah Lain

Persoalan penggunaan sumber daya untuk pembangunan data center sebelumnya juga muncul di wilayah lain. Salah satunya terkait proyek data center AI milik BDX di Jatiluhur, Jawa Barat, yang dihentikan sementara pemerintah daerah karena sejumlah persyaratan perizinan belum tersedia.

Persoalan serupa juga menjadi perhatian di sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat dan kawasan Eropa. Pembangunan pusat data berskala besar mendapat sorotan karena kebutuhan listrik dan airnya yang tinggi.

Bagi Indonesia, Meutya menilai kebutuhan data center tetap akan meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital, teknologi kecerdasan buatan (AI), serta kebutuhan komputasi yang semakin besar.

Namun, perkembangan tersebut harus diiringi perencanaan yang matang agar pembangunan infrastruktur digital tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.

Persoalan air di Nongsa Batam pun menjadi salah satu contoh pentingnya keseimbangan tersebut. Pemerintah diharapkan dapat memastikan ekspansi data center berjalan seiring dengan jaminan ketersediaan air dan energi bagi masyarakat.

Dengan demikian, pertumbuhan industri digital dapat terus berlangsung tanpa mengganggu layanan publik dan kebutuhan dasar warga di sekitar kawasan pembangunan data center.

RM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *