<
Batam  

Dermaga Modern, Keselamatan Jangan Tertinggal

Catatan Ketua PWI Batam, Muhammad Khafi Anshary

Aktivitas di kawasan Dermaga JT Timur, Pelabuhan Batu Ampar, Batam. Insiden mobil tercebur ke laut yang menewaskan seorang pengemudi menjadi pengingat bahwa modernisasi pelabuhan harus diiringi pengawasan akses, penguatan sistem pengamanan, dan penerapan standar keselamatan yang ketat.

Ada ironi yang kadang berlabuh di pelabuhan kita: peralatan bongkar muat semakin canggih, kapasitas terminal terus ditingkatkan, dan cita-cita menjadi gerbang logistik internasional kian lantang diumumkan. Namun, sebuah mobil yang tercebur ke laut di kawasan Dermaga JT Timur, Pelabuhan Batu Ampar, Batam, mengingatkan kita bahwa di balik gemuruh modernisasi, keselamatan manusia tidak boleh kehilangan tempat.

Dalam peristiwa yang diberitakan sejumlah media pada 20 Oktober 2026 itu, seorang pengemudi dilaporkan meninggal dunia, sementara penumpangnya berhasil diselamatkan. Keterangan awal menyebutkan kendaraan diduga memasuki kawasan melalui akses yang tidak semestinya. Penyebab pasti dan rangkaian kejadian tetap harus diserahkan kepada pemeriksaan pihak berwenang.

Kita tidak hendak mendahului penyelidikan, apalagi menunjuk hidung siapa pun sebelum fakta benar-benar terang. Namun, satu nyawa yang hilang sudah cukup menjadi alasan bagi semua pihak untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, lalu memeriksa kembali sistem keselamatan yang seharusnya melindungi setiap orang.

Sebab, di pelabuhan, kecelakaan bukan sekadar perkara kendaraan yang kehilangan kendali. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk menguji apakah pengaturan akses, pengawasan, rambu peringatan, penerangan, pembatas fisik, dan prosedur keselamatan telah berjalan sebagaimana mestinya.

Modernisasi Pelabuhan Batu Ampar patut diapresiasi. Tetapi keselamatan tidak boleh sekadar menjadi penumpang gelap dalam perjalanan pembangunan.

Kita mengakui langkah BP Batam dalam mengembangkan Pelabuhan Batu Ampar sebagai terminal peti kemas modern. Pembaruan fasilitas, penguatan peralatan bongkar muat, peningkatan kapasitas, dan upaya mengintegrasikan operasional merupakan bagian penting dari ikhtiar meningkatkan daya saing logistik Batam.

Bagi kota industri yang hidup dari perdagangan dan konektivitas maritim, pelabuhan bukan sekadar tempat kapal singgah. Ia adalah urat nadi ekonomi, pintu keluar-masuk barang, serta simpul yang menghubungkan Batam dengan jaringan perdagangan nasional dan internasional.

Karena itu, modernisasi harus kita dukung. Tetapi dukungan bukan berarti menutup mata terhadap risiko. Apresiasi bukanlah surat pembebasan dari kewajiban melakukan evaluasi.

Jangan sampai kita terlalu bersemangat menghitung berapa banyak peti kemas yang dapat dipindahkan dalam satu jam, tetapi lupa menghitung berapa banyak kemungkinan bahaya yang harus dicegah dalam satu hari.

Sedikit sarkasme mungkin perlu kita sisipkan: jangan sampai alat-alat pelabuhan sudah berstandar masa depan, sementara cara kita menjaga keselamatan masih berharap pada keberuntungan.

Dermaga merupakan kawasan dengan risiko tinggi. Kapal, kendaraan, alat berat, pekerja, dan berbagai aktivitas operasional bertemu dalam ruang yang menuntut disiplin ketat. Kesalahan kecil dapat berakibat besar, terlebih ketika aktivitas berlangsung di dekat perairan terbuka.

Jika benar terdapat kendaraan yang memasuki kawasan melalui akses yang tidak semestinya, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa pengemudi melakukan itu. Kita juga perlu memastikan bagaimana akses tersebut dikendalikan, apakah pembatas dan rambu berfungsi, bagaimana sistem pengawasan bekerja, serta apakah ada celah yang perlu segera diperbaiki.

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Kritik bukan permusuhan. Meminta evaluasi bukan berarti menafikan kerja keras pihak yang sedang membangun.

Justru pengelola yang profesional seharusnya tidak alergi terhadap pertanyaan. Sebab, keselamatan tidak dibangun dengan keyakinan bahwa kecelakaan tidak akan terjadi, melainkan dengan kesadaran bahwa risiko selalu ada dan harus dikendalikan.

International Labour Organization (ILO), melalui pedoman Safety and Health in Ports: Revised 2016, menekankan pentingnya pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja dalam berbagai kegiatan pelabuhan. Sementara itu, SOLAS mengatur aspek keselamatan jiwa di laut dan ISPS Code berfokus pada keamanan kapal serta fasilitas pelabuhan dari ancaman keamanan sesuai ruang lingkupnya. Seluruh rujukan tersebut perlu ditempatkan secara tepat bersama peraturan nasional dan prosedur keselamatan yang relevan.

Artinya, pelabuhan modern tidak cukup hanya memiliki teknologi mutakhir. Ia membutuhkan sistem yang memastikan teknologi, manusia, prosedur, dan pengawasan bekerja dalam satu kesatuan.

BP Batam bersama operator terminal dan instansi berwenang perlu menjadikan insiden ini sebagai momentum evaluasi yang serius. Pemeriksaan hendaknya mencakup kesesuaian pengendalian akses, pemisahan jalur kendaraan, pengamanan tepian dermaga, kesiapan petugas, serta efektivitas prosedur tanggap darurat. Audit keselamatan independen juga patut dipertimbangkan apabila diperlukan berdasarkan hasil evaluasi awal.

Tentu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa insiden ini membuktikan kegagalan sistem keselamatan seluruh terminal. Lokasi kejadian, fungsi dermaga, pola operasional, dan faktor penyebabnya harus diperiksa secara spesifik. Namun, tidak pula bijaksana jika dugaan pelanggaran akses membuat evaluasi terhadap sistem pengamanan dianggap tidak lagi diperlukan.

Dalam budaya keselamatan yang baik, kesalahan manusia tidak otomatis menghapus kewajiban untuk memeriksa sistem. Sebaliknya, pemeriksaan sistem juga tidak berarti setiap kesalahan harus dibebankan kepada pengelola. Fakta harus dipisahkan dari asumsi, dan tanggung jawab ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai Ketua PWI Batam, saya memandang bahwa pers memiliki peran penting dalam mengawal pembangunan seperti ini. Tugas pers bukan sekadar memberitakan kecelakaan ketika sirene berbunyi, kendaraan tercebur, atau korban berjatuhan. Pers juga berkewajiban mengingatkan publik dan pemangku kepentingan bahwa pembangunan harus diukur dari manfaat, akuntabilitas, dan perlindungan terhadap manusia.

Pemberitaan yang kritis tidak semestinya dianggap sebagai gangguan terhadap investasi. Sebaliknya, transparansi dan keselamatan yang terjaga merupakan modal penting bagi kepercayaan publik dan reputasi pelabuhan itu sendiri.

Kita ingin Batu Ampar tumbuh menjadi pelabuhan yang diperhitungkan. Kita ingin kapal-kapal datang dengan pelayanan yang efisien, barang bergerak dengan lancar, dan investasi tumbuh dengan kepastian. Namun, kita juga ingin setiap pekerja menyelesaikan tugasnya tanpa dihantui risiko yang semestinya bisa dicegah, dan setiap orang yang berada di kawasan pelabuhan terlindungi oleh sistem yang layak.

Sebab, ukuran kemajuan tidak hanya terletak pada panjang dermaga, kecanggihan alat, atau besarnya nilai investasi. Ukuran kemajuan juga terletak pada kemampuan mencegah kecelakaan, keberanian mengakui celah keselamatan, dan kesungguhan memperbaikinya.

Kita boleh membangun dermaga yang menjulang ke masa depan. Kita boleh mengejar efisiensi kelas dunia. Tetapi jangan biarkan keselamatan tertinggal di dermaga masa lalu.

Pelabuhan yang hebat bukan hanya pelabuhan yang mampu mengirim barang lebih cepat, melainkan pelabuhan yang memastikan manusia tidak menjadi harga yang harus dibayar demi kecepatan.

Karena pada akhirnya, modernisasi boleh membuat pelabuhan semakin sibuk. Namun, jangan sampai kesibukan itu membuat kita terlambat menyadari arti sebuah nyawa. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *