Batam  

Puluhan Fotografer Batam dan Tanjung Pinang, Hadiri Bincang Santai Dengan Firdaus Fadli Fotografer Senior Majalah HAI 

Nagoyapos – Nama Firdaus Fadlil mungkin sudah tak asing lagi untuk fotografer profesional di Indonesia dan Dunia, fotografer musik legendaris era analog, ternyata lahir di Pulau Buluh pada 31 Oktober 1961. Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah, mulai dari Sagulung hingga Tanjung Pinang saat duduk di bangku sekolah dasar di Pulau Sambu. Identitas dan perjalanan pendidikannya pun tak biasa, hingga akhirnya menamatkan SMA di Jakarta dan melanjutkan studi Sastra Rusia di Universitas Indonesia selama tujuh tahun.

Kecintaannya pada dunia visual bermula, dari rasa penasaran terhadap kamera. Fotografi awalnya hanya hobi, namun perlahan menjadi jalan hidup. Di era ketika teknologi masih terbatas, Firdaus belajar secara otodidak, memahami kamera melalui brosur, kotak kemasan kamera, dan eksperimen langsung di lapangan sejak 1989.

Example 300x600

Nama Firdaus Fadlil lekat dengan Majalah HAI, tempat ia berkarya dari 1995 hingga 2014. Saat itu, fotografi masih sepenuhnya analog. Kamera belum otomatis seperti sekarang, pengaturan diafragma dan kecepatan rana sering diabaikan, dan Photoshop belum dikenal. Segala proses mengandalkan insting, cahaya, dan pengalaman.

Dalam dunia foto panggung, Firdaus banyak belajar dari kegagalan. Namun justru dari kesalahan-kesalahan itulah lahir karya-karya luar biasa. Ia harus pintar membaca sinar lampu, pergerakan musisi, hingga membedakan sudut pengambilan foto antara kebutuhan panggung dan kepuasan penonton.

Pengalamannya mendokumentasikan festival musik kelas dunia seperti Woodstock 1994 dan 1999 menjadi catatan bersejarah. Foto karyanya bahkan dijadikan sampul album kaset band Mr. Big dengan nilai mencapai 1.000 dolar, serta empat album live musik hard rock. Karyanya juga menampilkan gitaris Sepultura dan digunakan hingga delapan kali dalam buku Woodstock, bahkan mendapat komentar langsung dari drummer Metallica di media sosial.

Di dalam negeri, Firdaus juga dikenal lewat karya-karya ikoniknya untuk sampul kaset dan album band lokal maupun nasional, seperti Dewa 19, Slank, Sheila On 7, D’Masiv, Samson, Iwan Fals, hingga Glenn Fredly dan banyak lainnya. Baginya, foto musik adalah kewajiban visual yang harus selalu hadir dan bercerita.

Firdaus menyoroti persoalan hak cipta di masa lalu. Ia mengungkapkan, foto-foto yang dibeli pada era itu sering kali tidak sepenuhnya menjadi milik fotografer. Isu copyright belum dianggap penting, bahkan oleh media besar. “Sekitar 300 artis luar negeri pernah saya foto, tapi saat itu hak intelektual nyaris tak diperhatikan,” ujarnya. Setelah Majalah HAI tutup pada 2017, hanya sekitar 25 persen arsip yang terselamatkan.

Menurut Firdaus, memotret aksi panggung membutuhkan kesabaran dan strategi. Momen terbaik biasanya muncul di akhir konser, saat vokalis atau personel band melakukan aksi pamungkas. Kunci utama adalah memahami posisi frontman, membaca gerak personel, serta mematuhi aturan manajemen artis.

“Jepret saja sebanyak-banyaknya, masa dari sekian banyak jepretan nggak ada satu pun yang jadi?” ujar Firdaus, yang menjadikan filosofinya hingga saat ini.

Firdaus menyampaikan kisah dan pengalamannya saat ditemui di Roemah Kita, Ruko Komplek Duta Mas, Selasa (16/12), sambil berbagi inspirasi dengan para fotografer hobi di Batam dan Tanjung Pinang. Selama pertemuan, fotografer pemula, berbagai komunitas dan Pewarta Foto Indonesia ( PFI) Kepri juga hadir selama acara hingga tengah malam.

Firdaus mengakui, jenjang karirnya ini hingga mendapatkan foto-foto hebat diawali sejak masuk ke dunia Jurnalistik dan hingga ini dikalangan Fotografer Nasional ia dicap sebagai Fotografer panggung yang memiliki karakter. Hal itu juga diakui oleh Oscar Motuloh mantan Direktur galery foto jurnalistik antara (GFJA).

“Kita biasa panggil di Daus dan karyawan panggungnya sudah tidak diragukan lagi, karena saya kenal betul dengan Daus,” kata Oscar, saat ditanyai tentang perjalanan karir Firdaus.

Dengan adanya pertemuan ini, penggagas acaranya salah satu anggota PFI Kepri yaitu Rezza Herdiyanto dan Bintang Mahasiswa ISI Djogjakarta, sangat bermanfaat bagi peserta yang hadir dan banyak mendapatkan ilmu Fotografi dari Firdaus. Baik cara memfoto yang baik dan benar, etika saat memotret dan juga tampilan foto-foto hebat Firdaus yang akhirnya banyak digunakan oleh artis mancanegara dan juga Indonesia.  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *