Batam-(NagoyaPos.Com) – Nasionalisme Indonesia tidak lahir dalam satu malam pada 17 Agustus 1945. Ia tumbuh melalui perjalanan panjang, dari kesadaran kebangsaan yang berkembang sejak awal abad ke-20 hingga ikrar para pemuda pada 1928 yang meneguhkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Kesadaran itu kemudian menemukan puncaknya dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kemerdekaan diraih dengan perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan nyawa para pendahulu bangsa.
Namun, 81 tahun setelah Proklamasi, medan perjuangan telah berubah.
Tidak ada lagi penjajah bersenjata yang datang dengan senapan. Tidak terdengar dentuman meriam di jalan-jalan kota. Yang dihadapi generasi hari ini justru layar gawai, arus informasi tanpa batas, media sosial, serta berbagai persoalan yang dapat menguji persatuan bangsa.
Jika dahulu kemerdekaan dipertahankan dengan senjata, kini ia harus dijaga dengan akal sehat, kejujuran, ilmu pengetahuan, integritas, dan kemampuan merawat persatuan.
Ancaman terhadap bangsa tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Hoaks, ujaran kebencian, provokasi, fanatisme, ketidakjujuran, korupsi, ketidakadilan, hingga rendahnya literasi dapat perlahan menggerogoti fondasi kehidupan berbangsa.
Karena itu, di usia ke-81 Republik Indonesia, sudah waktunya memaknai kembali nasionalisme. Bukan untuk menghapus sejarah, melainkan meneruskan cita-cita para pendahulu dengan cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Nasionalisme tidak pernah usang. Ia hanya berganti bentuk.
Jika dahulu nasionalisme diwujudkan melalui perjuangan bersenjata, hari ini ia dapat hadir dalam bentuk buku yang dibaca dengan tekun, ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh, pekerjaan yang dilakukan dengan jujur, karya yang mengharumkan nama bangsa, serta keberanian menolak kebencian dan perpecahan.
Patriotisme seorang pelajar, misalnya, dapat diwujudkan dengan melawan kemalasan dan mengejar ilmu. Bagi pekerja, patriotisme berarti bekerja dengan jujur meski tidak diawasi. Bagi pengusaha, membangun usaha dengan tetap menjunjung keadilan. Bagi pejabat, memahami bahwa jabatan merupakan amanah, bukan mahkota.
Sementara bagi jurnalis, patriotisme adalah menjaga kebenaran di tengah godaan kepentingan. Bagi pengguna media sosial, patriotisme dapat dimulai dengan menahan jari untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menahan diri dari pernyataan yang dapat memecah belah.
Cinta kepada Indonesia juga tidak seharusnya berhenti sebagai simbol. Mengibarkan Merah Putih, mengenakan atribut kemerdekaan, dan mengikuti upacara merupakan bentuk penghormatan terhadap bangsa. Namun, nasionalisme sesungguhnya diuji ketika tidak ada kamera, tepuk tangan, maupun orang yang mengawasi.
Nasionalisme terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbuat curang tetapi memilih tetap jujur.
Nilai tersebut juga sejalan dengan pesan moral dalam Al-Qur’an Surah As-Saff ayat 2-3 yang mengingatkan agar perkataan sejalan dengan perbuatan. Jika mengaku mencintai Indonesia, kecintaan itu semestinya terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Menjaga persatuan, menghormati perbedaan, tidak menyebarkan hoaks, menaati aturan, membuang sampah pada tempatnya, jujur dalam pekerjaan, menghargai pekerja kecil, hingga membantu usaha masyarakat merupakan bentuk sederhana dari nasionalisme.
Begitu pula dengan mendukung UMKM dan karya anak bangsa. Di balik sebuah produk lokal terdapat perjuangan masyarakat yang sedang membangun kehidupan dan mempertahankan usahanya. Ketika produk lokal tumbuh, ada bagian dari ekonomi masyarakat yang ikut bergerak.
Namun, mencintai produk dan karya bangsa bukan berarti menutup diri dari dunia. Indonesia tetap harus terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan perkembangan global. Generasi Indonesia harus mampu menguasai teknologi, berbahasa asing, serta belajar dari berbagai negara.
Menjadi modern tidak berarti kehilangan jati diri. Menjadi global tidak berarti mencabut akar kebudayaan sendiri.
Indonesia harus mampu tampil sebagai subjek, bukan sekadar pasar atau konsumen. Karya budaya, musik, sastra, kuliner, bahasa, seni, teknologi, ilmu pengetahuan, dan kreativitas anak bangsa harus mampu hadir di panggung dunia.
Para pendahulu bangsa tentu tidak berjuang agar generasi berikutnya hanya hidup dalam romantisme masa lalu. Mereka berjuang agar anak cucunya memiliki masa depan.
Karena itu, Indonesia yang diwariskan kepada generasi hari ini bukan sekadar bahan pidato setiap Agustus. Ia merupakan amanah yang harus diisi dengan keadilan, ilmu pengetahuan, kemakmuran, persaudaraan, dan kehormatan.
Benteng Merah Putih hari ini tidak hanya berada di tangan aparat pertahanan dan keamanan. Benteng itu juga berada pada karakter rakyatnya, kejujuran pemimpinnya, kecerdasan generasinya, serta keteguhan moral masyarakatnya.
Jika karakter bangsa runtuh, kedaulatan dapat tergerus bahkan tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Nasionalisme juga harus dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga. Orang tua tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk mencintai Indonesia. Anak-anak belajar nasionalisme dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Ayah yang jujur dalam bekerja, ibu yang mengajarkan anak menghormati orang lain, serta keluarga yang membiasakan anak meminta maaf ketika bersalah, sesungguhnya sedang membangun karakter warga negara.
Menjadi Indonesia bukan sekadar memiliki kartu identitas, lahir di Nusantara, atau hafal lagu kebangsaan. Menjadi Indonesia adalah kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan, memberi manfaat kepada sesama, dan menjaga agar negeri yang diwariskan kepada kita tidak menjadi lebih buruk ketika kelak diserahkan kepada generasi berikutnya.
Pada usia ke-81 kemerdekaan, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah kita mencintai Indonesia. Hampir semua orang akan menjawab iya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang telah kita lakukan karena cinta itu?
Apa yang telah kita perbaiki? Siapa yang pernah kita bantu? Kebohongan apa yang pernah kita hentikan? Ketidakadilan apa yang pernah kita lawan? Persatuan apa yang telah kita jaga? Ilmu apa yang telah kita kuasai? Dan karya apa yang telah kita lahirkan?
Kemerdekaan tidak pernah benar-benar selesai diperjuangkan. Proklamasi menandai berakhirnya satu bentuk penjajahan sekaligus dimulainya tanggung jawab panjang untuk menjaga kemerdekaan.
Setiap generasi memiliki medan perjuangannya sendiri.
Generasi 1945 mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan. Generasi hari ini harus mempertaruhkan integritas, kecerdasan, kerja keras, dan persaudaraan agar kemerdekaan tidak kehilangan maknanya.
Maka, di usia ke-81 Republik Indonesia, nasionalisme tidak semestinya diukur dari seberapa keras seseorang meneriakkan “Merdeka!”.
Ukurannya adalah seberapa jujur kita bekerja, seberapa tulus kita membantu, seberapa kuat kita menolak kebencian, seberapa berani melawan ketidakadilan, dan seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada sesama.
Jika para pahlawan dahulu menumpahkan darah agar Merah Putih dapat berkibar, tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa di bawah kibaran Merah Putih masih ada harapan, kesempatan untuk belajar, martabat, persaudaraan, dan keadilan.
Itulah salah satu cara paling nyata untuk membalas pengorbanan para pahlawan.
Bukan sekadar mengenang nama mereka, tetapi meneruskan nilai yang mereka perjuangkan.
Pada akhirnya, 81 tahun Republik Indonesia bukan sekadar angka. Ia adalah pertanyaan sejarah kepada setiap generasi: Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan?
Semoga jawabannya bukan hanya sebuah negara yang merdeka secara politik, tetapi bangsa yang terus berjuang membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, ketidakjujuran, kebencian, dan perpecahan.
Sebab mencintai Indonesia bukan tentang seberapa sering kita menyebut namanya. Cinta itu terlihat ketika kita bekerja untuknya, menjaga sesama, merawat lingkungan, menghormati perbedaan, dan melakukan sesuatu yang baik meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.
Itulah nasionalisme yang tidak membutuhkan panggung.
Nasionalisme yang tidak membutuhkan tepuk tangan.
Nasionalisme yang tidak berhenti pada upacara.
Nasionalisme yang hidup dalam tindakan, tumbuh dalam keteladanan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!
Reporter : RY














