<
Batam  

Sekda Firmansyah Ingatkan Mahasiswa: Jangan Hanya Jadi Konsumen, Saatnya Kuasai Ekonomi Digital

Sekda Firmansyah Ingatkan Mahasiswa: Jangan Hanya Jadi Konsumen, Saatnya Kuasai Ekonomi Digital
Sekda Kota Batam, Firmansyah, saat mewakili Wali Kota Batam dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) bertema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin” di Politeknik Negeri Batam, Senin (31/8/2026). (mc batam)

Batam, Nagoyapos.com – Generasi muda Batam didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi harus berani tampil sebagai pencipta inovasi dan pelaku utama dalam perkembangan ekonomi digital.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) bertema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin” di Politeknik Negeri Batam, Senin (31/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman generasi muda, khususnya mahasiswa, terhadap perkembangan teknologi di sektor keuangan yang bergerak semakin cepat.

Firmansyah mengatakan, masyarakat saat ini tengah berada di tengah perubahan besar dalam ekosistem keuangan. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah mengubah berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari transaksi, investasi, pengelolaan aset hingga penciptaan nilai ekonomi baru.

Karena itu, perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), hingga stablecoin harus dipahami secara menyeluruh.

Namun, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi finansial tidak hanya menawarkan peluang besar, tetapi juga memiliki risiko yang harus dipahami sebelum mengambil keputusan.

Jangan Investasi Karena FOMO

Firmansyah secara khusus mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terbawa tren, terutama dalam mengambil keputusan investasi.

“Jangan sampai karena FOMO, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform, maupun legalitasnya,” tegas Firmansyah.

Menurutnya, kemudahan akses terhadap berbagai produk keuangan digital harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan mengambil keputusan secara bijak.

Literasi keuangan menjadi semakin penting di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan semakin banyaknya produk investasi yang dapat diakses hanya melalui telepon genggam.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada di angka 69,57 persen.

Pada kelompok usia 18 hingga 25 tahun, tingkat inklusi keuangan mencapai 95,69 persen dengan tingkat literasi sebesar 73,32 persen.

Sementara itu, pada kelompok pelajar dan mahasiswa, inklusi keuangan tercatat mencapai 92,76 persen, tetapi tingkat literasinya baru 62,72 persen.

“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” ujarnya.

Mahasiswa Batam Harus Jadi Pencipta Inovasi

Firmansyah menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Kemudahan dalam mengakses produk dan layanan keuangan digital tidak boleh membuat generasi muda mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.

Ia berharap mahasiswa Batam mampu mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ekonomi digital.

Mahasiswa, kata dia, tidak boleh berhenti hanya sebagai konsumen teknologi. Generasi muda harus mampu berkembang menjadi pencipta inovasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Saya berharap mahasiswa Batam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pencipta inovasi dan pelaku ekonomi digital,” katanya.

Menurut Firmansyah, Batam memiliki posisi strategis sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan investasi. Potensi tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat daya saing daerah di tengah transformasi ekonomi digital.

Generasi muda Batam diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menciptakan inovasi, membangun usaha, serta menghasilkan nilai ekonomi baru.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perguruan tinggi, dunia industri, serta generasi muda.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Jangan Hanya Ikut Tren

Dalam kesempatan itu, Firmansyah kembali mengingatkan mahasiswa agar tidak sekadar mengikuti sesuatu karena sedang populer.

“Jangan hanya bertanya, apa yang sedang tren. Tetapi bertanyalah, apa yang fundamental, apa risikonya, dan bagaimana teknologi ini bisa menciptakan nilai,” pesannya.

Menurutnya, literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami istilah atau mengenal berbagai produk investasi.

Lebih dari itu, literasi merupakan kemampuan untuk berpikir kritis, memahami risiko, dan mengambil keputusan secara bijak di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Di akhir sambutannya, Firmansyah menyampaikan apresiasi kepada OJK atas terselenggaranya kegiatan Digital Financial Literacy tersebut.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas menambah pengetahuan mahasiswa, tetapi mampu melahirkan generasi muda Batam yang cakap secara digital, matang secara finansial, serta siap mengambil peran dalam ekonomi masa depan.

“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” tutupnya. (r)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *