Batam-(NagoyaPos.Com) – Lebih dari 1.500 orang mengikuti Assessment Pretest yang digelar Ruhiology Institute pada hari pertama pelaksanaan, Kamis (1/10). Asesmen tersebut menjadi bagian dari upaya memetakan kondisi kesejahteraan psikologis dan aspek spiritual masyarakat melalui pendekatan psikospiritual.
Kegiatan ini digelar di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan kesehatan jiwa, seperti stres, kecemasan, kelelahan emosional hingga tekanan yang muncul dari pekerjaan maupun aktivitas akademik.
Pencetus Ruhiologi, Prof. Iskandar Nazari atau Prof. RUHI, turut memantau pelaksanaan asesmen tersebut. Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai lebih dari 1.500 orang menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap kondisi kesehatan mental dan kesejahteraan dirinya.
“Kehadiran lebih dari 1.500 partisipan di hari pertama ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat membutuhkan solusi alternatif yang integratif untuk mengatasi burnout, stres akademik, dan kecemasan emosional,” ujar Prof. Iskandar.
Dalam asesmen tersebut, Ruhiology Institute menggunakan dua instrumen, yakni RQI-15 (Ruhiology Quotient Index) dan WHO-5 Well-Being Index.
WHO-5 merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan subjektif. Sementara RQI-15 diperkenalkan oleh Ruhiology Institute untuk memetakan aspek kecerdasan spiritual dan keterhubungan spiritual seseorang.
Penggunaan kedua instrumen tersebut menjadi bagian dari proses pemetaan yang dilakukan Ruhiology Institute. Data yang terkumpul selanjutnya direncanakan menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
Prof. Iskandar mengatakan pendekatan Ruhiologi berupaya mempertemukan pembahasan mengenai kesehatan mental dengan dimensi spiritualitas Islam.
“Ruhiologi hadir untuk menjembatani kesehatan mental klinis dengan kekuatan spiritualitas Islam,” katanya.
Setelah tahap pretest, peserta direncanakan mengikuti program intervensi terstruktur. Selanjutnya dilakukan post-test untuk melihat perubahan kondisi peserta setelah mengikuti program tersebut.
Sejumlah pendekatan yang diperkenalkan dalam program itu antara lain “Healing with Salat” dan metode keheningan.
Menurut Ruhiology Institute, asesmen tersebut bukan sekadar pengumpulan data, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenali kondisi dirinya. Peserta diajak melihat kembali tingkat kesejahteraan, kondisi emosional serta aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Data dari ribuan peserta nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan riset mengenai pendekatan psikospiritual. Hasil pretest dan post-test akan menjadi bahan untuk melihat perubahan yang terjadi setelah intervensi.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti asesmen secara mandiri, Ruhiology Institute masih menyediakan akses melalui laman resminya.
Prof. Iskandar Nazari merupakan pendiri Ruhiology Institute dan Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Melalui kegiatan tersebut, Ruhiology Institute mendorong perhatian terhadap kesehatan jiwa tidak hanya ketika seseorang menghadapi masalah, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mengenali dan menjaga kesejahteraan diri sejak dini. (*)
Reporter : RY














