Batam-(NagoyaPos.Com) – Pulau Penyengat tidak hanya ingin dilihat sebagai destinasi wisata sejarah. PWI Kepulauan Riau (Kepri) menggagas eksplorasi khusus untuk menggali kembali jejak bahasa Melayu, sastra, tokoh dan tradisi intelektual dari pulau tersebut.
Gagasan itu mengemuka dalam pertemuan pengurus PWI Kepri dengan Gubernur Kepri Ansar Ahmad di Graha PWI Kepri, Batam, Sabtu (3/10). Eksplorasi Penyengat nantinya diarahkan menjadi karya jurnalistik yang dapat dihimpun dalam sebuah buku maupun arsip digital.
Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani mengatakan, wartawan yang ikut dalam kegiatan tersebut tidak sekadar mengunjungi objek wisata. Mereka akan menggali cerita di balik berbagai peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakat di Pulau Penyengat.
“Mahkota seorang jurnalis adalah buku,” tegas Saibansah.
Menurut dia, Penyengat memiliki banyak cerita yang belum tentu selesai hanya dengan tulisan berita harian. Karena itu, para wartawan akan didorong membuat tulisan feature dengan sudut pandang masing-masing.
Cerita yang digali dapat mencakup sejarah Kesultanan Riau-Lingga, tokoh-tokoh Melayu, perkembangan bahasa, sastra, tradisi hingga kehidupan masyarakat Penyengat saat ini.
Pulau tersebut juga memiliki kaitan erat dengan Raja Ali Haji dan karya terkenalnya, Gurindam Dua Belas. Jejak intelektual dan kesusastraan Melayu yang berkembang di Penyengat dinilai memiliki nilai penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Dewan Pakar PWI Kepri Ramon Damora mengatakan kekayaan bahasa dan literatur Melayu di Kepri perlu dikaji serta diperkenalkan lebih luas.
“Perlu ada kajian khusus dan bagaimana Pulau Penyengat semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia bahkan secara global,” ujarnya.
Ramon yang juga menjabat Ketua Departemen Seni, Musik, Film dan Budaya PWI Pusat periode 2025-2030 kemudian mengembangkan gagasan tersebut menjadi gerakan literasi menyambut 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028.
Menurut dia, momentum tersebut dapat diisi dengan menghimpun tulisan dan karya masyarakat dari berbagai latar belakang. Tidak hanya wartawan, tetapi juga pelajar, seniman, fotografer maupun masyarakat umum dapat berkontribusi.
Karya yang dihimpun bisa berupa tulisan, sastra, foto, catatan sejarah maupun dokumentasi budaya. Seluruhnya dapat dikembangkan menjadi arsip digital yang merekam kekayaan Kepri menjelang satu abad Sumpah Pemuda.
“100 tahun Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga meninggalkan warisan pengetahuan yang dapat dibaca dan diakses oleh generasi setelahnya,” katanya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan Gubernur Kepri Ansar Ahmad. Pemerintah Provinsi Kepri, kata Ansar, siap memfasilitasi kunjungan wartawan PWI Kepri ke Pulau Penyengat.
Ansar menilai fasilitas di Penyengat saat ini juga semakin mendukung wisatawan maupun rombongan yang ingin mengeksplorasi pulau tersebut. Sejumlah homestay telah tersedia sehingga pengunjung dapat tinggal lebih lama dan menikmati suasana pulau.
“Sekarang di Pulau Penyengat sudah ada beberapa homestay, bisa bermalam di sana,” kata Ansar.
Pertemuan antara pemerintah daerah dan PWI Kepri itu sebelumnya juga membahas hubungan kemitraan media dengan pemerintah. Ansar menyampaikan pentingnya dukungan media dalam mengawal pembangunan sekaligus menyampaikan program pemerintah kepada masyarakat.
Ia juga membuka ruang bagi PWI Kepri untuk memberikan masukan terkait pembangunan daerah.
Namun, dari pertemuan tersebut, pembahasan mengenai Penyengat justru berkembang menjadi gagasan yang lebih panjang: menjadikan jurnalisme sebagai cara untuk merekam kembali kekayaan sejarah dan kebudayaan Kepri.
Bukan sekadar menceritakan sebuah pulau, tetapi menghidupkan kembali cerita tentang Melayu melalui tulisan, foto dan dokumentasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
Reporter : RY














