Batam-(NagoyaPos.Com) – Pariwisata Kepulauan Riau sedang berada di persimpangan. Angka kunjungan wisatawan menunjukkan pasar masih terbuka, tetapi tantangan terbesar bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan. Pertanyaannya adalah: bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan pulang membawa cerita baik tentang Kepri?
Pertanyaan itu relevan setelah Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas dan pemangku kepentingan dalam Coffee Morning Wonderful Kepri di Hotel Aston Batam, Selasa (6/10/2026).
Pertemuan seperti ini penting. Tetapi jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah cangkir kopi kosong dan para peserta kembali ke tempat masing-masing.
Data BPS menunjukkan, pada Juli 2026 Kepri menerima 180.623 kunjungan wisatawan mancanegara. Angka itu turun 11,42 persen dibandingkan Juni, tetapi masih tumbuh 14,25 persen dibandingkan Juli 2025. Perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Januari-Juli 2026 juga mencapai 2,758 juta perjalanan, naik 10,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun ada angka lain yang patut direnungkan: rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang Kepri pada Juli hanya 1,86 malam.
Batam sebagai pintu utama juga menghadapi persoalan serupa. Pada Juni 2026 tercatat 160.871 kunjungan wisatawan mancanegara, sementara rata-rata lama menginap hanya 1,91 malam.
Artinya, wisatawan datang. Tetapi belum tentu tinggal.
Di sinilah pekerjaan rumah pariwisata Kepri sebenarnya dimulai.
Kepri memiliki keunggulan geografis yang sulit ditandingi. Batam dan Bintan berada di beranda Singapura dan Malaysia. Natuna dan Anambas memiliki kekayaan bahari sekaligus posisi strategis di Laut Natuna Utara. Lingga menyimpan sejarah dan kebudayaan Melayu. Karimun memiliki potensi industri, perdagangan dan wisata. Namun semua potensi tersebut akan menjadi daftar panjang yang tidak berarti jika tidak terhubung dalam satu ekosistem perjalanan.
Wisatawan yang mendarat di Batam jangan hanya dipandang sebagai wisatawan Batam.
Mereka harus dilihat sebagai calon wisatawan Kepri.
Batam seharusnya menjadi pintu masuk untuk kemudian mengajak wisatawan mengenal Bintan, Lingga, Karimun, Natuna dan Anambas. Begitu pula sebaliknya.
Sayangnya, konektivitas antardestinasi masih menjadi pekerjaan besar. Gagasan mempermudah mobilisasi kendaraan wisata dari Batam ke Bintan, misalnya, tidak boleh dilihat sebatas persoalan administrasi kendaraan. Itu adalah bagian dari strategi memperpanjang perjalanan wisatawan.
Wisatawan jangan diperlakukan seperti penumpang transit.
Mereka adalah tamu yang harus diajak tinggal dan mengenal lebih banyak wajah Kepulauan Riau.
Pariwisata tidak cukup hanya indah. Ia harus mudah, aman dan menyenangkan.
Teori Tourism Area Life Cycle Richard W. Butler mengingatkan bahwa destinasi memiliki siklus. Ada masa eksplorasi, pertumbuhan, konsolidasi hingga potensi stagnasi. Karena itu, destinasi yang pernah berjaya tidak boleh merasa aman selamanya.
Kepri harus terus berbenah.
Wisatawan hari ini juga tidak lagi sekadar membeli kamar hotel, tiket perjalanan atau pemandangan pantai. Mereka membeli pengalaman.
Joseph Pine II dan James H. Gilmore melalui konsep Experience Economy telah lama mengingatkan bahwa pengalaman menjadi bagian penting dari nilai sebuah produk. Dalam pariwisata, pengalaman itu bisa berupa keramahan masyarakat, kuliner, budaya, keamanan, kebersihan, kemudahan transportasi hingga cerita yang mereka bawa pulang.
Pantai yang indah bisa ditemukan di banyak tempat.
Tetapi pengalaman yang berkesan tidak selalu mudah ditemukan.
Karena itu, keramahtamahan harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan promosi. Kebersihan harus menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan menjelang kunjungan pejabat. Keselamatan harus menjadi standar, bukan aksesori.
Sebab wisatawan mungkin datang karena melihat foto yang indah. Tetapi mereka akan kembali jika merasa aman dan dihargai.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah ego sektoral.
Pemerintah memiliki programnya. Pelaku usaha memiliki kepentingannya. Komunitas memiliki ruang hidupnya. Akademisi memiliki kajiannya. Media memiliki perspektifnya.
Semua benar dari sudut masing-masing.
Tetapi wisatawan tidak peduli siapa yang paling benar.
Mereka hanya ingin perjalanan yang mudah, aman dan menyenangkan.
Kita terkadang terlalu sibuk menjadi sutradara, padahal pariwisata membutuhkan orkestrasi.
Lima unsur dalam konsep pentahelix—pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas dan media—seharusnya bukan sekadar istilah yang muncul dalam proposal kegiatan. Kelimanya harus terlihat dalam keputusan dan pekerjaan nyata.
Pemerintah menghadirkan kebijakan dan infrastruktur. Akademisi menyediakan riset. Dunia usaha menciptakan produk dan investasi. Komunitas menjaga karakter destinasi. Media membangun narasi sekaligus melakukan kontrol sosial.
Kalau semuanya hanya bertemu, berfoto, minum kopi, lalu kembali ke meja masing-masing, itu bukan kolaborasi.
Itu hanya reuni.
Lebih buruk lagi jika persoalan internal industri pariwisata justru lebih cepat dibawa ke media sosial daripada diselesaikan melalui dialog.
Kritik tentu diperlukan. Bahkan industri yang sehat membutuhkan kritik.
Tetapi kritik seharusnya memperbaiki sistem, bukan sekadar mempermalukan pihak lain.
Wisatawan datang membawa uang, waktu dan harapan. Mereka tidak datang untuk menyaksikan para pelaku industri saling berdebat di ruang publik.
Citra destinasi terlalu mahal untuk dipertaruhkan hanya karena ego.
Karena itu, forum seperti Coffee Morning Wonderful Kepri seharusnya tidak berhenti pada pertemuan tiga bulan sekali atau sekadar pertukaran gagasan. Persoalan pariwisata bergerak setiap hari.
Jika perlu, forum tersebut harus memiliki agenda yang konkret: persoalan apa yang ditemukan, siapa yang bertanggung jawab, kapan harus selesai dan apa hasilnya.
Kopinya boleh santai.
Tindak lanjutnya jangan.
Kepri juga harus mulai mengubah ukuran keberhasilan pariwisata. Jangan hanya mengejar jumlah kunjungan.
Wisatawan yang tinggal tiga malam tentu lebih bernilai dibandingkan wisatawan yang hanya datang sehari lalu pergi.
Begitu pula wisatawan yang menggunakan pemandu lokal, makan di restoran lokal, membeli produk UMKM dan mengikuti aktivitas masyarakat akan memberikan dampak yang berbeda dibandingkan wisatawan yang hanya datang, berfoto dan pulang.
Karena itu, ukuran seperti lama tinggal, belanja wisatawan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal harus semakin mendapat perhatian.
Kita juga perlu hati-hati menggunakan istilah seperti wisata premium, berkualitas atau mewah.
Premium tidak selalu berarti mahal.
Premium berarti pengalaman yang berkualitas, pelayanan yang baik, keamanan yang terjamin, lingkungan yang terjaga dan nilai yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan wisatawan.
Kepri memiliki peluang besar ke arah sana.
Tetapi produk harus disiapkan terlebih dahulu.
Rencana membuka konektivitas internasional baru, termasuk gagasan penerbangan langsung Ho Chi Minh City-Ranai, tentu merupakan peluang. Namun pesawat yang membawa wisatawan hanyalah pintu masuk.
Setelah mereka mendarat, apa yang akan kita tawarkan?
Ke mana mereka pergi?
Bagaimana transportasinya?
Apa yang mereka makan?
Apa yang mereka lihat?
Apa yang mereka beli?
Dan yang paling penting, mengapa mereka harus tinggal lebih lama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab sebelum wisatawan datang.
Kepri tidak kekurangan destinasi. Yang sering kurang adalah keterhubungan antardestinasi.
Batam punya industri dan perdagangan. Bintan punya wisata bahari dan resort. Lingga punya sejarah dan budaya Melayu. Natuna dan Anambas punya kekayaan laut. Karimun punya perdagangan dan industri.
Jika semuanya dikemas dalam satu perjalanan, Kepri memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar Batam.
Pada akhirnya, wajah pariwisata Kepri tidak ditentukan oleh satu dinas, satu kepala daerah, satu hotel, satu asosiasi atau satu event.
Wajah itu merupakan hasil dari seluruh perilaku ekosistemnya.
Jika pemerintah lamban, industri tersendat.
Jika pelaku usaha saling menjatuhkan, citra ikut retak.
Jika masyarakat tidak merasa memiliki, destinasi kehilangan jiwa.
Jika media hanya mengejar kegaduhan, narasi menjadi bising.
Sebaliknya, jika semuanya bekerja dalam satu irama, Kepri tidak hanya memiliki destinasi.
Kepri memiliki identitas.
Karena itu, saya melihat Coffee Morning Wonderful Kepri bukan sekadar pertemuan sambil menikmati kopi. Ia harus menjadi ruang untuk mengakui persoalan dan mencari jalan keluar bersama.
Cangkir boleh kosong.
Tetapi gagasan jangan ikut menguap.
Kepri tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang pariwisata. Kepri membutuhkan pekerjaan nyata: konektivitas yang lebih mudah, pelayanan yang lebih baik, destinasi yang lebih bersih, keamanan yang terjamin, produk wisata yang kuat dan kolaborasi yang benar-benar bekerja.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pariwisata bukan tentang seberapa indah kita memotret Kepri.
Keberhasilannya adalah ketika wisatawan datang, merasa nyaman, tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya di masyarakat lokal, lalu pulang sambil berkata:
“Saya ingin kembali ke Kepulauan Riau.” (*)
Reporter : RY














