Batam, (Nagoyapos.com) — Prestasi di tingkat internasional belum tentu diikuti dukungan yang memadai. Hal itu dirasakan tim marching band Syfonio Fortesimo dari SMK Negeri 1 Batam yang berhasil meraih sejumlah medali dalam ajang Asian Music Games 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, di tengah keterbatasan anggaran, peralatan, dan akomodasi.
Pelatih tim tersebut mengungkapkan bahwa keberangkatan mereka ke kompetisi yang berlangsung pada 4–13 September 2026 itu lebih banyak mengandalkan penggalangan dana, dukungan pihak swasta, serta pengorbanan pribadi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelajar yang membawa nama sekolah, Kota Batam, dan Indonesia di ajang internasional.
Keluhan itu disampaikan dalam podcast Ruang Bicara bersama Sri Widayanti, yang menghadirkan atlet muda Aldo Saputra dan Rizki Armando Pelatih tim, 23/09/2026.
Menurut keterangan dalam podcast, tim mengikuti sejumlah nomor lomba pada kategori color guard dan berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk medali perak dan perunggu. Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting bagi tim yang hanya memberangkatkan delapan orang untuk mengikuti nomor lomba sesuai kemampuan anggaran.
Berangkat dengan Dana Terbatas, Peralatan Rusak Tetap Dibawa
Di balik prestasi tersebut, tim mengaku menghadapi persoalan pembiayaan yang tidak ringan. Kebutuhan latihan, peralatan, transportasi, konsumsi, dan akomodasi harus dipenuhi agar para atlet dapat mengikuti kompetisi di luar negeri.
Pelatih menjelaskan bahwa dukungan pendanaan selama ini banyak diupayakan melalui pengajuan proposal kepada instansi pemerintah maupun perusahaan swasta. Namun, dari sekitar 20 proposal yang diajukan, menurut keterangannya, hanya sekitar lima yang memperoleh dukungan.
Ia menyebut sejumlah perusahaan swasta turut membantu keberangkatan tim, termasuk melalui dukungan transportasi peralatan dan tiket. Bantuan tersebut memungkinkan para atlet tetap berangkat meskipun anggaran yang tersedia terbatas.
Persoalan juga muncul pada peralatan lomba. Pelatih mengungkapkan bahwa sejumlah perlengkapan mengalami kerusakan, bahkan ada yang patah dan harus diperbaiki sementara menggunakan lakban serta jahitan. Sebagian peralatan baru yang dipesan juga belum selesai diproduksi menjelang keberangkatan.
Akibatnya, para atlet harus menyesuaikan diri dengan perlengkapan yang tersedia saat mengikuti kompetisi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesinambungan pembinaan olahraga dan seni prestasi di daerah: sejauh mana fasilitas, peralatan, dan dukungan pendanaan mampu mengikuti potensi atlet muda yang telah terbukti berprestasi?
Proposal kepada Pemerintah Belum Berbuah Dukungan Anggaran
Pelatih mengaku telah berupaya mengajukan dukungan kepada sejumlah instansi pemerintah di Kepulauan Riau, termasuk Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, Dinas Pendidikan, serta melalui lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Menurut keterangannya, pihak Dinas Pendidikan menyampaikan bahwa belum tersedia anggaran untuk membantu kegiatan tersebut. Sementara itu, pengajuan kepada dinas yang membidangi olahraga disebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan pagu anggaran.
Pelatih juga menyebut sekretariat gubernur sempat menginformasikan bahwa proposal telah diteruskan kepada Dinas Pendidikan. Namun, hingga kompetisi berlangsung, tim mengaku belum memperoleh dukungan yang mereka harapkan dari pemerintah daerah.
Keterangan tersebut merupakan penuturan pelatih dalam podcast dan belum disertai klarifikasi langsung dari instansi terkait dalam bahan wawancara yang tersedia.
Situasi ini memperlihatkan pentingnya transparansi mengenai mekanisme bantuan bagi atlet pelajar, termasuk kriteria penerima, ketersediaan anggaran, dan alternatif dukungan ketika pengajuan tidak dapat dipenuhi.
Dukungan terhadap atlet tidak selalu harus berupa bantuan uang tunai. Fasilitasi transportasi, peminjaman peralatan, akses tempat latihan, beasiswa prestasi, hingga pendampingan administrasi dapat menjadi bentuk dukungan yang membantu keberlanjutan pembinaan.
Pulang dari Malaysia, Atlet Mengaku Sempat Tidur di Area Pelabuhan
Salah satu pengalaman yang paling disorot dalam cerita mereka adalah kesulitan perjalanan saat hendak kembali ke Batam.
Pelatih dan atlet menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran membuat mereka mengandalkan transportasi umum selama perjalanan. Perpindahan antarmoda, kemacetan, serta kebutuhan mencari kendaraan menuju pelabuhan membuat perjalanan mereka terlambat.
Menurut penuturan atlet, rombongan tiba sekitar 15 menit sebelum kapal berangkat dan akhirnya tertinggal. Karena dana yang tersedia terbatas, mereka mengumpulkan sisa uang secara patungan untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu keberangkatan berikutnya.
Sebagian anggota rombongan akhirnya beristirahat di area bawah bangunan pelabuhan yang memiliki fasilitas terbuka selama 24 jam. Beberapa orang tetap terjaga untuk menjaga peralatan dan barang bawaan.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran tantangan logistik yang mereka hadapi, bahkan setelah menyelesaikan kompetisi internasional dan membawa pulang prestasi.
Meski demikian, keterlambatan tersebut, berdasarkan penjelasan pelatih, berkaitan dengan penggunaan transportasi umum dan keterbatasan biaya. Hal itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemerintah secara langsung menelantarkan rombongan.
Bukan Hanya Medali, Atlet Membutuhkan Keberlanjutan Pembinaan
Pelatih menilai perhatian terhadap atlet seharusnya tidak berhenti pada pencapaian medali. Pembinaan membutuhkan sistem yang berkelanjutan, mulai dari peralatan yang layak, jadwal latihan, kebutuhan fisik, hingga pengelolaan administrasi dan perjalanan kompetisi.
Ia mengatakan selama ini merangkap sejumlah tanggung jawab, mulai dari pelatih, pembina, pengurusan proposal, hingga pendampingan perjalanan. Ia juga mengaku tidak menerima honor secara rutin selama beberapa tahun terakhir, meskipun tetap menjalankan pembinaan karena kecintaannya terhadap marching band.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keberhasilan atlet tidak terlepas dari peran pelatih yang membangun kemampuan mereka sejak awal.
Selain dukungan operasional, pelatih berharap pemerintah daerah dapat membuka akses beasiswa, memberikan rekomendasi pendidikan, dan membantu atlet melanjutkan prestasi setelah lulus sekolah.
Aldo Saputra dan Rizki Armando juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan peralatan dan peluang mengikuti kompetisi berikutnya.
Menanti Dukungan untuk Kompetisi Berikutnya
Tim tersebut berharap memperoleh dukungan untuk agenda kompetisi berikutnya, termasuk kejuaraan yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada Desember 2026, sebagaimana disampaikan dalam podcast.
Menurut pelatih, kompetisi berikutnya menjadi kesempatan bagi para atlet untuk kembali menunjukkan kemampuan sekaligus memperkenalkan Batam dan Kepulauan Riau melalui prestasi marching band.
Ia menegaskan bahwa tim tidak semata-mata mengharapkan penghargaan setelah meraih medali. Yang dibutuhkan adalah perhatian terhadap proses pembinaan dan kesempatan agar para atlet dapat terus berkembang.
Persoalan yang disampaikan tim Syfonio Fortesimo menjadi pengingat bahwa capaian internasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet di arena lomba. Kesiapan peralatan, kepastian anggaran, dukungan pelatih, serta akses transportasi dan akomodasi juga berpengaruh terhadap keberlanjutan prestasi.
Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu memberikan penjelasan mengenai mekanisme dukungan bagi atlet pelajar, termasuk bagaimana prestasi internasional dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan pembinaan.
Di sisi lain, kisah tim ini menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menghentikan perjuangan. Namun, prestasi yang lahir dari pengorbanan pribadi semestinya menjadi bahan evaluasi agar pembinaan atlet muda tidak terus bergantung pada kemampuan individu dan dukungan pihak swasta semata. (*)














