<
Batam  

Akademisi Kritik Blackout Batam, Ingatkan Dampaknya terhadap Citra Investasi

Akademisi Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam, Dr. Sumardin, menyoroti dampak pemadaman listrik massal terhadap aktivitas ekonomi dan citra investasi Batam. Ia mendorong modernisasi jaringan, audit aset kelistrikan, serta perbaikan transparansi informasi dan mekanisme kompensasi bagi pelanggan.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda Batam dalam beberapa hari terakhir menuai kritik dari kalangan akademisi. Gangguan pasokan listrik tersebut dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak citra Batam sebagai kawasan industri dan pusat investasi strategis nasional.

Akademisi Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam, Dr. Sumardin, SE., M.Si., menilai persoalan listrik di Batam tidak bisa lagi dipandang sebagai gangguan teknis biasa. Keandalan pasokan energi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas industri, perbankan, hingga sektor logistik.

“Batam didesain dengan regulasi khusus sebagai kawasan industri dan pusat manufaktur. Ketika listrik padam total hingga berjam-jam, kerugiannya tidak hanya kulkas warga yang mati, tetapi miliaran rupiah pada sektor industri, perbankan, dan logistik yang terhenti,” ujar Sumardin.

Menurut dia, gangguan listrik berskala luas berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap kegiatan ekonomi. Selain menghambat operasional perusahaan, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap kesiapan infrastruktur Batam dalam mendukung aktivitas usaha.

Sumardin turut menyoroti manajemen komunikasi krisis dan langkah mitigasi yang dilakukan PLN Batam. Ia menilai penanganan gangguan kelistrikan perlu bergeser dari pola reaktif menuju pencegahan yang lebih terencana dan berbasis prediksi risiko.

“PLN Batam terkesan terjebak pada pola reaktif, menunggu ada kerusakan baru sibuk perbaikan, bukan proaktif melakukan pencegahan sistemik berbasis prediksi risiko,” tegasnya.

Dorong Pembenahan Sistem Kelistrikan

Untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik, Sumardin menawarkan tiga langkah pembenahan yang perlu menjadi perhatian PLN Batam.

Pertama, mempercepat modernisasi jaringan melalui penerapan smart grid. Teknologi ini dinilai dapat membantu mendeteksi dan mengisolasi titik gangguan secara otomatis sehingga kerusakan pada satu bagian jaringan tidak berkembang menjadi pemadaman berskala luas.

Selain itu, PLN Batam perlu memperkuat sistem pasokan cadangan atau redundancy system. Dengan demikian, aliran listrik dapat dialihkan ketika terjadi gangguan pada jalur utama, sehingga risiko pemadaman massal dapat ditekan.

Kedua, melakukan audit berkala terhadap aset vital kelistrikan, termasuk pembangkit dan jaringan transmisi. Sumardin juga menekankan pentingnya pemeliharaan serta pembersihan ruang bebas jaringan atau right of way (ROW) untuk meminimalkan potensi gangguan dari lingkungan sekitar.

Menurut dia, evaluasi terhadap keandalan aset harus dilakukan secara menyeluruh agar potensi gangguan dapat diidentifikasi dan ditangani sebelum berdampak luas terhadap pelanggan.

Ketiga, membenahi transparansi informasi kepada masyarakat. PLN Batam dinilai perlu menyampaikan informasi yang akurat dan terkini mengenai penyebab gangguan, wilayah terdampak, serta perkiraan waktu pemulihan.

Sumardin juga mendorong penerapan mekanisme kompensasi bagi pelanggan yang terdampak pemadaman sesuai ketentuan yang berlaku. Mekanisme tersebut, menurut dia, perlu disampaikan secara transparan dan diterapkan secara akuntabel, termasuk kemungkinan pemberian kompensasi melalui penyesuaian tagihan apabila sesuai dengan regulasi.

Di sisi lain, ia mendesak Pemerintah Kota Batam, BP Batam, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperketat pengawasan terhadap tata kelola kelistrikan di Batam.

Ia menilai keandalan energi harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan daya saing kawasan industri dan keberlanjutan investasi.

“Listrik adalah urat nadi perekonomian Batam. Jangan sampai ambisi besar menarik investor internasional kandas hanya karena kita tidak mampu mengelola stabilitas energi,” tutupnya.

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *