<
Batam  

Aipda Ropianto Tambal Jalan, Jaga Harapan Tukang Becak Belakang Padang

Aipda Ropianto bersama sejumlah tukang becak bergotong royong menambal jalan berlubang di Jalan Kampung Jawa, Belakang Padang, Kamis (15/10/2026).

Batam-(NagoyaPos.Com) – Dengan uang pribadi dan tenaga para tukang becak, Aipda Ropianto turun langsung memperbaiki jalan berlubang di Belakang Padang. Bagi anggota Polri yang bertugas di SPKT Polresta Barelang ini, langkah sederhana tersebut bukan sekadar menjaga kenyamanan wisatawan, tetapi juga merawat harapan para tukang becak yang menggantungkan hidup dari pariwisata.

Di Pulau Penawar Rindu, becak masih menjadi bagian dari daya tarik wisata. Kendaraan roda tiga itu membawa wisatawan menyusuri kampung, menikmati suasana pesisir, hingga mengenal kehidupan masyarakat setempat.

Namun, di tengah perubahan zaman dan persaingan dengan moda transportasi lain, keberlangsungan profesi tukang becak tidak selalu mudah. Kenyamanan perjalanan menjadi salah satu hal yang perlu dijaga agar wisatawan tetap tertarik menggunakan jasa mereka.

Ropianto memilih mengambil bagian melalui aksi nyata. Sejak 2022, ia mendirikan Persatuan Tukang Becak Belakang Padang untuk menyatukan para pengayuh becak sekaligus mendorong mereka tetap bertahan di tengah tantangan ekonomi.

Dari sekitar 80 anggota yang terdaftar, kini 45 orang masih aktif.

“Yang aktif hanya 45 tukang becak,” ujar Ropianto di sela kegiatan perbaikan jalan bersama sejumlah tukang becak di Jalan Kampung Jawa, Kamis (15/10/2026).

Bagi mereka, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan sumber penghidupan keluarga. Setiap penumpang yang datang berarti peluang memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Ropianto berupaya menjaga kenyamanan wisatawan dengan membantu memperbaiki jalan berlubang menggunakan dana pribadi. Sementara itu, para tukang becak bergotong royong menyumbangkan tenaga.

Di Jalan Kampung Jawa, mereka mengaduk semen dan menambal bagian jalan yang rusak. Pekerjaan yang terlihat sederhana itu menjadi wujud kepedulian terhadap lingkungan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

Upaya tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan sektor wisata Belakang Padang. Ketika wisatawan merasa nyaman, peluang mereka untuk kembali berkunjung semakin terbuka. Dampaknya bukan hanya dirasakan tukang becak, tetapi juga pengemudi motor sangkut, pelaku usaha kuliner, dan UMKM setempat.

Perputaran ekonomi wisata bahkan turut melibatkan layanan transaksi, termasuk pembayaran digital melalui QRIS. Artinya, kenyamanan wisatawan menjadi kepentingan banyak pihak yang saling terhubung.

Karena itu, upaya Ropianto diharapkan dapat menggerakkan lebih banyak pihak untuk ikut menjaga kawasan wisata. Pengemudi motor sangkut, pelaku usaha, perbankan, dan berbagai elemen masyarakat dapat berkontribusi melalui gotong royong, bantuan material, maupun program pemberdayaan.

Meski demikian, perbaikan jalan melalui swadaya masyarakat tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam pemeliharaan fasilitas umum. Aksi tersebut justru dapat menjadi dorongan agar perhatian terhadap infrastruktur dan keselamatan pengguna jalan semakin ditingkatkan.

Di Pulau Penawar Rindu, merawat pariwisata bukan hanya soal mempromosikan keindahan alam atau mendatangkan pengunjung. Lebih dari itu, pariwisata harus mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang hidup dan bekerja di dalamnya.

Ropianto mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi tukang becak. Namun, melalui persatuan dan gotong royong, ia berusaha menjaga agar profesi tersebut tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

Sebab, di balik setiap perjalanan wisatawan mengelilingi Belakang Padang, ada warga yang berharap kunjungan itu membawa rezeki bagi keluarganya.

Jalan yang nyaman mungkin menjadi awal perjalanan wisata. Namun, bagi para tukang becak, jalan itu juga menjadi bagian dari harapan menuju kehidupan yang lebih baik. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *