<
Batam  

Ketua Yayasan Miftahurrabbani Buka Ruang Tabayun, Ajak Semua Pihak Selesaikan Persoalan Secara Musyawarah

Batam-NagoyaPos.Com] Ketua Yayasan Pondok Miftahurrabbani, Ustaz Rizal Fauzi, S.M., menyampaikan klarifikasi terkait sejumlah informasi dan unggahan di media sosial yang belakangan menjadi perhatian dan berkaitan dengan Pondok Pesantren Miftahurrabbani di Batam, Kepulauan Riau.Jum’at (21/8/26).

AKlarifikasi tersebut disampaikan sebagai upaya memberikan penjelasan kepada masyarakat sekaligus menjaga suasana tetap kondusif di lingkungan pondok pesantren.

Rizal mengatakan, pihak yayasan menghormati hak setiap orang untuk menyampaikan pendapat, pengalaman maupun kritik. Namun, ia berharap setiap informasi yang disampaikan kepada publik dapat didasarkan pada fakta yang lengkap sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menurut dia, perbedaan pandangan maupun persoalan yang muncul dalam sebuah lingkungan, termasuk lembaga pendidikan dan pesantren, pada dasarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.

 

“Kami menghormati setiap orang untuk menyampaikan pengalaman, pendapat maupun kritikan. Namun, kami berharap informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar berdasarkan fakta yang utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun keresahan di lingkungan pondok pesantren,” ujar Rizal.

Mengedepankan Tabayun

Rizal menilai penyelesaian persoalan melalui ruang publik, khususnya media sosial, tidak selalu dapat memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai sebuah peristiwa.

Karena itu, ia mengajak pihak-pihak yang memiliki persoalan atau perbedaan pandangan dengan yayasan maupun pengelola pondok untuk terlebih dahulu membuka ruang komunikasi secara langsung.

Menurutnya, prinsip tabayun atau melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan merupakan langkah penting agar setiap persoalan dapat dipahami secara lebih objektif.

“Kami berharap apabila ada kekecewaan atau persoalan yang belum terselesaikan, sebaiknya dibicarakan secara langsung melalui jalan musyawarah dan tabayun,” katanya.

Rizal juga berharap persoalan yang bersifat pribadi tidak berkembang menjadi perdebatan terbuka yang pada akhirnya dapat membawa dampak kepada pihak lain yang tidak berkaitan langsung.

Ia menilai, penyelesaian secara kekeluargaan akan memberikan ruang bagi masing-masing pihak untuk menjelaskan persoalan dari sudut pandangnya tanpa harus memperluas masalah ke ruang publik.

Tidak Bermaksud Membuka Persoalan Pribadi

Dalam kesempatan tersebut, Rizal menegaskan bahwa klarifikasi yang disampaikan pihak yayasan bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk membalas pernyataan atau membuka persoalan pribadi pihak tertentu.

Menurutnya, yayasan hanya ingin memberikan penjelasan agar informasi yang beredar tidak dipahami sebagai gambaran menyeluruh mengenai kondisi Pondok Pesantren Miftahurrabbani.

“Kami tidak bermaksud membalas dengan tuduhan, tudingan ataupun membuka persoalan pribadi siapa pun. Kami hanya ingin meluruskan bahwa berbagai informasi yang beredar tidak dapat begitu saja dianggap sebagai gambaran yang utuh mengenai keadaan pondok pesantren,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihak yayasan tetap menghargai setiap kritik yang disampaikan secara proporsional dan konstruktif.

Rizal menilai kritik dapat menjadi bagian dari proses evaluasi selama disampaikan dengan itikad baik dan tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.

Yayasan Siap Membuka Ruang Mediasi

Sebagai bentuk keterbukaan, Rizal menyatakan dirinya maupun pihak yayasan terbuka terhadap proses dialog, mediasi dan klarifikasi secara langsung apabila terdapat pihak yang merasa memiliki persoalan atau keberatan.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat dilakukan dalam suasana yang tenang dan kekeluargaan sehingga masing-masing pihak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangannya secara utuh.

“Secara pribadi, saya membuka pintu untuk mediasi dan klarifikasi secara langsung. Insyaallah, kita bisa membicarakannya dengan suasana yang tenang, kekeluargaan dan saling menghormati,” tutur Rizal.

Menurut dia, komunikasi langsung diperlukan agar persoalan dapat dipahami berdasarkan informasi dari para pihak yang berkaitan, bukan hanya dari potongan informasi yang beredar di media sosial.

Ia juga berharap pihak-pihak yang tidak berkepentingan langsung tidak ikut terseret dalam persoalan tersebut.

Dengan demikian, kata Rizal, penyelesaian dapat diarahkan pada pokok persoalan dan tidak berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas.

Ingatkan Dampak Informasi di Media Sosial

Rizal juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi melalui media sosial.

Menurutnya, setiap pernyataan yang telah dipublikasikan dapat dibaca dan ditafsirkan oleh banyak orang. Kondisi tersebut membuat sebuah persoalan yang awalnya bersifat terbatas berpotensi berkembang menjadi perhatian publik.

“ Kami berharap semua pihak dapat menjaga lisan, menjaga tulisan dan juga menjaga media agar tidak menjadi sumber fitnah, kesalahpahaman maupun keresahan bagi para santri, wali santri, pengurus dan masyarakat sekitar,” katanya.

Ia menilai ketenangan lingkungan pondok pesantren perlu menjadi perhatian bersam iniPasalnya, persoalan yang berkembang di ruang publik berpotensi memberikan dampak psikologis maupun sosial kepada berbagai pihak yang berada di lingkungan pesantren, termasuk para santri dan wali santri.

 

Karena itu, Rizal mengajak seluruh pihak untuk menempatkan kepentingan pendidikan dan ketenangan lingkungan pondok sebagai bagian dari pertimbangan dalam menyampaikan setiap informasi.

Tetap Menghormati Ketentuan yang Berlaku

Rizal mengatakan, musyawarah dan mediasi merupakan pilihan utama yang ingin ditempuh pihak yayasan.

Namun, apabila setelah ruang komunikasi dan klarifikasi diberikan masih terdapat persoalan yang menyangkut hak pribadi maupun kepentingan lembaga, pihak yayasan akan mempertimbangkan langkah sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku.

“Kami tentu akan menempuh langkah yang sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Namun, tetap mengedepankan cara yang santun, bermartabat, saling menghormati dan menghargai,” ujarnya.

Ia menegaskan, langkah tersebut bukan berarti pihak yayasan ingin mencari persoalan atau permusuhan dengan pihak tertentu.

Sebaliknya, menurut Rizal, langkah yang ditempuh semata-mata ditujukan untuk memastikan setiap persoalan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang tepat.

“Tidak ada niat untuk memusuhi siapa pun. Tolong dicatat, saya tidak mencari musuh. Kami hanya ingin menjaga nama baik, ketenangan di pondok, serta memberikan informasi yang benar kepada masyarakat,” kata Rizal.

 

Berharap Persoalan Berakhir Secara Kekeluargaa

Di akhir penyampaiannya, Rizal kembali mengajak seluruh pihak untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terhadap informasi yang beredar.

Ia berharap masyarakat dapat memberikan ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan penjelasan secara proporsional dan melakukan klarifikasi sebelum menilai suatu persoalan.

Menurut dia, perbedaan pandangan tidak harus berujung pada hubungan yang tidak baik. Selama terdapat kemauan untuk berkomunikasi dan saling mendengarkan, setiap persoalan masih memiliki ruang untuk diselesaikan.

Semoga persoalan ini dapat diselesaikan dengan tabayun, musyawarah, kepala dingin dan kekeluargaan,” ucapnya.

Rizal berharap klarifikasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga suasana yang kondusif di lingkungan Pondok Pesantren Miftahurrabbani.

 

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga ketenangan para santri, wali santri, pengurus serta masyarakat sekitar.

Bagi pihak yayasan, komunikasi secara langsung, terbuka dan saling menghormati tetap menjadi jalan yang diutamakan dalam menyelesaikan persoalan.

Dengan pendekatan tersebut, Rizal berharap setiap perbedaan dapat ditempatkan secara proporsional dan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *