<
Batam  

Dulu Listrik Cuma 5 Jam, Kini Pulau Sembur Batam Terang 24 Jam Berkat PLTS

Dulu Listrik Cuma 5 Jam, Kini Pulau Sembur Batam Terang 24 Jam Berkat PLTS
Warga Pulau Sumbur Batam kini sudah bisa menikmati listrik 24 jam berkat PLTS (ilustrasi)

Batam, Nagoyapos.com – Kabar menggembirakan datang dari Pulau Sembur, Kelurahan Galang Baru, Kota Batam, Kepulauan Riau. Setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan genset dengan pasokan listrik sekitar 4–5 jam sehari, warga kini dapat menikmati listrik selama 24 jam berkat hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Perubahan ini bukan hanya membuat rumah-rumah warga lebih terang pada malam hari. Kehadiran listrik sepanjang hari juga membuka peluang baru bagi perekonomian masyarakat pesisir, terutama nelayan.

Dari Listrik 4 Jam Sehari Kini Menyala 24 Jam

Sebelum PLTS dibangun, masyarakat Pulau Sembur harus mengandalkan generator diesel milik warga untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Pasokan energi yang terbatas membuat listrik hanya dapat digunakan sekitar 4–5 jam dalam sehari. Selain itu, biaya operasional genset juga menjadi beban tersendiri bagi masyarakat.

Kini, kondisi tersebut mulai berubah.

PLTS Pulau Sembur memiliki kapasitas sekitar 1 megawatt (MW) dan didukung baterai penyimpanan energi berkapasitas 1 megawatt hour (MWh).

Energi matahari yang dikumpulkan pada siang hari disimpan di dalam baterai, kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik ketika malam hari.

Dengan sistem tersebut, masyarakat Pulau Sembur kini dapat menikmati pasokan listrik selama 24 jam.

Tak Hanya Terang, PLTS Pulau Sembur Buka Peluang Ekonomi

Kapasitas listrik yang tersedia disebut tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga warga.

Masih terdapat kelebihan energi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.

Salah satu sektor yang mulai mendapatkan manfaat besar adalah perikanan, mengingat sebagian masyarakat Pulau Sembur menggantungkan hidup dari hasil laut.

Ketersediaan listrik memungkinkan penggunaan berbagai fasilitas pendukung, seperti cold storage hingga mesin pembuat es.

Fasilitas tersebut menjadi penting untuk membantu nelayan menjaga kualitas ikan setelah ditangkap sebelum dijual ke pasar.

Mesin Es 4 Ton Per Hari, Hasil Tangkapan Nelayan Lebih Terjaga

Salah satu fasilitas yang mulai dikembangkan mampu memproduksi sekitar 4 ton es setiap hari.

Kehadiran mesin pembuat es diharapkan dapat menjadi solusi bagi nelayan yang sebelumnya menghadapi keterbatasan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.

Dengan pasokan es yang lebih mudah, ikan hasil tangkapan dapat disimpan dalam kondisi lebih baik dan kualitasnya tetap terjaga.

Pada akhirnya, fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk perikanan serta mendukung produktivitas masyarakat pesisir Pulau Sembur.

Biaya Listrik Turun dari Rp500 Ribu Jadi Rp200 Ribu

Manfaat lain yang langsung dirasakan masyarakat adalah potensi penurunan biaya kebutuhan energi.

Sebelum adanya PLTS, warga disebut dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp500.000 per bulan untuk mengoperasikan genset.

Setelah pasokan listrik dari energi surya tersedia, biaya tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar Rp200.000 per bulan.

Artinya, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses listrik yang lebih lama, tetapi juga berpeluang menghemat pengeluaran rumah tangga setiap bulan.

Pulau Sembur Jadi Bagian Awal Program PLTS 100 GWp

PLTS Pulau Sembur menjadi salah satu lokasi awal dalam pelaksanaan program pengembangan PLTS 100 gigawatt peak (GWp) secara nasional.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi solusi bagi wilayah-wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses listrik, terutama daerah kepulauan dan wilayah terpencil.

Model pemanfaatan energi matahari seperti di Pulau Sembur diharapkan tidak hanya memberikan akses listrik, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Kini, perubahan mulai terasa di Pulau Sembur.

Dari sebelumnya hanya menikmati listrik beberapa jam sehari, warga kini memiliki akses energi selama 24 jam. Nelayan pun mendapat peluang baru melalui fasilitas pendinginan dan produksi es.

Listrik yang sebelumnya menjadi barang terbatas, kini berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Pulau Sembur, Batam. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *