Batam, Nagoyapos.com — Kualitas udara di Batam mulai mendapat tekanan setelah konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 69,9 µg/m³ dan masuk kategori Tidak Sehat. Peningkatan ini terdeteksi bersamaan dengan masuknya sebaran asap dari sejumlah wilayah Sumatera ke Kepulauan Riau (Kepri).
Data Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam mencatat konsentrasi tersebut pada Kamis (3/9/2026) pukul 22.00 WIB. Pengukuran dilakukan melalui sistem pemantauan otomatis menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring (BAM).
Kepala Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam, Ramlan, membenarkan kondisi tersebut. “Berdasarkan pengukuran otomatis menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring, kualitas udara di Batam tercatat pada konsentrasi 69,9 µg/m³ yang secara parameter tergolong dalam kategori Tidak Sehat,” ujar Ramlan saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2026).
Asap Terdeteksi Masuk Kepulauan Riau
Ramlan menjelaskan, PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Ukurannya yang halus memungkinkan partikulat tersebut masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap masalah pernapasan.
“ Kondisi itu terjadi bersamaan dengan terdeteksinya sebaran asap di wilayah Kepulauan Riau berdasarkan pemantauan satelit Himawari-9,” jelasnya.
Berdasarkan Citra Sebaran Asap Wilayah Indonesia yang dirilis BMKG pada Jumat (4/9/2026) pukul 13.00 WIB atau 06.00 UTC, sebaran asap terpantau di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Di Sumatera, asap terdeteksi di Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, serta Sumatera Selatan. Sementara di Kalimantan, sebaran asap terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.
BMKG mencatat massa asap di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan secara dominan bergerak ke arah barat laut.
Di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, asap bergerak ke arah barat laut hingga utara. Sementara di Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, massa asap terpantau bergerak menuju utara hingga timur laut.
Dipengaruhi Arah Angin Regional
Pola pergerakan asap tersebut berkaitan dengan kondisi angin regional di wilayah Indonesia. Secara umum, angin bertiup dari arah tenggara menuju barat laut hingga utara.
Kondisi tersebut memungkinkan massa udara yang membawa partikel asap bergerak dari wilayah sumber menuju daerah lainnya. Pergerakan massa asap juga berpotensi memicu fenomena transboundary haze atau asap lintas batas negara.
BMKG mendeteksi massa asap dari wilayah Sumatera bergerak menuju Johor, Malaysia, dan Singapura. Sementara dari Kalimantan, sebaran asap terpantau bergerak menuju Sarawak, Malaysia.
Ramlan mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena konsentrasi PM2.5 di Batam dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan pola angin.
“Peta sebaran asap terkini, sumber asap dari Jambi, Kalimantan. Angin di wilayah Kepri umumnya dari selatan,” kata Ramlan.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila konsentrasi partikulat terus meningkat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan, disarankan membatasi paparan udara luar ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga dapat menggunakan masker yang sesuai sebagai salah satu upaya mengurangi paparan partikulat halus.
BMKG akan terus memantau dinamika atmosfer, arah dan kecepatan angin, serta perkembangan sebaran asap melalui pengamatan satelit dan instrumen pemantauan kualitas udara.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi kualitas udara di Batam dan wilayah Kepulauan Riau.
RM













