<
Batam  

Dari Dunia IT ke Spesialis Lifting, Kisah Teuku Nanda Fulizar Menjaga Keselamatan Pekerja di Batam

Teuku Nanda Fulizar saat berbincang dalam podcast Ruang Bicara membagikan kisah perjalanan kariernya dari dunia Informatika hingga menekuni bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya spesialisasi lifting. Kini, Nanda aktif mengembangkan kompetensi K3 melalui KBS Training Center di Batam.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Tidak banyak orang yang sejak kecil sudah akrab dengan alat berat dan memahami bahwa di balik setiap mesin besar terdapat risiko yang tidak boleh dianggap sepele.

Namun, bagi Teuku Nanda Fulizar, ketertarikan terhadap alat berat justru menjadi awal perjalanan panjangnya di dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Kisah itu terungkap dalam podcast Ruang Bicara. Dalam perbincangan tersebut, Nanda menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya membawa dirinya dari dunia teknologi informasi hingga menjadi profesional yang fokus pada K3, khususnya bidang pesawat angkat dan angkut atau lifting.

Nanda yang kini mengelola KBS Training Center, lembaga pelatihan K3 Umum di Ruko Tiban Koperasi No. 5, Batam, mengatakan ketertarikannya terhadap dunia lifting sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA.

Hal itu tidak terlepas dari sosok sang ayah yang merupakan pengawas ketenagakerjaan spesialis di bidang tersebut.

“Sejak SMA saya sudah tertarik dengan dunia lifting. Ayah saya sendiri seorang pegawai pengawas spesialis di bidang yang sama,” ujar Nanda.

Meski sang ayah berkarier di pemerintahan, Nanda memiliki keinginan untuk mengembangkan kemampuan serupa di sektor profesional.

Keinginan itu kemudian mendorongnya mengambil sertifikasi Ahli K3 Umum pada 2005 di Batam. Saat itu, lembaga penyelenggara pelatihan K3 belum sebanyak sekarang sehingga pelatihan masih banyak dilakukan melalui asosiasi dan berdasarkan kuota peserta.

Namun, perjalanan Nanda tidak langsung lurus menuju dunia K3. Ia sempat memilih dunia teknologi informasi dengan mengambil jurusan Informatika. Saat itu, cita-citanya cukup jelas, yakni bekerja sebagai teknisi IT di perusahaan besar, termasuk perusahaan nasional maupun perusahaan asal Singapura.

“Harapan saya ketika lulus dari Informatika, saya ingin menjadi teknisi IT di perusahaan-perusahaan besar, baik perusahaan nasional maupun perusahaan Singapura. Tapi ternyata peluang ke sana belum saya dapatkan,” katanya.

Kondisi tersebut akhirnya membuat Nanda kembali mempertimbangkan bidang yang sejak awal sudah dekat dengan kehidupannya.

Menurut dia, pada masa itu peluang kerja di Batam cukup terbuka di bidang K3 atau safety. Di sisi lain, ada alasan personal yang membuatnya memilih meneruskan pengetahuan yang sudah lebih dahulu dimiliki keluarganya.

“Saya harus melanjutkan apa yang sudah dilakukan orang tua saya. Dari posisi beliau, saya mencoba mengambil ilmunya sebanyak-banyaknya yang bisa saya pelajari dalam bidang K3,” tuturnya.

 

Dari Lifting hingga Menjadi Asesor

Bagi Nanda, K3 bukan sekadar pekerjaan yang berhubungan dengan sertifikat atau prosedur keselamatan. Ia memilih memperdalam bidang lifting karena melihat besarnya risiko yang terdapat dalam pekerjaan pengangkatan dan pemindahan beban.

Dalam perbincangan podcast, Nanda bahkan menggambarkan bidang tersebut seperti dunia kedokteran.

Jika seorang dokter memiliki bidang spesialisasi, maka dirinya memilih menjadi profesional yang mendalami bidang lifting.

“Lifting itu spesialisasinya. Kalau dokter ada dokter umum kemudian dokter spesialis, saya bisa dibilang spesialisnya lifting,” ujarnya.

Secara sederhana, lifting berkaitan dengan aktivitas pengangkatan menggunakan berbagai peralatan, sedangkan orang yang melakukan aktivitas tersebut dikenal sebagai lifter.

Perjalanan Nanda kemudian terus berkembang. Ia tidak hanya mengumpulkan sertifikasi, tetapi juga memulai karier dari bawah sebagai safetyman, kemudian berkembang menjadi safety officer.

Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan menjadi bagian penting untuk memahami K3 secara utuh.

Ia bahkan pernah mengambil keputusan besar dalam perjalanan kariernya dengan meninggalkan pekerjaan untuk kembali belajar dan memperdalam kompetensi.

Keputusan tersebut akhirnya membawanya ke posisi yang lebih tinggi. Di usia 27 tahun, Nanda telah dipercaya menduduki posisi Direktur Utama di perusahaan yang bergerak di bidang K3.

Puncak perjalanan profesionalnya di bidang kompetensi pesawat angkat dan angkut semakin kuat ketika pada 2020 ia menjadi asesor kompetensi.

Dengan pengalaman tersebut, Nanda kini aktif memberikan pelatihan dan pengembangan kompetensi K3 melalui KBS Training Center.

 

Bukan Sekadar Mengejar Sertifikat

KBS Training Center hadir untuk memberikan pelatihan K3 Umum bagi individu maupun perusahaan. Bagi Nanda, pelatihan K3 tidak boleh berhenti pada pemberian sertifikat.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan peserta benar-benar memahami risiko, mampu menerapkan prosedur keselamatan, dan memiliki kompetensi ketika kembali ke lingkungan kerja.

“Ilmu yang tidak dibagikan akan mati. Supaya makin banyak yang paham, makin banyak yang selamat,” katanya.

Selama perjalanan profesionalnya, Nanda telah memberikan pelatihan kepada ribuan tenaga kerja dan menangani kebutuhan K3 dari berbagai perusahaan.

Namun, di balik angka tersebut, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian utamanya: manusia.

Sebab, setiap pekerja yang berangkat bekerja bukan hanya memiliki tugas dan target yang harus diselesaikan. Ada keluarga yang menunggu mereka kembali ke rumah.

“Di balik setiap pekerja, ada keluarga yang menunggu,” ujarnya.

Pesan itu menjadi benang merah dari perjalanan Nanda. Dari seorang anak yang sejak kecil bermain dengan miniatur bulldozer, excavator dan crane, kemudian sempat mengejar cita-cita menjadi teknisi IT, hingga akhirnya kembali ke dunia K3 dan mendalami lifting.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pilihan hidup terkadang tidak berjalan sesuai rencana.

Namun, pengalaman, keluarga, kesempatan dan keberanian untuk terus belajar dapat membawa seseorang menemukan bidang yang benar-benar menjadi jalan hidupnya.

Bagi Nanda, dunia K3 bukan sekadar profesi.

Ada tanggung jawab besar di baliknya: memastikan sebanyak mungkin pekerja memahami risiko, bekerja dengan benar dan yang paling penting, pulang ke rumah dengan selamat. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *