<

Dari Way Kambas, Siswa Sesko TNI AD Temukan Karhutla Tak Cukup Dilawan dengan Penyuluhan

Perwira siswa Sesko TNI AD saat melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Penyuluhan tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata belum cukup untuk membuat masyarakat mampu menghadapi kebakaran. Temuan itu menjadi salah satu catatan penting 14 perwira siswa Sesko TNI AD saat melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Wilhan dan KKL Binsat di wilayah Kodam XXI/Radin Inten, Lampung.

Temuan tersebut didapat setelah para perwira siswa, didampingi satu perwira sebagai Perwira Penuntun (Patun) dari Seskoad, berdiskusi dengan masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Masyarakat, menurut hasil pengamatan di lapangan, sebenarnya sudah memahami bahaya karhutla. Mereka mengetahui pentingnya menjaga hutan, memahami risiko musim kemarau, serta dampak asap terhadap lingkungan dan kesehatan.

Persoalannya muncul ketika api benar-benar datang.

Masyarakat tidak selalu memiliki peralatan yang cukup untuk melakukan pemadaman awal.

“Mereka mengaku sudah bosan diberi penyuluhan terus ketika terjadi kebakaran hutan. Yang mereka butuhkan adalah alat untuk memadamkan api,” kata Perwira Penuntun Sesko TNI AD Kolonel Inf Hasroel, yang akrab disapa Aroel.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan lapangan tersebut. Sebab, masyarakat selama ini terus didorong untuk berperan dalam pencegahan karhutla, tetapi dukungan sarana di lapangan belum selalu sebanding dengan tuntutan tersebut.

Masyarakat diminta sigap ketika api muncul, tetapi sumber air berada jauh dari lokasi.

Mereka diminta menjaga kawasan, tetapi peralatan pemadam terbatas.

Kondisi itu membuat waktu menjadi persoalan penting. Ketika api baru muncul, masyarakat seharusnya dapat melakukan pemadaman sedini mungkin sebelum api meluas. Namun, tanpa pompa, selang dan sumber air yang memadai, upaya tersebut menjadi sulit dilakukan.

Temuan itu terlihat di sejumlah wilayah yang diamati, antara lain Desa Braja, Desa Labuhan Ratu dan Desa Rantau Jaya.

Selain persoalan sarana pemadaman, masyarakat juga menghadapi tekanan akibat kondisi kemarau. Cuaca panas dan berkurangnya ketersediaan air tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga berdampak pada aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari.

Ketika kebakaran terjadi, dampaknya kemudian meluas. Api tidak hanya membakar vegetasi, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, merusak lingkungan dan menurunkan kualitas udara.

Persoalannya semakin kompleks ketika kebakaran terjadi di kawasan konservasi seperti TNWK. Kebakaran dapat merusak habitat satwa, sumber air dan ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk kembali pulih.

Karena itu, para siswa Sesko TNI AD melihat penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada kegiatan sosialisasi.

Pencegahan tetap penting, tetapi harus disertai kemampuan masyarakat untuk melakukan tindakan awal.

Kepala Desa Toto Projo, dalam diskusi dengan rombongan, menyampaikan kebutuhan yang sangat konkret. Titik-titik yang selama ini sering terbakar perlu dilengkapi sumur bor dan selang sehingga masyarakat dapat segera bergerak ketika api muncul.

Ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting.

Semakin dekat sumber air dengan lokasi rawan, semakin cepat masyarakat dapat melakukan pemadaman. Begitu pula dengan keberadaan pompa dan selang yang memungkinkan air dialirkan ke lokasi kebakaran tanpa harus menunggu bantuan dari tempat lain.

Dengan dukungan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menerima imbauan, tetapi dapat menjadi garis pertahanan pertama ketika kebakaran mulai terjadi.

Dari hasil pengamatan itu, sejumlah kebutuhan dan rekomendasi kemudian muncul. Di antaranya pembentukan satuan tugas penanganan karhutla secara rutin pada periode rawan kebakaran, terutama Juli hingga Oktober.

Satgas diharapkan tidak baru bergerak setelah kebakaran terjadi. Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum api muncul.

Selain itu, peralatan pemadam perlu diinventarisasi dan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat. Titik sumber air juga perlu dipetakan, sementara sumur bor dan embung dapat dibangun di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sekat bakar juga menjadi bagian penting untuk memutus jalur rambatan api.

Edukasi masyarakat tetap diperlukan. Namun, materi penyuluhan harus berjalan bersama dengan dukungan nyata berupa pompa, selang, sumber air, alat pemadam serta sistem komunikasi yang memungkinkan laporan dan respons dilakukan dengan cepat.

Temuan tersebut menjadi semakin penting melihat kondisi TNWK sepanjang 2026. Balai TNWK mencatat 16 kejadian karhutla dengan akumulasi area terdampak mencapai 6.984 hektare hingga akhir Agustus.

Sementara pada Agustus 2026, kebakaran di kawasan Resort Kuala Penet dilaporkan menghanguskan sekitar 673 hektare kawasan, dengan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 1.800 hektare.

Kondisi medan bergambut, akses yang sulit dan keterbatasan sumber air membuat pemadaman menjadi tantangan tersendiri.

Bagi para siswa Sesko TNI AD, pengalaman di Way Kambas memberikan pelajaran bahwa penanganan karhutla bukan semata persoalan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Ada persoalan kesiapan.

Ada persoalan sarana.

Dan ada persoalan kecepatan respons.

Masyarakat yang sudah memahami bahaya karhutla tetap membutuhkan dukungan agar pengetahuan tersebut dapat berubah menjadi tindakan.

Sebab, ketika api baru mulai membakar semak, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar imbauan agar masyarakat waspada.

Yang dibutuhkan adalah sumber air yang dekat, pompa yang siap digunakan, selang yang tersedia dan orang-orang yang tahu bagaimana mengoperasikannya.

Dengan begitu, api dapat dilawan ketika masih kecil, sebelum berubah menjadi kebakaran besar yang menghanguskan kawasan hutan dan lahan.

Way Kambas akhirnya memberikan satu pelajaran sederhana bagi para perwira siswa: penyuluhan penting, tetapi kesiapan masyarakat dengan sarana nyata jauh lebih menentukan ketika api benar-benar datang. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *