Praktik Premanisme Ganggu Dunia Usaha di Batam, Perusahaan Offshore Jadi Korban: Ini Kata BP Batam

Praktik Premanisme Ganggu Dunia Usaha di Batam, Perusahaan Offshore Jadi Korban: Ini Kata BP Batam
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis saat berkunjung ke PT NOV Provab (dok bp batam)

Batam, Nagoyapos.com – Praktik premanisme kembali mencoreng dunia usaha di Batam. Kali ini, salah satu perusahaan besar di sektor offshore, PT NOV Profab, mengaku menjadi korban pemerasan dan intimidasi oleh oknum tak bertanggung jawab.

Hal tersebut terungkap saat kunjungan Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, ke fasilitas Profab yang berlokasi di Batuampar, Batam, pada Minggu (20/7/2025).

Example 300x600

“Kami tidak bisa biarkan satu atau dua oknum merusak iklim usaha dengan premanisme atau tekanan yang tidak berdasar,” tegas Fary.

Menurutnya, segala bentuk gangguan terhadap kegiatan investasi, termasuk pemerasan dan intimidasi yang dilakukan dengan mengatasnamakan ormas, tidak akan ditoleransi. BP Batam menilai tindakan seperti itu merusak reputasi Batam sebagai kawasan investasi unggulan Indonesia.

Profab, yang selama ini aktif merekrut tenaga kerja lokal, membuka program magang industri, dan menjalankan program CSR. Mereka meminta pemerintah agar diberi jaminan perlindungan dari praktik-praktik tidak sehat di lapangan.

“Profab mengaku butuh jaminan perlindungan dari pemerintah terhadap praktik-praktik tidak sehat,” lanjut Fary.

BP Batam pun memastikan akan memperkuat kerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menghapus segala bentuk gangguan dan tekanan terhadap pelaku usaha.

Situasi ini sangat krusial, mengingat Batam ditargetkan menyumbang investasi sebesar Rp 46,29 triliun demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 yang diproyeksikan di angka 4,7%–5%.

Data Kementerian Investasi dan BKPM mencatat realisasi investasi Batam pada triwulan pertama 2025 mencapai Rp 8,6 triliun. Singapura menjadi penyumbang investasi terbesar, disusul Malaysia, China, Taiwan, dan Hongkong.

Praktik premanisme dan intimidasi jelas menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan investasi dan pencapaian target pertumbuhan ekonomi Batam. (cr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *