<
Batam  

Kenduri Seni Melayu Batam, Lebih dari Sekadar Pesta Rakyat

Mempertahankan Warisan, Kebanggaan, dan Kualitas

Buralimar, pemerhati seni budaya dan pariwisata, menilai Kenduri Seni Melayu (KSM) Batam bukan sekadar pesta rakyat, tetapi juga menjadi ruang pelestarian warisan budaya, penguatan ekonomi kreatif, serta momentum memperkokoh marwah Melayu di tengah arus globalisasi.

Oleh: Buralimar

Pemerhati Seni Budaya dan Pariwisata

Tahun 2026 menjadi penanda penting bagi Kenduri Seni Melayu (KSM) Batam. Perhelatan budaya ini memasuki penyelenggaraan ke-27 sejak pertama kali digelar pada 1999. Berawal dari gagasan para seniman Melayu Batam dan Kepulauan Riau, KSM kini menjelma menjadi salah satu agenda budaya paling konsisten di Indonesia.

Di tengah banyaknya festival yang hanya berlangsung sesaat lalu menghilang, KSM tetap hadir setiap tahun. Konsistensi inilah yang membuat keberadaannya diakui, tidak hanya oleh masyarakat Batam, tetapi juga oleh berbagai daerah berakar budaya Melayu serta negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand Selatan.

Tema tahun ini, “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban”, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah filosofi. Layaknya petani yang menyemai benih, merawat, lalu memanen hasilnya, KSM terus ditanam setiap tahun sebagai ikhtiar menjaga, melestarikan, dan mewariskan seni budaya Melayu agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Bagi masyarakat Batam yang majemuk, KSM menjadi ruang silaturahmi budaya. Sementara bagi dunia Melayu, KSM merupakan etalase peradaban yang telah dijunjung tinggi sejak dahulu kala.

Ranggi bukan sekadar bermakna indah atau elok. Ranggi adalah simbol kebanggaan yang lahir dari kesungguhan menjaga marwah budaya Melayu agar tetap tegak dan berdaulat di tengah derasnya arus modernisasi.

Namun, KSM bukan hanya pesta rakyat. Lebih dari itu, perhelatan ini memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Melalui KSM, pelaku UMKM mendapat ruang untuk berkembang, mulai dari pedagang kuliner khas Melayu seperti lakse, mi lendir, dan teh tarik, hingga para perajin songket, tekat, tanjak, serta berbagai produk budaya lainnya.

Di sinilah KSM memainkan dua peran sekaligus, yakni sebagai penggerak pelestarian budaya dan motor penguatan ekonomi kerakyatan. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Sejak pertama kali digelar, KSM dikenal sebagai perhelatan budaya yang spektakuler dan selalu dinantikan. Berbagai provinsi berbudaya Melayu maupun delegasi dari negara serumpun berlomba-lomba hadir untuk menampilkan kekayaan tradisi masing-masing.

Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir gaung KSM sempat meredup. Nuansa, semangat, dan daya tariknya tidak lagi sekuat sebelumnya. Padahal, KSM diharapkan menjadi benteng pelestarian budaya Melayu sekaligus ruang revitalisasi warisan leluhur yang menjadi bagian penting dari identitas Batam.

Sebagai kota yang berada di jalur strategis kawasan, Batam memiliki peluang besar menjadi emporium budaya Melayu modern, tempat bertemunya perdagangan, budaya, dan gagasan tanpa kehilangan jati diri di tengah dinamika global.

Karena itu, KSM juga harus menjadi ruang regenerasi. Seniman Melayu saat ini semakin berusia lanjut, sementara jumlah generasi penerus masih terbatas. Jika KSM tidak dimanfaatkan sebagai wadah melahirkan talenta baru, maka berbagai warisan budaya seperti zapin, ghazal, mak yong, hingga Gurindam Dua Belas dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan sejarah.

Seperti yang pernah diingatkan budayawan Melayu Tenas Effendy, “Adat dipakai baru, kain dipakai usang. Kalau tak dihidupkan, budaya akan lapuk ditelan zaman.” Karena itu, regenerasi merupakan sebuah keharusan.

Di balik tabuhan kompang, lenggok zapin, alunan ghazal, lantunan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, hingga pertunjukan teater tradisional, perlu terus dilakukan pembaruan agar KSM semakin berkualitas.

Kurasi pertunjukan, tata panggung, narasi budaya, hingga strategi promosi harus terus ditingkatkan. KSM layak dipromosikan ke pasar internasional tanpa kehilangan roh dan jati diri Melayunya. Kedekatan Batam dengan Singapura dan Malaysia menjadi peluang besar untuk menjadikan KSM sebagai destinasi wisata budaya berskala regional.

Sebab, sebuah perhelatan budaya akan memiliki dampak yang lebih besar apabila mampu menarik wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara, sehingga budaya dan sektor pariwisata dapat tumbuh secara bersamaan.

Pada akhirnya, Kenduri Seni Melayu adalah cermin wajah peradaban Melayu yang bermarwah, beradat, dan berbudaya. Perhelatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus dirawat bersama.

Selamat atas terselenggaranya Kenduri Seni Melayu Batam 2026. Semoga semangat, nuansa, dan kualitas penyelenggaraannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Mari menjaga dan merawat Kenduri Seni Melayu agar generasi mendatang tetap dapat memetik ranggi peradaban yang kita semai hari ini.

Takkan Melayu hilang di bumi, selama kita bersama menjaganya. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *