<
Bisnis  

Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun, Bisnis Data Center dan Infrastruktur Digital Makin Moncer

Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun, Bisnis Data Center dan Infrastruktur Digital Makin Moncer
Jajaran Direksi Telkom pada RUPSLB Telkom 2026, beberapa waktu lalu. (dok telkom)

Jakarta, Nagoyapos.com – Transformasi bisnis PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mulai menunjukkan hasil positif. Di tengah persaingan industri telekomunikasi dan meningkatnya kebutuhan layanan digital, perusahaan pelat merah ini berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026.

Capaian tersebut tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Pertumbuhan terutama ditopang bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatatkan pendapatan Rp71,5 triliun atau meningkat 8,3 persen.

Dari sisi profitabilitas, Telkom membukukan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun, tumbuh 2 persen secara tahunan dengan margin 48,9 persen.

Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Adapun laba bersih normalisasi meningkat lebih tinggi, yakni 3,9 persen menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6 persen.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perusahaan terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30 dengan fokus memperkuat bisnis inti dan meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.

Menurutnya, peningkatan konsumsi layanan data dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital yang semakin andal menjadi peluang besar bagi TelkomGroup.

“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal,” ujar Nanang.

Bisnis Digital Jadi Mesin Pertumbuhan Telkom

Pertumbuhan Telkom hingga September 2026 ditopang sejumlah segmen usaha, mulai dari layanan seluler, internet rumah, infrastruktur digital, hingga bisnis teknologi informasi.

Pada segmen Business to Consumer (B2C), yang mencakup mobile dan fixed broadband, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen secara tahunan.

Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8 persen YoY. Kontribusi bisnis digital menjadi penopang utama dengan pendapatan Rp60,7 triliun atau tumbuh 7,7 persen.

Kinerja tersebut turut didukung peningkatan rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) seluler sebesar 7,1 persen menjadi Rp45.400. Sementara data yield meningkat 6,5 persen secara tahunan.

Di sisi layanan internet rumah, IndiHome mencatatkan pendapatan Rp19,1 triliun. Meski masih menghadapi penataan basis pelanggan, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan.

Pada kuartal III 2026, pelanggan IndiHome meningkat 1,2 persen secara kuartalan menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.

Bisnis Data Center Tumbuh 17 Persen, Target Kapasitas hingga 1 GW

Salah satu sektor yang menjadi perhatian TelkomGroup adalah pengembangan infrastruktur digital, terutama layanan data center yang permintaannya terus meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 17 persen secara tahunan menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026.

EBITDA perusahaan tersebut bahkan meningkat 35 persen dengan margin mencapai 40,9 persen.

Pertumbuhan ini didukung kontribusi fasilitas data center di Singapura dan Cikarang, termasuk meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis AI melalui layanan Neutra Compute.

Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW).

Untuk merealisasikan ambisi tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kemampuan teknis, memperluas akses pasar, sekaligus memperoleh dukungan pendanaan.

Selain data center, bisnis infrastruktur menara telekomunikasi melalui Mitratel juga mencatatkan pendapatan Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8 persen.

Sementara segmen B2B Infrastructure secara keseluruhan membukukan pendapatan Rp7,1 triliun, meningkat 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Batam Diproyeksikan Jadi Hub Kabel Laut Internasional

Pengembangan infrastruktur digital TelkomGroup juga membawa dampak strategis bagi Batam, Kepulauan Riau.

Kota industri yang berada di jalur strategis perdagangan internasional tersebut semakin diperkuat posisinya sebagai salah satu simpul konektivitas digital regional melalui pembangunan jaringan kabel laut internasional.

Telin, anak usaha TelkomGroup, terus memperluas jaringan konektivitas internasional melalui sejumlah proyek kabel laut.

Salah satunya adalah ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026. Selain itu, proyek INSICA ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.

Pengembangan jaringan tersebut menjadi bagian dari strategi TelkomGroup untuk mengintegrasikan konektivitas kabel laut dengan fasilitas data center NeutraDC.

Kehadiran infrastruktur ini diharapkan memperkuat posisi Batam sebagai hub kabel laut internasional sekaligus mendukung kebutuhan konektivitas perusahaan teknologi global, hyperscalers, dan penyedia layanan jaringan internasional.

“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia,” kata Nanang.

Ia menegaskan Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar layanan digital, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global.

Telkom Rampingkan 14 Entitas, Percepat Transformasi TLKM 30

Di tengah ekspansi bisnis digital, Telkom juga mempercepat transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30.

Program tersebut memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.

Salah satu prioritas utama adalah penyederhanaan struktur organisasi dan portofolio bisnis agar perusahaan lebih efisien, adaptif, serta fokus pada bisnis yang memberikan nilai tambah.

Hingga kuartal III 2026, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas perusahaan.

Rinciannya meliputi divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.

Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun, setara 13,8 persen dari total pendapatan.

Sebanyak 94,3 persen belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperkuat serta memperluas kapabilitas konektivitas digital.

Tonggak penting lainnya adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.

Melalui langkah tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.

Skema ini diharapkan membuka peluang pemanfaatan jaringan yang lebih optimal, meningkatkan komersialisasi infrastruktur, serta memperluas kemitraan strategis.

Nanang mengatakan transformasi melalui TLKM 30 akan terus dilanjutkan untuk menciptakan organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan lincah dalam menghadapi perubahan industri digital.

“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik,” tutupnya.

Risman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *