<
Batam  

Massa Desak DPP LIRA Copot Yusril Koto, Minta Maaf ke Warga Pulau Kasu

Ribuan warga Pulau Kasu dan Tanjung Riau menggelar aksi damai di depan kantor DPW LIRA Kepri, Batam Centre, Senin (15/6). Massa menyampaikan keberatan atas pernyataan terkait dugaan "proyek siluman" pada pembangunan batu miring di Pulau Kasu serta mendesak adanya klarifikasi dan permintaan maaf terbuka. Aksi berlangsung tertib dengan pengamanan aparat kepolisian.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Ribuan warga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, bersama masyarakat Tanjung Riau menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor DPW LIRA Kepulauan Riau, kawasan Ruko Batam Centre, Senin (15/6). Massa mendesak Gubernur LIRA Kepri, Yusril Koto, menyampaikan permintaan maaf terbuka dan dicopot dari jabatannya menyusul polemik pernyataannya terkait dugaan “proyek siluman” pada pembangunan batu miring di Pulau Kasu.

Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat yang menilai pernyataan Yusril Koto telah mencoreng nama baik warga Pulau Kasu dan masyarakat hinterland Kota Batam. Menurut mereka, penggunaan istilah “proyek siluman” menimbulkan stigma negatif terhadap masyarakat pulau.

Dalam orasinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan. Selain meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan pelanggaran yang berkaitan dengan pernyataan tersebut, mereka juga mendesak Yusril Koto menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial maupun media massa.

“Kami meminta Yusril Koto meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Pulau Kasu dan Kota Batam. Kami juga meminta aparat penegak hukum mengusut persoalan ini sesuai aturan yang berlaku,” tegas salah seorang orator.

Tak hanya itu, massa juga mendesak Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LIRA untuk mencopot Yusril Koto dari jabatannya sebagai Gubernur LIRA Kepri. Menurut mereka, pernyataan tersebut telah memicu kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat.

Dalam aksi tersebut, sejumlah peserta bahkan menyerukan agar Yusril Koto meninggalkan Kota Batam. Seruan tersebut beberapa kali menggema di tengah demonstrasi sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap pernyataan yang dinilai merugikan masyarakat Pulau Kasu.

Suasana sempat memanas ketika tidak ada satu pun perwakilan LIRA Kepri yang menemui massa. Warga mengaku kecewa karena berharap dapat memperoleh penjelasan langsung terkait pernyataan yang menjadi polemik tersebut.

“Kami bukan warga siluman. Kami anak pulau. Kami hanya ingin nama baik masyarakat dipulihkan,” teriak seorang orator yang disambut sorakan peserta aksi.

Salah seorang warga Pulau Kasu, Jaya Laksana, menegaskan masyarakat tidak dapat menerima tudingan yang dianggap tidak berdasar. Menurutnya, istilah “proyek siluman” secara tidak langsung menjadi tuduhan yang merugikan masyarakat.

“Kami masyarakat Pulau Kasu merasa tersinggung dengan pernyataan itu. Jangan asal menyebut dan menuding tanpa data yang jelas. Kami hanya ingin persoalan ini diselesaikan secara terbuka,” ujarnya.

Jaya menambahkan masyarakat berencana melaporkan persoalan tersebut ke Polresta Barelang dan berharap proses hukum dapat berjalan secara objektif.

“Kami ingin ada permintaan maaf terbuka sehingga persoalan ini tidak terus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” katanya.

Aksi tersebut mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian yang dipimpin Wakapolresta Barelang AKBP Fadli Agus. Meski berlangsung dengan tensi tinggi, demonstrasi tetap berjalan tertib dan kondusif.

Fadli mengapresiasi masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai serta mengimbau seluruh pihak menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Kota Batam.

“Kami menghargai aspirasi masyarakat. Jika merasa dirugikan, silakan menempuh jalur hukum. Yang terpenting situasi Batam tetap aman dan kondusif,” ujarnya.

Polemik ini bermula dari pernyataan Yusril Koto yang menyoroti proyek pembangunan batu miring di Pulau Kasu dan meminta adanya transparansi dalam pelaksanaannya. Namun narasi yang menyebut adanya “proyek siluman” mendapat penolakan keras dari tokoh masyarakat, pemuda, serta Forum RT/RW Pulau Kasu.

Hingga kini, masyarakat menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada klarifikasi dan permintaan maaf terbuka dari Yusril Koto. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *