<

Siswa Sesko TNI AD Bongkar Masalah Karhutla Way Kambas: Warga Bukan Kurang Penyuluhan, Tapi Kekurangan Alat

Siswa Sesko TNI AD Bongkar Masalah Karhutla Way Kambas: Warga Bukan Kurang Penyuluhan, Tapi Kekurangan Alat
Patun Sesko TNI AD, Kolonel Inf Hasroel bersama perwira siswanya di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. (dok sesko tni ad)

Lampung Timur, Nagoyapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, menyisakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana memadamkan api.

Temuan para siswa perwira Sesko TNI AD di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan hutan sebenarnya sudah memahami bahaya karhutla. Mereka tahu api dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, mengancam habitat satwa, hingga mengganggu aktivitas ekonomi.

Namun, ketika api benar-benar muncul, persoalannya berubah.

Masyarakat membutuhkan peralatan untuk melawan api.

Temuan tersebut muncul saat 14 perwira siswa Sesko TNI AD, didampingi satu perwira penuntun (Patun) dari Seskoad, melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Wilhan dan KKL Binsat serta penyuluhan karhutla di wilayah Kodam XXI/Radin Inten, Provinsi Lampung.

Way Kambas menjadi salah satu lokasi penting untuk melihat langsung persoalan karhutla dari sisi masyarakat.

Di kawasan tersebut, api bukan ancaman teoritis.

Pada Agustus 2026, kebakaran di kawasan Resort Kuala Penet dilaporkan menghanguskan sekitar 673 hektare kawasan, sementara luas lahan yang terdampak mencapai lebih dari 1.800 hektare.

Medan bergambut, akses menuju lokasi yang sulit, serta keterbatasan sumber air membuat pemadaman menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

Warga Sudah Tahu, Tapi Tidak Punya Peralatan

Perwira Penuntun Sesko TNI AD, Kolonel Inf Hasroel, menemukan persoalan menarik saat berdialog dengan masyarakat dan komunitas di sekitar TN Way Kambas.

Masyarakat mengaku sudah berulang kali mendapatkan penyuluhan mengenai bahaya kebakaran hutan.

Namun, mereka merasa kebutuhan paling mendesak ketika kebakaran terjadi bukan lagi materi sosialisasi.

Mereka membutuhkan pompa, selang dan sumber air.

“Mereka mengaku sudah bosan diberi penyuluhan terus ketika terjadi kebakaran hutan. Yang mereka butuhkan adalah alat untuk memadamkan api,” kata Aroel, sapaan akrab Hasroel.

Pernyataan tersebut menjadi catatan penting dari kegiatan lapangan para siswa perwira.

Sebab, masyarakat tidak selalu kekurangan pengetahuan.

Yang menjadi masalah adalah kesenjangan antara pengetahuan dan kemampuan bertindak.

Masyarakat diminta sigap ketika api muncul, tetapi belum tentu memiliki pompa.

Masyarakat diminta menjaga kawasan, tetapi sumber air bisa berada jauh dari lokasi kebakaran.

Masyarakat diminta mencegah kebakaran meluas, tetapi peralatan pemadam yang tersedia masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, kecepatan menjadi faktor penentu.

Api tidak menunggu bantuan datang.

Sumur Bor Jadi Kebutuhan Mendesak

Persoalan tersebut terlihat di sejumlah wilayah yang diamati, antara lain Desa Braja, Desa Labuhan Ratu dan Desa Rantau Jaya.

Kemarau membuat kondisi lingkungan semakin kering. Ketersediaan air untuk pertanian ikut berkurang, sementara vegetasi yang mengering meningkatkan potensi api berkembang cepat.

Kepala Desa Toto Projo bahkan menyampaikan kebutuhan yang sangat konkret.

Titik-titik yang sering terbakar perlu dilengkapi sumur bor dan selang, sehingga masyarakat dapat langsung melakukan pemadaman ketika api mulai muncul.

Konsepnya sederhana.

Semakin dekat sumber air dengan lokasi rawan kebakaran, semakin cepat masyarakat dapat melakukan tindakan awal.

Jika pompa dan selang tersedia, masyarakat tidak harus menunggu peralatan datang dari lokasi lain.

Dengan pelatihan yang memadai, masyarakat juga dapat menjadi garis pertahanan pertama sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.

Karhutla Way Kambas Sudah Menjadi Masalah Berulang

Persoalan ini menjadi semakin serius karena karhutla di TN Way Kambas bukan kejadian yang muncul sekali.

Balai TN Way Kambas mencatat 16 kejadian karhutla dengan akumulasi area terdampak mencapai 6.984 hektare hingga akhir Agustus 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang harus dihadapi bukan hanya memadamkan satu titik api.

Tantangan sebenarnya adalah memutus siklus kebakaran yang terus berulang.

Apalagi kawasan konservasi seperti Way Kambas memiliki nilai ekologis yang jauh lebih besar daripada sekadar luasan hutan yang terbakar.

Di dalamnya terdapat habitat satwa, sumber air, vegetasi, rantai makanan dan ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk kembali pulih.

Api mungkin hanya membutuhkan waktu singkat untuk menghanguskan kawasan.

Namun, alam bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.

Jangan Tunggu Asap Baru Bentuk Satgas

Dari hasil pengamatan lapangan, para siswa perwira Sesko TNI AD mendorong perubahan pola penanganan karhutla.

Salah satu rekomendasinya adalah membentuk satuan tugas penanganan karhutla tahunan pada periode Juli hingga Oktober di wilayah yang memiliki kawasan hutan dan lahan rawan terbakar.

Artinya, satgas tidak dibentuk setelah asap membubung.

Satgas harus sudah siap ketika musim kemarau mulai meningkatkan risiko kebakaran.

Selain itu, ketersediaan peralatan pemadam perlu diinventarisasi secara berkala.

Titik-titik sumber air juga perlu dipetakan dan diintegrasikan dengan sistem penanganan karhutla.

Bendungan dapat dioptimalkan, sementara sumur bor dan embung perlu dibangun di kawasan rawan kebakaran dengan memperhitungkan jangkauan masyarakat.

Sekat bakar juga menjadi bagian penting untuk menghambat laju penjalaran api.

Sementara edukasi tetap harus dilakukan, tetapi tidak boleh berdiri sendiri.

Penyuluhan harus berjalan bersama sarana.

Masyarakat perlu mendapatkan pengetahuan sekaligus kemampuan untuk bertindak.

Dari Penyuluhan ke Aksi

Temuan di Way Kambas memberikan pelajaran penting tentang bagaimana negara seharusnya hadir dalam menghadapi bencana.

Penyuluhan tetap diperlukan.

Masyarakat tetap harus memahami bahaya membakar lahan sembarangan dan pentingnya menjaga kawasan hutan.

Namun, setelah pesan disampaikan, masyarakat juga harus memiliki alat untuk melakukan tindakan nyata.

Pompa. Selang. Sumber air. Peralatan pemadam. Sistem komunikasi. Dan personel yang terlatih.

Sebab pengetahuan tanpa sarana hanya membuat masyarakat tahu bahwa mereka sedang menghadapi bahaya, tetapi belum tentu mampu mengatasinya.

Di sinilah kegiatan lapangan para siswa perwira Sesko TNI AD menemukan makna yang lebih luas.

Pertahanan dan keamanan masyarakat tidak selalu berbicara tentang senjata.

Ia juga berbicara tentang bagaimana masyarakat mendapatkan akses terhadap air saat kemarau, bagaimana udara tetap dapat dihirup tanpa asap, dan bagaimana hutan terlindungi dari kebakaran.

Hutan Tidak Terbakar karena Kekurangan Spanduk

Way Kambas akhirnya memberikan sebuah pelajaran sederhana.

Hutan tidak terbakar karena kurangnya spanduk atau penyuluhan.

Api muncul ketika kekeringan, bahan bakar, angin, kelengahan dan ketidaksiapan bertemu dalam waktu yang sama.

Karena itu, pendekatan terhadap karhutla harus bergerak dari sekadar kampanye menuju kesiapsiagaan nyata.

Masyarakat tidak sedang menunggu pidato panjang.

Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa digunakan ketika api mulai menjalar.

Ada air. Ada pompa. Ada selang. Ada orang yang terlatih.

Dan yang paling penting, ada sistem yang bergerak sebelum kebakaran berubah menjadi bencana besar.

Sebab ketika hutan sudah merah oleh api, masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak kalimat tentang bahaya kebakaran.

Mereka membutuhkan seseorang yang menarik selang, menyalakan pompa, membuka aliran air dan mulai memadamkan api.

Sebelum api menjalar. Sebelum asap memenuhi udara. Dan sebelum hutan kembali hanya menjadi angka dalam sebuah laporan.

RM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *