<

Misteri Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda: 10 Hari Dicari, Tak Ada Jejak Speedboat

Misteri Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda: 10 Hari Dicari, Tak Ada Jejak Speedboat
Setelah 10 hari melakukan pencarian dan tidak ada hasil, SAR menghentikan pencarian lima jurnalis tiga crew kapal (ilustrasi)

Banten, Nagoyapos.com – Harapan menemukan lima jurnalis foto dan tiga kru speedboat yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau harus menghadapi titik berat. Setelah 10 hari pencarian, Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian di perairan Selat Sunda.

Keputusan tersebut diambil setelah operasi SAR berlangsung selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang selama tiga hari. Namun, hingga pencarian dihentikan, tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan speedboat maupun delapan orang yang berada di dalamnya.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, seluruh upaya pencarian melalui operasi laut, darat, dan udara belum membuahkan hasil.

“Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” kata Andra Soni.

13 Objek Ditemukan, Tapi Bukan Speedboat yang Dicari

Dalam proses pencarian, Tim SAR Gabungan sempat menemukan 13 objek di sejumlah titik yang diduga berpotensi berkaitan dengan speedboat yang hilang.

Namun, setelah dilakukan konfirmasi dan pemeriksaan bersama seluruh pihak terkait, ke-13 objek tersebut dipastikan tidak memiliki kaitan dengan kapal maupun delapan orang yang hilang kontak.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Tim SAR Gabungan untuk menghentikan operasi setelah pencarian dilakukan secara maksimal selama 10 hari.

“Maka dengan berat hati, pelaksanaan operasi gabungan ini, oleh pihak yang berkepentingan, pihak yang memiliki kewenangan, dinyatakan dihentikan,” ujar Andra Soni.

Pencarian Bisa Dibuka Kembali Jika Ada Petunjuk Baru

Meski operasi resmi dihentikan, pencarian tidak sepenuhnya ditutup. Pemerintah dan seluruh unsur SAR tetap membuka kemungkinan operasi kembali dilakukan apabila muncul informasi atau temuan baru.

Andra Soni meminta masyarakat, khususnya nelayan dan kapal yang melintas di perairan Selat Sunda, ikut memperhatikan kemungkinan adanya petunjuk mengenai keberadaan speedboat maupun para penumpangnya.

“Bilamana ada informasi dari masyarakat, baik nelayan atau kapal yang melintas, atau pihak mana pun, operasi ini bisa dihidupkan kembali atau dilaksanakan kembali bilamana ada penemuan baru,” ujarnya.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad juga menegaskan pihaknya akan tetap memantau informasi dari berbagai sumber.

Pemantauan terutama dilakukan terhadap laporan dari kapal nelayan, kapal patroli, maupun kapal lain yang beraktivitas dan melintas di kawasan Selat Sunda.

“Yang akan menjadi ujung tombak kami bila menemukan tanda-tanda lebih lanjut,” kata Al Amrad.

Pencarian Diperluas hingga Samudera Hindia

Operasi pencarian sebelumnya tidak hanya difokuskan di sekitar lokasi awal hilang kontak. Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian hingga Samudera Hindia, pesisir Lampung, pesisir Bengkulu, serta sejumlah pulau tidak berpenghuni di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pencarian dilakukan melalui jalur laut, darat, dan udara dengan melibatkan berbagai unsur.

Namun, setelah 10 hari operasi, belum ditemukan bukti yang dapat memastikan keberadaan speedboat maupun delapan orang yang berada di dalamnya.

Daftar 8 Orang yang Hilang Kontak

Delapan orang yang menjadi fokus pencarian terdiri dari tiga kru dan lima jurnalis, yakni:

1. Warta, kapten speedboat.
2. Surakman, anak buah kapal (ABK).
3. Heriyanto, guide.
4. M. Bagus Khoerunnas, jurnalis foto ANTARA.
5. Arie Basuki, jurnalis Merdeka.
6. Yudhistiro Pranoto, jurnalis iNews.
7. Firdaus Wajidi, jurnalis Anadolu.
8. Donal Husni, jurnalis freelance.

Kedelapan orang tersebut dilaporkan hilang kontak ketika berada di kawasan Selat Sunda untuk menjalankan aktivitas peliputan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau.

Penghentian operasi SAR setelah 10 hari pencarian menjadi akhir dari misi pencarian intensif untuk sementara waktu. Meski demikian, peluang operasi kembali dibuka tetap ada apabila masyarakat, nelayan, kapal patroli, atau kapal yang melintas menemukan informasi maupun tanda-tanda baru terkait keberadaan mereka.

RM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *