Teheran, Nagoyapos.com — Iran kembali menunjukkan pesan keras di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Dalam sebuah pawai besar di Teheran pada Jumat (18/9/2026), anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membawa dua peti mati simbolis yang masing-masing menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Peti mati tersebut ditutup dengan bendera Amerika Serikat dan Israel. Aksi itu menjadi bagian dari pawai bertajuk Janfaday-e Iran, yang oleh penyelenggara digunakan untuk memperlihatkan kesiapan pertahanan dan mobilisasi masyarakat Iran menghadapi kemungkinan konflik baru.
Selain membawa simbol Trump dan Netanyahu, peserta pawai juga meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel. Sejumlah peserta bahkan terlihat menginjak-injak bendera kedua negara tersebut.
Bukan Sekadar Pawai Militer
Pemandangan di jalanan Teheran tidak hanya dipenuhi personel militer. Warga yang mengenakan seragam tempur juga ikut berjalan membawa bendera Iran.
Media pemerintah Iran memperkirakan lebih dari 300.000 orang berada di jalan-jalan Teheran pada Jumat pagi. Sementara itu, komandan Garda Revolusi di Teheran, Jenderal Hassan Hassanzadeh, mengatakan lebih dari 600.000 orang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan militer. Jumlah tersebut disebut berpotensi menembus lebih dari 1 juta peserta.
Program tersebut ditujukan untuk memberikan pelatihan militer terbatas kepada warga dan menjadi tambahan kekuatan pertahanan di luar IRGC dan pasukan Basij.
Kepala Basij, Hossein Taeb, mengatakan para relawan akan dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan serangan terhadap Iran.
“Pertahanan penuh,” kata Taeb dalam pidatonya saat pawai dimulai.
Ia juga menyebut para relawan yang menjalani pelatihan nantinya akan menjadi “mimpi buruk” bagi musuh Iran.
Senjata dan Peralatan Militer Dipamerkan
Pawai tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Iran untuk memperlihatkan sejumlah peralatan militernya.
Baterai antipesawat dan berbagai perangkat militer ditampilkan di hadapan massa. Iran juga memamerkan drone yang dikaitkan dengan operasi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik panas dalam konflik regional.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama sejumlah komandan militer dan pejabat senior turut menyaksikan jalannya pawai.
Bagi pemerintah Iran, mobilisasi tersebut menjadi pesan mengenai kesiapan menghadapi ancaman eksternal sekaligus upaya menunjukkan persatuan nasional di tengah tekanan ekonomi dan konflik yang berkepanjangan.
Warga Iran Klaim Tak Takut Ancaman Trump
Sejumlah peserta pawai menyampaikan dukungan terhadap pemerintah dan menegaskan bahwa mereka tidak takut menghadapi ancaman Amerika Serikat.
Seorang peserta, Marzieh Afaghi, 24 tahun, mengatakan kehadirannya merupakan bentuk pesan kepada Trump bahwa warga Iran tidak takut terhadap ancaman terhadap negaranya. Pernyataan tersebut dikutip dalam laporan mengenai pawai tersebut.
Di tengah aksi, slogan “Death to America” dan “Death to Israel” juga terdengar dari massa.
Pawai ini berlangsung ketika ketegangan Iran-AS kembali meningkat. Reuters melaporkan pada 20 September bahwa Iran memperingatkan akan memberikan respons keras jika terjadi serangan baru Amerika Serikat, sementara Washington dan Teheran masih menghadapi konflik serta ketegangan terkait jalur pelayaran strategis di kawasan.
Dengan demikian, peti mati bergambar Trump dan Netanyahu menjadi salah satu simbol paling mencolok dalam pawai tersebut. Namun, pesan yang lebih luas terlihat dari pengerahan massa, perekrutan relawan, serta pameran peralatan militer Iran di jalan-jalan Teheran.
RM














