NagoyaPos.Com-Di Tengah persoalan sampah yang masih menjadi pemandangan di berbagai sudut kota, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam mengingatkan pentingnya kembali ke nilai-nilai Melayu dan ajaran Islam dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ketua LAM Batam, YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin, menegaskan bahwa kebersihan merupakan bagian dari marwah (kehormatan) orang Melayu sekaligus wujud keimanan.
“Kebersihan itu marwah kita, dan Rasulullah SAW telah mencontohkan, keindahan adalah bagian dari iman,” ujar Dato’ Amin, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, persoalan sampah di Batam bukan hanya masalah teknis, melainkan cermin dari perilaku dan kesadaran budaya masyarakat. Hilangnya rasa malu dan tanggung jawab sosial menjadi akar lemahnya kepedulian terhadap kebersihan.
“Kita ingin menumbuhkan kembali nilai baik yang ada dalam resam Melayu-Islam, meneladani Rasulullah SAW yang cinta kebersihan. Di ujung nyawa pun Beliau masih bersiwak untuk menghadap Rabbul Jalil. Allah suka dengan keindahan,” tuturnya.
Dato’ Amin menambahkan, pengelolaan sampah di Batam masih menghadapi tantangan seperti penumpukan dan pemanfaatan yang belum maksimal, keterbatasan armada pengangkut, rendahnya kesadaran masyarakat, hingga lemahnya penegakan hukum bagi pelaku pembuang sampah sembarangan.
Namun menurutnya, masalah yang lebih mendasar justru terletak pada pudarnya nilai budaya dan sosial masyarakat Melayu-Islam di tengah arus modernitas.
“Dalam adat kita, orang Melayu itu punya malu dan tahu budi. Kalau membuang sampah sembarangan, itu bukan sekadar kotor, tapi aib karena menyalahi ajaran dan marwah kita sendiri,” ujarnya.
LAM Kepri Kota Batam berkomitmen membantu pemerintah melalui pendekatan budaya dalam program kebersihan kota. Lembaga ini akan menyampaikan pesan Batam Bersih atau Batam Green City lewat pantun, nasihat adat, majelis taklim, dan gotong royong kampung.
LAM juga tengah menyiapkan kampung percontohan adat bersih, wilayah yang mengelola kebersihan secara mandiri berdasarkan nilai adat dan agama. Prinsip Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah akan menjadi dasar moral untuk menegakkan sanksi sosial bagi warga yang melanggar nilai kebersihan lingkungan.
“Bisa saja ada bentuk teguran adat bagi yang membuang sampah sembarangan, dan sebaliknya penghargaan bagi yang menjaga kebersihan. Kita hidupkan kembali rasa malu sosial itu,” kata Dato’ Amin.
Selain masyarakat, LAM juga menggandeng dunia usaha dan lembaga pendidikan melalui gerakan CSR Adat Hijau, program sosial lingkungan berbasis kearifan lokal. Sekolah dan kampus diharapkan menjadi ruang penanaman nilai kebersihan dan kepedulian sejak dini.
LAM menegaskan komitmennya untuk mewujudkan Batam Madani — kota yang bersih, beradab, dan berakar pada nilai Melayu-Islam.
“Kalau anak-anak Melayu dari kecil sudah diajarkan pantun tentang bersih, petuah tentang jernih, dan malu pada kotor, maka Insya Allah Batam ini takkan tenggelam oleh sampah,” ujar Dato’ Amin.
Di akhir pesannya, Ketua LAM Batam menegaskan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya urusan kota, melainkan urusan marwah.
“Menjaga Batam tetap bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga bagian dari ibadah dan adat kita. Mulailah dari rumah, dari halaman, dari diri sendiri. Itulah adat, itulah iman,” pungkasnya.(**)
Reporter : Herry














