Batam, Nagoyapos.com – Kelangkaan Pertalite di sejumlah SPBU Pertamina belakangan ini mulai menjadi sorotan masyarakat. Di berbagai kota besar hingga wilayah penyangga, banyak pengendara mengeluhkan stok BBM subsidi tersebut yang kerap kosong bahkan sebelum malam hari.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Tak sedikit yang mulai menduga kondisi tersebut menjadi sinyal adanya penghapusan Pertalite secara bertahap oleh pemerintah.
Sejumlah SPBU bahkan terlihat memasang pemberitahuan “Pertalite Habis”, membuat masyarakat yang bergantung pada BBM subsidi terpaksa beralih menggunakan Pertamax dengan harga yang lebih mahal.
Kondisi ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi pengendara roda dua, pelaku UMKM, pengemudi ojek online, hingga pekerja sektor informal yang memiliki mobilitas tinggi setiap hari.
Beberapa warga mengaku pengeluaran harian meningkat karena terpaksa membeli bahan bakar nonsubsidi saat stok Pertalite tidak tersedia.
Benarkah Pertalite Akan Dihapus?
Di tengah isu yang berkembang, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia sekaligus pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai kelangkaan Pertalite bukan sekadar persoalan distribusi biasa.
Menurutnya, pemerintah memang telah lama memiliki agenda untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM subsidi karena beban subsidi energi yang terus meningkat.
“Pertalite memang sejak dulu arahnya mau dihilangkan karena subsidi pemerintah semakin berat,” ujar Agus, dikutip dari laporan media.
Ia menjelaskan, kondisi fiskal negara semakin terbebani oleh subsidi energi, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan impor bahan bakar dan fluktuasi harga minyak dunia.
“Uang subsidinya makin besar. Beban negara juga berat. Jadi cepat atau lambat akan diarahkan ke BBM yang kualitasnya lebih tinggi,” katanya.
Alasan Lingkungan Jadi Pertimbangan
Selain faktor ekonomi, isu lingkungan juga disebut menjadi salah satu alasan utama di balik wacana pengurangan penggunaan Pertalite.
Pemerintah saat ini diketahui tengah mendorong penerapan standar emisi Euro 4 untuk menekan polusi udara dan meningkatkan kualitas lingkungan, terutama di wilayah perkotaan.
Namun, bahan bakar dengan oktan RON 90 seperti Pertalite dinilai belum sepenuhnya mendukung standar tersebut.
Kendaraan generasi baru disebut lebih ideal menggunakan bahan bakar minimal RON 92 seperti Pertamax agar emisi lebih rendah dan performa mesin lebih optimal.
“Ke depan memang arahnya ke Euro 4. Kalau standar emisi naik, maka kualitas BBM juga harus naik. Minimal masyarakat diarahkan menggunakan Pertamax,” ujar Agus.
Pertamina Buka Suara Soal Kelangkaan Pertalite
Meski isu penghapusan Pertalite kembali mencuat, pemerintah dan Pertamina menegaskan belum ada keputusan resmi terkait penghapusan BBM subsidi tersebut dalam waktu dekat.
Pertamina memastikan distribusi Pertalite tetap berjalan sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah.
Adapun kelangkaan yang terjadi di sejumlah wilayah disebut lebih dipengaruhi oleh tingginya konsumsi masyarakat dan pengaturan distribusi di lapangan.
Pemerintah juga menegaskan setiap kebijakan terkait subsidi BBM akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat agar tidak menimbulkan gejolak.
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat penting untuk terus memantau perkembangan kebijakan energi nasional, terutama terkait ketersediaan BBM subsidi yang masih menjadi kebutuhan utama jutaan pengguna kendaraan di Indonesia.
Editor: Risman


















