<

Kapal Nelayan Asal Tanjung Pandan Ditabrak Kapal Kargo di Perairan Tambelan, Satu ABK Selamat Empat Masih Dicari

Ketua DPD HNSI Kepri Distrawandi (tengah) bersama Khoirul (kiri), salah satu ABK KM Putra Buluh yang ditemukan selamat setelah terapung sekitar dua hari di laut akibat kecelakaan kapal di perairan sekitar Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Bintan.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Kecelakaan laut menimpa KM Putra Buluh, kapal nelayan asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, yang beroperasi di perairan Selat Karimata, tidak jauh dari Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan.

Kapal tersebut dilaporkan ditabrak kapal kargo pada Sabtu (8/8) sekitar pukul 02.00 WIB. Dari lima orang yang berada di atas kapal, satu orang ABK bernama Khoirul (31) berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara empat lainnya masih dalam pencarian.

Informasi awal mengenai kejadian tersebut disampaikan Kepala UPT Perikanan Tambelan, Firman, yang kemudian diteruskan kepada Ketua DPC HNSI Bintan, David, untuk dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak terkait.

Laporan tersebut selanjutnya diteruskan kepada Ketua DPD HNSI Provinsi Kepri, Distrawandi, terkait kondisi para nelayan dan proses pencarian korban.

Distrawandi mengatakan, KM Putra Buluh merupakan kapal nelayan asal Tanjung Pandan yang selama ini beroperasi di perairan Selat Karimata.

“Informasi awal kejadian ini kami terima dari Kepala UPT Perikanan Tambelan, Pak Firman, kemudian diteruskan kepada Ketua DPC HNSI Bintan, David. Dari sana informasi ini kami tindaklanjuti dan koordinasikan,” ujar Distrawandi, Senin (10/8).

Menurutnya, kapal tersebut berasal dari Pulau Belitung, tepatnya Tanjung Pandan. Para nelayan yang berada di atas kapal juga merupakan nelayan Tanjung Pandan dan berdomisili di wilayah tersebut.

“KM Putra Buluh ini berasal dari Belitung, Tanjung Pandan. Mereka nelayan Tanjung Pandan dan memang beroperasi di perairan Selat Karimata, yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan,” katanya.

Lima nelayan yang berada di atas KM Putra Buluh masing-masing Samsir (25), Samsu (50), Tono (40), Irfan (29), dan Khoirul (31).

Berdasarkan keterangan sementara dari korban yang ditemukan, kecelakaan terjadi ketika para ABK sedang beristirahat. Sekitar pukul 02.00 WIB, KM Putra Buluh tiba-tiba mengalami benturan keras setelah diduga ditabrak kapal kargo yang disebut sedang menuju Kalimantan.

Benturan tersebut membuat kapal nelayan mengalami kerusakan parah hingga terbelah menjadi dua bagian.

Khoirul kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke bagian kapal yang masih terapung. Ia sempat mencari rekan-rekannya menggunakan senter, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka.

Khoirul kemudian bertahan di laut menggunakan tutup fiber. Setelah sekitar dua hari terapung, ia ditemukan oleh KM Lima Saudara Kandung yang dinakhodai Hendri bersama empat ABK.

Korban ditemukan pada Senin (10/8) sekitar pukul 09.00 WIB, di wilayah perairan sekitar timur tenggara Pulau Tambelan, sekitar 12 mil dari Pulau Tambelan.

Saat ditemukan, Khoirul dalam kondisi lemas. Ia kemudian dibawa ke Posal sekitar pukul 12.12 WIB untuk mendapatkan penanganan dan dimintai keterangan awal.

Distrawandi mengatakan, keterangan dari korban yang selamat menjadi informasi penting untuk membantu proses pencarian empat nelayan lainnya.

“Satu orang sudah ditemukan dalam kondisi selamat, tetapi empat lainnya masih belum ditemukan. Kami berharap pencarian bisa segera dimaksimalkan dengan melibatkan seluruh unsur terkait dan nelayan yang berada di sekitar lokasi,” ujarnya.

Keempat nelayan yang masih dalam pencarian yakni Samsir (25), Samsu (50), Tono (40), dan Irfan (29).

Distrawandi juga berharap identitas kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh dapat segera diketahui dan dilakukan pendalaman oleh pihak berwenang.

“Kami berharap identitas kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh segera diketahui. Yang paling utama saat ini adalah pencarian empat nelayan yang masih hilang. Setelah itu, kronologi dan penyebab kecelakaan juga perlu didalami,” katanya.

Ia menegaskan HNSI Kepri siap membantu proses koordinasi dengan HNSI Bintan, nelayan di lapangan maupun pihak keluarga korban di Tanjung Pandan.

“Kami terus berkoordinasi dengan HNSI Bintan dan pihak terkait. Mudah-mudahan empat nelayan yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi selamat,” tutup Distrawandi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *