Sarawak, Nagoyapos.com – Kabut asap kembali menjadi persoalan lintas batas di Asia Tenggara. Kali ini dampaknya terasa hingga Malaysia.
Kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap memaksa pihak berwenang di Negara Bagian Sarawak menutup hampir 600 sekolah dan menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka.
Penutupan dilakukan setelah Indeks Pencemaran Udara atau API di sejumlah wilayah Sarawak masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Dikutip BBC, Sabtu (22/8/2026), Jabatan Pendidikan Negeri (JPN) Sarawak menyatakan kebijakan tersebut diberlakukan untuk melindungi kesehatan para pelajar dari paparan asap.
Sebanyak 509 sekolah dasar dengan 107.590 siswa dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa terdampak kebijakan tersebut.
Dengan demikian, total sekolah yang ditutup mencapai 591 sekolah.
Penutupan berlaku pada 20 hingga 21 Agustus 2026.
Serian Paling Parah, Indeks Udara Sempat Tembus 239
Wilayah yang terdampak penutupan sekolah meliputi Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong.
Distrik Serian menjadi salah satu wilayah dengan kondisi paling mengkhawatirkan. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat, Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia atau APIMS, API di Serian tercatat mencapai 191, yang masuk kategori tidak sehat.
Sehari sebelumnya, kondisi udara di wilayah tersebut bahkan sempat mencapai angka 239, atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Sejumlah wilayah lain juga mengalami penurunan kualitas udara.
Kuching mencatat API 181, Samarahan 178, Sri Aman 174, dan Sarikei 171.
Sementara itu, Sibu mencatat angka 160. Wilayah Samalaju, Bintulu, dan Mukah masing-masing berada pada angka 156. Adapun Miri mencatat API 151.
Dalam sistem pengukuran Malaysia, API 0–50 dikategorikan baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Titik Panas di Kalimantan Jadi Sorotan
Memburuknya kondisi udara di Sarawak terjadi ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan masih berlangsung.
Data satelit Fire Information for Resource Management System atau FIRMS milik NASA menunjukkan aktivitas kebakaran yang cukup luas di Kalimantan pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Sejumlah titik panas terpantau di wilayah Indonesia yang berada dekat dengan perbatasan Sarawak.
Pada 21 Agustus 2026, pemantauan satelit NASA-NOAA mencatat 1.842 titik panas di lima provinsi di Kalimantan.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 976 titik panas.
Kalimantan Barat berada di urutan berikutnya dengan 489 titik. Kemudian Kalimantan Timur tercatat 237 titik panas, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik.
Besarnya jumlah titik panas tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya bencana kabut asap yang pernah melanda Asia Tenggara.
Karhutla Terjadi di Sejumlah Wilayah Kalimantan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB juga mencatat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kebakaran terjadi di Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau.
Kebakaran melanda kawasan semak belukar serta lahan gambut dengan luas sekitar 25,29 hektare.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pada 19 Agustus 2026, kebakaran dilaporkan terjadi di enam kecamatan dengan total luas lahan terbakar mencapai 49,55 hektare.
Sementara di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kebakaran dilaporkan terjadi sejak 13 Agustus di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor.
Sedikitnya empat hektare lahan dilaporkan terbakar.
Alarm Lama Bernama Kabut Asap Lintas Batas
Fenomena kabut asap lintas batas bukan persoalan baru bagi negara-negara Asia Tenggara.
Salah satu peristiwa terburuk terjadi pada periode El Nino 1997–1998, ketika kekeringan panjang dan kebakaran hutan meluas menyebabkan jutaan penduduk di kawasan terdampak asap.
Krisis tersebut kemudian mendorong negara-negara ASEAN membentuk Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas pada 2002.
Perjanjian tersebut mengatur kerja sama antarnegara dalam mencegah kebakaran, berbagi informasi, dan menangani dampak kabut asap.
Namun, persoalan tersebut terus berulang.
Pada 2015, kebakaran besar di Indonesia menyebabkan sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan gambut terbakar. Kabut asap kemudian menyebar hingga ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, bahkan sebagian wilayah Filipina.
Kini, ketika hampir 600 sekolah di Sarawak harus ditutup akibat kualitas udara yang memburuk, ancaman kabut asap kembali menjadi peringatan bagi negara-negara di kawasan.
Malaysia sendiri terus memantau perkembangan kondisi udara dan kebakaran sejak awal Agustus.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Arthur Joseph Kurup, menyatakan koordinasi dengan negara-negara ASEAN terus dilakukan dalam menghadapi ancaman asap lintas batas.
Status Siaga Tingkat 2 berdasarkan mekanisme kerja sama ASEAN juga telah diaktifkan sejak 3 Agustus 2026.
Kejadian di Sarawak menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada wilayah tempat api muncul.
Ketika titik panas terus bertambah dan asap melintasi batas negara, dampaknya bisa langsung terasa hingga ruang kelas.
Kini, pertanyaannya bukan hanya kapan api bisa dipadamkan, tetapi apakah Asia Tenggara kembali berada di ambang krisis kabut asap besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya?
RM
Sumber: bbc














