Gaza, Nagoyapos.com – Kelompok Hamas menyetujui perlucutan senjata secara total setelah mencapai kesepakatan dengan Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang dibentuk atas prakarsa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kesepakatan ini disebut sebagai salah satu terobosan terbesar dalam upaya mengakhiri konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.
Board of Peace menyatakan langkah Hamas tersebut menjadi “terobosan bersejarah” yang diharapkan membuka jalan bagi penarikan pasukan Israel dari Gaza secara bertahap.
Meski demikian, hingga kini pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi mengenai rencana tersebut.
Trump Dorong Perdamaian Gaza
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Presiden Donald Trump akan merasa kecewa apabila Israel menolak menarik pasukannya dari Gaza.
Penarikan militer Israel merupakan salah satu poin penting dalam cetak biru perdamaian yang diumumkan Trump pada Oktober lalu.
Melalui platform Truth Social, Trump menjelaskan bahwa implementasi kesepakatan akan dilakukan secara bertahap dengan mekanisme pengawasan yang ketat.
Pemerintah AS menegaskan setiap tahap hanya dapat dilanjutkan setelah kedua belah pihak benar-benar memenuhi seluruh kewajiban yang telah disepakati.
Hamas Mulai Lucuti Kelompok Bersenjata
Dalam tahap awal, proses perlucutan senjata akan dimulai dari kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil di Gaza.
Setelah itu, Hamas akan membongkar seluruh infrastruktur militernya, termasuk jaringan terowongan, gudang senjata, hingga fasilitas produksi persenjataan.
Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang karena melibatkan pengamanan ribuan senjata dan fasilitas militer.
Setelah seluruh tahapan selesai, otoritas Palestina yang baru akan mengambil alih pengelolaan seluruh persenjataan di Gaza, termasuk senjata yang selama ini digunakan kepolisian Hamas.
Selanjutnya, senjata berat akan dinonaktifkan, terowongan ditutup, dan seluruh persenjataan pribadi akan diatur sesuai ketentuan hukum Palestina.
Warga Gaza Masih Skeptis
Di tengah pengumuman yang mengejutkan tersebut, masyarakat Gaza belum menunjukkan antusiasme tinggi.
Banyak warga Palestina masih meragukan implementasi kesepakatan karena pengalaman dari berbagai perjanjian gencatan senjata sebelumnya yang berakhir tanpa hasil nyata.
Mereka menilai kepercayaan terhadap Hamas maupun Israel masih rendah setelah berkali-kali proses perdamaian gagal membawa perubahan signifikan di lapangan.
Israel Belum Beri Respons
Hingga saat ini, pemerintah Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rencana penarikan pasukan dari Gaza.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut masih menghadapi tekanan politik dari mitra koalisi sayap kanan yang selama ini menolak penarikan permanen pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Selain itu, masih terdapat berbagai persoalan teknis yang belum terselesaikan, termasuk mekanisme penyerahan kendali wilayah dan pengaturan zona penyangga keamanan.
Kepemimpinan Baru Hamas Jadi Harapan
Kesepakatan ini muncul tidak lama setelah Hamas menyelesaikan pemilihan kepemimpinan baru yang menetapkan Khalil al-Hayya sebagai pemimpin gerakan tersebut.
Sejumlah pejabat Palestina yang terlibat dalam proses negosiasi menilai kepemimpinan baru Hamas lebih terbuka terhadap langkah-langkah strategis demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Keputusan tersebut juga dipengaruhi kondisi kemanusiaan di Gaza yang terus memburuk dan berdampak pada lebih dari dua juta penduduk.
Konflik Gaza Telan Puluhan Ribu Korban
Sejak perang kembali pecah pada 2023, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat lebih dari 73.000 orang tewas, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak. Angka tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober lalu, serangan masih terus terjadi. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 1.168 warga Palestina meninggal dunia sejak gencatan senjata diberlakukan.
Dalam waktu dekat, Mesir dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan lanjutan antara para mediator yang terdiri dari Amerika Serikat, Mesir, Qatar, dan Turki untuk membahas implementasi kesepakatan perdamaian tersebut.
Apabila seluruh tahapan berhasil dijalankan, kesepakatan ini berpotensi menjadi langkah paling signifikan menuju berakhirnya konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. (r)
Sumber: bbc














