Batam, Nagoyapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kondisi cuaca kering mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri). Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, Bisri, membenarkan adanya kenaikan jumlah penderita ISPA berdasarkan grafik pemantauan kasus di wilayah tersebut.
Data Dinkes Kepri mencatat sebanyak 3.022 kasus ISPA pada minggu ke-33. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 3.230 kasus pada minggu ke-34.
Artinya, terjadi penambahan 208 kasus ISPA dalam periode tersebut. Kenaikan itu tercatat pada penghujung Agustus hingga memasuki awal September 2026.
“ISPA ada kenaikan sedikit. Minggu ke-33 ada 3.022 kasus ISPA, naik di Minggu ke-34 menjadi 3.230 kasus,” kata Bisri.
Menurutnya, peningkatan kasus tersebut perlu menjadi perhatian seiring kondisi cuaca yang cenderung kering dan munculnya kabut asap akibat pembakaran lahan.
Bisri menyebut kemarau dan kabut asap menjadi sejumlah faktor yang diduga dapat memengaruhi peningkatan gangguan pernapasan masyarakat.
“Bulan Agustus minggu keempat dan awal September,” ujarnya saat menjelaskan periode kenaikan kasus tersebut.
Paparan asap dari kebakaran lahan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi semakin perlu diwaspadai ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah.
“Ya bisa jadi kemarau dan kabut asap,” pungkas Bisri.
Masyarakat Kepri pun diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama ketika kabut asap mulai terasa. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
RM














