<

Telkom Resmi Pisahkan Bisnis Fiber Optik Senilai Rp85,7 Triliun, InfraNexia Kini Kelola 112 Ribu Km Jaringan

Telkom Resmi Pisahkan Bisnis Fiber Optik Senilai Rp85,7 Triliun, InfraNexia Kini Kelola 112 Ribu Km Jaringan
(kiri ke kanan) Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, Direktur Network Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno, Direktur Legal & Compliance Telkom Andy Kelana, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji, dan Direktur Human Capital Management Telkom Willy Saelan usai rangkaian agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom, Rabu (30/9) (dok telkom)

Jakarta, Nagoyapos.com – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) resmi melangkah ke babak baru transformasi bisnis dengan memisahkan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

Aksi korporasi bernilai sekitar Rp85,7 triliun ini menjadi langkah strategis Telkom dalam memperkuat bisnis infrastruktur digital sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di industri telekomunikasi nasional.

Persetujuan pemisahan atau spin-off tersebut diperoleh melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang digelar secara daring pada Rabu (30/9/2026).

Dalam rapat tersebut, pemegang saham independen menyetujui aksi korporasi yang merupakan transaksi afiliasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.

Pelaksanaan RUPSLB telah memenuhi ketentuan kuorum mayoritas pemegang saham independen, sehingga proses pemisahan bisnis dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Langkah ini sekaligus menandai penguatan posisi InfraNexia sebagai perusahaan operasional (operating company) yang akan mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup.

Transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi TLKM 30 yang berfokus pada monetisasi aset bernilai tinggi, pengembangan kemitraan strategis, serta peningkatan nilai perusahaan secara berkelanjutan.

Melalui strategi ini, Telkom juga mempercepat peralihan dari model Operating Holding menuju Strategic Holding dengan pendekatan Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).

Model tersebut dirancang agar setiap entitas memiliki fokus bisnis yang lebih tajam, meningkatkan sinergi, serta menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan pemegang saham.

Lebih dari 90 Persen Aset Infrastruktur Telkom Dialihkan

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai salah satu tonggak penting penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui proses konsolidasi tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dialihkan ke InfraNexia.

Pengalihan ini memperkuat skala bisnis InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jaringan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia.

Secara keseluruhan, infrastruktur yang dikonsolidasikan mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.

Total nilai transaksi pemisahan aset dan bisnis tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Dengan skala jaringan yang semakin luas, InfraNexia diharapkan mampu meningkatkan produktivitas aset sekaligus memperbesar kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, pemisahan bisnis ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur perusahaan yang lebih fokus dan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi InfraNexia dalam mengembangkan bisnisnya.

Menurutnya, kepercayaan pemegang saham terhadap aksi korporasi tersebut menjadi dorongan bagi Telkom untuk memastikan transformasi memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan penciptaan nilai perusahaan.

Telkom juga menargetkan transformasi ini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perkembangan ekosistem digital Indonesia.

InfraNexia Perluas Peluang Bisnis Infrastruktur Digital

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyampaikan bahwa konsolidasi aset memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.

Dengan skala infrastruktur yang semakin besar, perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menghadirkan solusi konektivitas sesuai kebutuhan pelanggan dari berbagai sektor industri.

Fokus pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemanfaatan aset, tetapi juga memastikan infrastruktur TelkomGroup dapat menjadi fondasi pertumbuhan mitra dan layanan digital.

Langkah ini sekaligus mendukung penguatan ekosistem serta kedaulatan digital Indonesia.

Pasca-konsolidasi, InfraNexia akan mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, dengan dukungan empat area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia.

Jaringan tersebut menjadi fondasi penting bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan komputasi awan (cloud), pusat data (data center), serta berbagai pelaku industri lainnya untuk memperluas kapasitas dan jangkauan layanan.

InfraNexia Siapkan Infrastruktur untuk Era Kecerdasan Buatan

Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, menyebut fase baru perusahaan akan memperkuat perannya dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure.

Konsep tersebut mengarah pada pembangunan infrastruktur digital yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.

Menurut Lukman, kebutuhan terhadap infrastruktur yang mampu mendukung kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan data center akan terus berkembang seiring percepatan transformasi digital.

Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan fleksibel, InfraNexia berupaya menyediakan fondasi konektivitas yang mampu mengikuti kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Model ini juga membuka peluang bagi mitra untuk memperluas layanan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur jaringan secara mandiri.

InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx.

Portofolio bisnis tersebut mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif secara bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis pelanggan.

Selain memperluas skala bisnis, perusahaan juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kapabilitas autonomous network.

Transformasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, serta kemampuan jaringan dalam merespons permintaan pelanggan yang terus meningkat.

Susunan Direksi dan Komisaris Telkom Berubah

Selain menyetujui pemisahan bisnis infrastruktur, RUPSLB Telkom juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan.

Perubahan kepengurusan ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan kinerja, serta mendukung keberhasilan agenda transformasi TLKM 30.

Berikut susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026:

Dewan Komisaris

* Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo
* Komisaris: Ossy Darmawan
* Komisaris: Rizal Mallarangeng
* Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah
* Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
* Komisaris Independen: Anthony Leong
* Komisaris Independen: Deswandhy Agusman
* Komisaris Independen: Ira Noviarti

Jajaran Direksi

* Direktur Utama: Nanang Hendarno
* Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
* Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
* Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
* Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
* Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
* Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
* Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar
* Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana

Dengan konsolidasi aset jaringan berskala nasional, penguatan tata kelola, serta pengembangan infrastruktur yang siap mendukung teknologi masa depan, InfraNexia kini memasuki fase baru dalam perjalanan bisnisnya.

Melalui semangat Flowing Through Nusantara, perusahaan menargetkan infrastruktur digital yang dikelolanya dapat terus menghubungkan wilayah, industri, dan peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia.

Transformasi ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis yang lebih fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai tambah dari setiap aset strategis yang dimiliki.

Risman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *