NagoyaPos.Com-Angin sore berembus lembut di antara pepohonan hijau. Suara gemericik air berpadu dengan kicauan burung yang terdengar sayup-sayup. Di tengah hiruk-pikuk Batam yang tak pernah benar-benar tidur, siapa sangka ada tempat yang menghadirkan kedamaian sederhana seperti ini, Lembah Pelangi, sebuah wisata alam bernuansa pedesaan yang tumbuh di jantung Sekupang.
Terletak di Kelurahan Tanjung Pinggir, tak jauh dari simpang lampu merah menuju Polsek Sekupang, tempat ini menjadi oase baru bagi warga yang merindukan kesejukan alam. Dari kejauhan, deretan pepohonan dan kolam-kolam jernih sudah menyambut setiap pengunjung yang datang.
“Konsepnya kami buat alami. Kami ingin orang datang bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk relaksasi—sekaligus terapi dari penatnya aktivitas sehari-hari saat di wawancara Media NagoyaPos.Com, Sabtu (08/11/3025),,” ujar Odit, pengelola Lembah Pelangi, sambil tersenyum menyambut tamu di pintu masuk.
Salah satu daya tarik paling unik dari Lembah Pelangi adalah area makannya. Meja-meja kayu ditata di atas air dangkal, dan di bawahnya ratusan ikan hias berwarna-warni berenang bebas. Pengunjung bisa menikmati hidangan sambil merendam kaki di air jernih, sambil sesekali merasakan sentuhan lembut ikan yang lewat.
“Anak-anak saya betah banget. Sambil makan, mereka kasih makan ikan dan main air. Tempatnya adem, bersih, dan harganya juga terjangkau,”tutur Ani, warga Batu Ampar yang datang bersama keluarganya.
Suasana santai ini membuat banyak pengunjung lupa waktu. Ditambah dengan menu kuliner khas kampung dan aroma kopi yang menyeruak, suasana pedesaan terasa begitu dekat, meski hanya berjarak 15 menit dari pusat kota.
Bagi yang ingin merasakan suasana lebih dekat dengan alam, Lembah Pelangi juga menyediakan area camping ground. Tenda-tenda disiapkan lengkap dengan fasilitas dasar, cocok untuk keluarga atau komunitas yang ingin bermalam di bawah bintang-bintang.
“Pagi hari paling enak untuk hiking,” kata Odit sambil menunjukkan jalur alami yang mengarah ke bukit kecil di belakang area wisata. “Jalur ini aman untuk semua umur. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan bikin udaranya sejuk dan segar.”
Di malam hari, suasana berubah menjadi hangat dan romantis. Lampu-lampu gantung di antara pohon dan saung bambu menciptakan cahaya temaram yang menenangkan. Banyak pengunjung memilih duduk santai sambil menikmati kopi atau jagung bakar, ditemani musik akustik yang lembut.
Meski fasilitasnya lengkap, harga tiket masuk di Lembah Pelangi tetap ramah di kantong. Bagi Odit dan timnya, tempat ini bukan hanya tentang bisnis, tapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi semua kalangan.
“Kami ingin Lembah Pelangi jadi tempat healing alami di Batam. Cukup 10–15 menit dari pusat kota, orang sudah bisa merasakan suasana seperti di kampung,”ujarnya
Tak heran, tempat ini kini menjadi favorit keluarga dan komunitas yang ingin melepas penat tanpa perlu jauh-jauh keluar Batam. Dari kuliner, camping, hingga sesi foto prewedding semuanya bisa dilakukan di sini, di tengah harmoni antara alam dan kreativitas manusia.
Menjelang senja, pantulan cahaya matahari di permukaan kolam menciptakan gradasi warna keemasan seolah benar-benar menjadi “pelangi” di lembah kecil itu. Suara tawa pengunjung bercampur dengan bunyi air dan desir angin.
Lembah Pelangi bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah pengingat bahwa di tengah padatnya kota, selalu ada ruang untuk bernapas, bersyukur, dan menikmati keindahan yang sederhana.(**)
Reporter : Herry


















