Murid Mengenalnya sebagai Guru, Dunia Mengenalnya sebagai Penyair: Siapa Ning Sebenarnya?

Murid Mengenalnya sebagai Guru, Dunia Mengenalnya sebagai Penyair: Siapa Ning Sebenarnya?
Kisah Ning, Guru SDN 003 Batu Aji Batam, penyair perempuan Kepri (dok ning)

Batam, Nagoyapos – Di sebuah ruang kelas sederhana di SD Negeri 003 Batu Aji, Batam, seorang guru sedang sibuk membimbing murid-muridnya mengeja kalimat demi kalimat. Sesekali ia mengingatkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk fokus dan tetap semangat.

Tidak ada yang menyangka bahwa guru bernama Sutarya Aryaningsih, S.Pd ini,  akrab dipanggil Ning,  adalah penyair perempuan yang produktif buat buku saat ini dimiliki Kota Batam bahkan Provinsi Kepulauan Riau.

Example 300x600

Dalam keseharian, Ning tampak seperti guru lainnya: ramah, telaten, dan selalu ceria. Namun siapa sangka, setelah jam pelajaran usai, ia menjelma menjadi penyair yang puisinya telah menggema hingga ke panggung sastra Malaysia, Singapura, dan berbagai kota besar di Indonesia.

Akar Sastra dari Buku Harian

Perempuan kelahiran Kijang, Bintan Timur, 12 Oktober 1980 ini mulai menulis sejak masih remaja. Di masa sekolah di SMKN 1 Tanjungpinang (1995), ia menyimpan banyak cerita dan rasa dalam buku harian.

“Dari dulu suka menulis, tapi hanya untuk diri sendiri. Belum percaya diri untuk mempublikasikan,” ujarnya mengenang.

Setelah melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka tahun 1998, kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis terus tumbuh tanpa ia sadari.

Mengajar sebagai Pengabdian

Ning resmi menjadi guru sejak 2011 di sebuah sekolah luar biasa (SLB), dunia pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia banyak belajar tentang empati di sana: bahwa setiap anak memiliki keunikan dan cara sendiri untuk bersinar.

Tahun 2021, ia menjadi PNS dan ditugaskan ke SDN 003 Batu Aji, sekolah inklusi yang tetap melibatkan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pengalaman ini memperkaya batinnya, menjadi lahan subur bagi lahirnya karya-karya penuh rasa.

Mentor Istimewa Bernama Ayah

Perjalanan Ning sebagai penyair tidak akan lengkap tanpa hadirnya sosok besar dalam sastra Melayu: Dato’ Rida K Liamsi. Tokoh yang menjadi ayah kreatif sekaligus mentor yang tegas.

“Saya memanggilnya Ayah,” ucap Ning.

Setiap puisi yang Ning unggah di media sosial tak pernah lepas dari koreksi sang maestro. Jika ada kalimat yang tidak tepat, ia langsung ditegur.

“Kadang kalau ada kalimat yang agak aneh, disuruh hapus sama Ayah.”

Rida pula yang mendorong Ning menerbitkan buku.
Pesannya sederhana tapi mengena:

“Berapa pun banyak karya yang kau tulis, kalau tidak dibukukan, orang tidak akan tahu.”

Itu menjadi titik balik: Ning mulai percaya bahwa suaranya layak didengar dunia.

Karya yang Menembus Batas

Murid Mengenalnya sebagai Guru, Dunia Mengenalnya sebagai Penyair: Siapa Ning Sebenarnya?
Ning dengan tiga kumpulan puisi yang sudah diterbitkan (foto dennirisman)

Sejak 2020, Ning telah menjadi penyair perempuan paling produktif buat buku puisi  dari ranah Kepri. Hingga kini, ia telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal:

Pasal-Pasal Rindu Secantum Puisi (2020)
Pengantar: Abdul Kadir Ibrahim

Perihal Kita (2023)

Kau Peluk (2024)

Tahun 2025, hadir buku keempat berjudul Menggapai Impian, kini sedang proses cetak.

Selain itu, ia berkontribusi dalam sejumlah antologi puisi bergengsi:

Berbisik Pada Dunia (2020)
Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2020)
Jazirah Enam (2020)

Karya Ning pernah dipentaskan dalam panggung sastra:

Kuala Lumpur
Johor Bahru
Singapura
Jakarta
Tanjungpinang
dan berbagai kota lainnya

Ia membawa nama guru dari Batam dan Kepri, melintasi batas budaya dan negara.

Puisi dari Hal Sehari-Hari

Saat ditanya bagaimana tema dalam puisinya lahir, Ning menjawab ringan:

“Puisi universal. Apa yang dilihat dan dirasakan, itu jadi puisi.”

Meja, angin sore, seorang kawan yang sedang galau,  semua dapat menjelma menjadi bait-bait yang menggugah.

Menghidupkan Literasi dari Sekolah

Kali ini, Ning bukan hanya menulis untuk dirinya.

Ia memompa semangat literasi di sekolah: dari lomba menulis puisi, cerpen, hingga literasi digital.

Festival Literasi Kota Batam menjadi momentum besar bagi murid-muridnya untuk ikut menulis dan berkarya. Dan sekolah pun mendukung penuh aktivitas kesastrawanannya, termasuk ketika ia harus tampil di luar kota bahkan luar negeri.

Dalam hati Ning, ia percaya:
anak-anak Kepri harus tumbuh dengan keberanian untuk berkarya.

Keluarga: Rumah Pulang Seorang Penyair

Ning tidak sendiri dalam perjalanan panjang ini. Ia ditemani suami tercinta Bambang Susilo yang selalu memberi ruang baginya untuk bermimpi. Putra semata wayangnya Gilang Herlambang (22) adalah penyuka musik — bakat seni yang menuruni ibunya.

Perempuan Terakhir di Panggung Sastra Kepri?

Ada kalimat yang menampar sekaligus memberi kebanggaan:

“Saat ini, Ning adalah penyair perempuan dari Kepri yang masih aktif dan produktif berkarya menerbitkan buku.”

Kalimat itu menyimpan tanggung jawab besar sekaligus harapan: bahwa akan lahir penyair-penyair perempuan lain dari bumi Melayu ini  yang terinspirasi dari langkah Ning.

“Saya Menulis untuk Menggapai Impian”

Jika ditanyakan apa tujuan akhirnya menulis, Ning menjawab:

“Saya ingin menggapai impian. Melihat dunia melalui kata-kata. Dan semoga karya saya bisa ikut menyembuhkan orang lain.”

Karena bagi Ning, puisi bukan hanya rangkaian kata, tetapi cara bersyukur, cara bernapas, cara bertahan hidup.

Bagi banyak orang, Ning adalah guru hebat.  Bagi dunia sastra Indonesia, ia adalah penyair perempuan serumpun yang bersinar.

Bagi Kepri, ia adalah kebanggaan yang lahir dari ruang kelas sederhana di Batu Aji.

Dengan pena dan ketulusan, Ning menulis jejaknya sendiri dan jejak itu kini telah sampai pada panggung dunia.

Biodata Singkat

Nama lengkap: Sutarya Aryaningsih, S.Pd
Nama pena: Ning
Lahir: Kijang, Bintan Timur, 12 Oktober 1980
Profesi: Guru SDN 003 Batu Aji, Batam
Pencapaian: Penyair perempuan aktif satu-satunya dari Kepri
Buku: 4 judul (1 segera terbit 2025)
Keluarga: Suami: Bambang Susilo; Anak: Gilang Herlambang

Sebait puisi Ning

PEMUJAMU

Bagai sebuah mahakarya aku memujamu
Laksana buih pada ombak yang bersemburan dari lautan
menari mengikuti irama nyanyian
Burung-burung berkicau, aku menikmati setiap momen yang terlalui.
Walau di sela bebatuan ombak terpecah.
Aku tetaplah pemujamu.

mv oceana, 13082020
(dari kumpulan puisi: Perihal Kita, 2023)

Penulis: denni risman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *