Batam, Nagoyapos.com – Arus pendatang ke Batam makin tak terbendung. Dalam sehari saja, sebanyak 2.272 penumpang dari Belawan tiba di Pelabuhan Pelni Bintang 99 Persada, Batuampar, Selasa (28/4/2026).
Melihat lonjakan ini, Pemerintah Kota Batam langsung bergerak cepat melakukan pemantauan sekaligus sosialisasi administrasi kependudukan (adminduk).
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam bersama sejumlah OPD lainnya, termasuk Dinas Perhubungan, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Pendidikan, hingga aparat kepolisian setempat.
Migrasi Terbesar di Indonesia
Kepala Disdukcapil Batam, Adisthy, mengungkapkan bahwa Batam kini masuk dalam lima besar kota dengan angka migrasi tertinggi di Indonesia.
“Kami turun langsung untuk mendata sekaligus menyosialisasikan aturan adminduk kepada para pendatang,” ujarnya.
Hasil pendataan menunjukkan, mayoritas pendatang masih menggunakan KTP dari daerah asal seperti Medan dan Aceh. Tujuan mereka pun beragam, mulai dari mengunjungi keluarga hingga berburu pekerjaan.
Salah satu pendatang, Al Azhari asal Aceh, mengaku baru pertama kali datang ke Batam setelah lulus SMA dan belum memahami aturan administrasi yang berlaku.
Lonjakan ini bukan tanpa konsekuensi. Hingga April 2026, tercatat sekitar 11 ribu pengajuan pindah masuk ke Batam, dengan rata-rata 200 permohonan setiap hari.
Namun, tak semua merupakan pendatang baru. Sebagian besar ternyata sudah lama tinggal di Batam, tetapi baru mengurus perpindahan domisili demi kebutuhan kerja.
Untuk menertibkan data, Pemko Batam kini menerapkan aturan baru:
1. Wajib melampirkan surat penjamin dari keluarga
2. KTP penjamin harus sesuai alamat
3. Pendatang sementara wajib daftar sebagai non-permanen
Tak hanya itu, layanan adminduk kini makin mudah diakses secara digital melalui aplikasi Lakse Batam dan Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Menurut Adisthy, langkah ini penting agar data kependudukan lebih tertib dan program pemerintah bisa tepat sasaran.
Dengan derasnya arus urbanisasi, Batam kini bukan sekadar kota industri—melainkan magnet baru bagi para pencari kerja.
Pertanyaannya, apakah sistem yang ada siap menampung ledakan penduduk ini?
Editor: Risman


















