Batam, Nagoyapos.com – Proyek ambisius Jembatan Batam–Bintan yang digadang-gadang menjadi penghubung dua pusat ekonomi terbesar di Kepulauan Riau hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera dibangun. Kendala utama proyek strategis tersebut masih berkutat pada kebutuhan anggaran jumbo yang diperkirakan telah menembus lebih dari Rp17 triliun, ditambah belum adanya investor yang menyatakan komitmen pendanaan.
Selama bertahun-tahun, pembangunan jembatan yang diharapkan mampu menghubungkan Kota Batam dan Kabupaten Bintan itu terus menjadi perhatian masyarakat Kepri. Namun hingga pertengahan 2026, proyek tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan penjajakan investasi.
Ansar Ahmad mengakui pembangunan Jembatan Batam–Bintan masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait skema pembiayaan yang belum menemukan titik terang.
“Kami tetap komunikasi terus dengan pemerintah Pekerjaan Umum (PU) pusat. Kalau ada investor yang mau membangun secara utuh, tentu akan kita dorong,” kata Ansar kepada wartawan, Jumat (12/6).
Menurutnya, biaya pembangunan proyek terus mengalami kenaikan akibat eskalasi harga material dan biaya konstruksi dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, kebutuhan investasi pembangunan jembatan diperkirakan berada di kisaran Rp16 triliun. Namun kini, anggaran tersebut diperkirakan melonjak hingga lebih dari Rp17 triliun.
“Sebelum eskalasi harga sekitar Rp16 triliun. Sekarang kemungkinan sudah lebih dari Rp17 triliun,” ujarnya.
Meski membutuhkan investasi fantastis, Ansar menilai proyek tersebut masih berpotensi menarik minat investor besar yang memiliki kemampuan finansial kuat dan visi jangka panjang terhadap pengembangan kawasan di Kepulauan Riau.
Namun faktanya, hingga saat ini belum ada investor yang secara resmi menyatakan kesiapan membiayai proyek tersebut.
“Kita juga akan koordinasi dengan para pelaku investasi di Kepri. Barangkali bisa bersama-sama atau gotong royong membangun proyek ini,” tambahnya.
Proyek Strategis Ansar
Selama ini, Jembatan Batam–Bintan dipandang sebagai proyek strategis yang diyakini mampu mengubah wajah ekonomi Kepri. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas antara Batam sebagai pusat industri, perdagangan, dan investasi dengan Bintan yang dikenal memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan pengembangan kawasan ekonomi.
Jika terealisasi, jembatan ini diyakini akan memperlancar mobilitas barang dan manusia, memangkas waktu perjalanan antarwilayah, hingga menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kepri.
Namun, belum adanya investor, belum tersusunnya skema pembiayaan yang pasti, serta terus meningkatnya kebutuhan anggaran membuat proyek ini kembali menghadapi pertanyaan klasik di tengah masyarakat: kapan Jembatan Batam–Bintan benar-benar dibangun?
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Ansar memastikan pemerintah daerah tetap berupaya mengejar realisasi proyek tersebut hingga akhir masa jabatannya.
“Sampai masa jabatan selesai, akan terus kita kejar,” tegasnya.
Editor: Risman














