<

Lionel Messi Menangis Lagi di Stadion yang Sama, Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia 2026

Lionel Messi Menangis Lagi di Stadion yang Sama, Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia 2026
Lionel Messi gagal mengantar Argentina juara Piala Dunia 2026 (tangkapan layar)

Batam, Nagoyapos.com – Lionel Messi tak mampu menyembunyikan kesedihannya setelah Timnas Argentina gagal mempertahankan gelar Piala Dunia 2026 usai dikalahkan Spanyol dengan skor 0-1 pada partai final yang berlangsung di Stadion New Jersey, Senin (20/7/2026).

Kekalahan tersebut tak hanya menggagalkan ambisi La Albiceleste meraih dua gelar Piala Dunia secara beruntun, tetapi juga memunculkan momen emosional yang mengingatkan publik pada peristiwa 10 tahun silam.

Begitu peluit panjang dibunyikan wasit Slavko Vincic, Messi langsung terduduk di atas lapangan. Kapten Argentina itu tampak menundukkan kepala sambil mengusap air mata yang terus mengalir di hadapan sorotan kamera.

Kesedihan Messi kembali terlihat saat prosesi penyerahan medali perak. Di hadapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan ribuan penonton, La Pulga kembali tak mampu membendung air matanya.

Piala Dunia Terakhir Messi?

Bagi Messi, kekalahan ini terasa jauh lebih menyakitkan. Selain gagal mempertahankan gelar yang diraih Argentina pada edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 diyakini menjadi kesempatan terakhirnya tampil di ajang sepak bola terbesar dunia.

Saat ini Messi telah berusia 39 tahun. Jika masih bermain pada Piala Dunia 2030, usianya akan menginjak 43 tahun, sesuatu yang dinilai sangat sulit bagi pesepak bola profesional.

Selama ini Messi memang belum pernah memastikan kapan akan pensiun dari Timnas Argentina. Namun, ia beberapa kali menyatakan keputusan tersebut akan bergantung pada kondisi fisik dan kemampuannya untuk tetap bersaing di level tertinggi.

Mengulang Luka Lama

Tangisan Messi di Stadion New Jersey mengingatkan pecinta sepak bola pada final Copa America 2016. Di stadion yang sama, Argentina saat itu kalah adu penalti dari Chile dan Messi juga menangis sebelum sempat mengumumkan pensiun dari tim nasional, meski kemudian kembali membela negaranya.

Satu dekade berselang, stadion tersebut kembali menjadi saksi kesedihan sang megabintang.

Sulit Berkutik Hadapi Dominasi Spanyol

Sepanjang laga final, Argentina kesulitan mengembangkan permainan. Spanyol tampil dominan dalam penguasaan bola dan terus menekan pertahanan La Albiceleste.

Messi yang menjadi tumpuan serangan nyaris tak mendapat ruang untuk menunjukkan kualitas terbaiknya. Minimnya peluang membuat Argentina gagal membalas tekanan yang terus dilancarkan La Furia Roja.

Gol semata wayang Ferran Torres pada menit ke-105, memanfaatkan umpan Nico Williams, menjadi penentu kemenangan Spanyol sekaligus mengubur mimpi Argentina mempertahankan mahkota juara dunia.

Bagi Messi, malam itu bukan sekadar kekalahan di final. Momen tersebut bisa menjadi penutup perjalanan panjang salah satu pemain terbaik sepanjang masa di panggung Piala Dunia, dengan air mata yang kembali mengalir di stadion yang pernah menyimpan luka serupa 10 tahun sebelumnya.

Risman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *