<

HOROR! Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 469 Orang, Lebih 1.500 Hilang usai Gletser Runtuh

HOROR! Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 469 Orang, Lebih 1.500 Hilang usai Gletser Runtuh
Banjir bandang yang menerjang Nepal dan Tibet sampai saat ini telah menewaskan 469 orang (reuters)

Kathmandu, Nagoyapos.com – Bencana dahsyat melanda kawasan Himalaya. Banjir bandang yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, berubah menjadi salah satu tragedi paling mengerikan yang melanda kawasan pegunungan tersebut.

Dalam hitungan singkat, gelombang air bercampur lumpur, batu, es, dan puing-puing menerjang lembah serta permukiman.

Rumah, kendaraan, jembatan, jalan hingga infrastruktur pembangkit listrik dilaporkan hancur.

Perkembangan terbaru pada Jumat, 28 Agustus 2026, menyebut sedikitnya 469 orang tewas, sementara lebih dari 1.500 orang lainnya masih dilaporkan hilang.

Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di tengah ancaman banjir susulan.

Bencana tersebut terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026, di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet yang berada di wilayah Pegunungan Himalaya.

Daerah Syapru Besi, Timure, hingga kawasan Gyirong menjadi beberapa wilayah yang terdampak parah.

Pilot Lihat Gelombang Setinggi 5-6 Meter

Kengerian bencana itu disaksikan langsung dari udara oleh pilot helikopter Nepal, Aman Budathoki.

Awalnya, ia melihat debu membumbung tinggi dari kawasan sungai saat pesawat yang dikemudikannya mendekati lokasi pendaratan.

Ia bahkan sempat mengira terjadi longsor biasa atau aktivitas pembangunan.

Namun, beberapa saat kemudian, situasi berubah menjadi mimpi buruk.

Air berwarna gelap bercampur lumpur dan puing meluncur deras ke arah permukiman.

Budathoki menyaksikan gelombang banjir yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar lima hingga enam meter.

Dari udara, ia melihat pohon-pohon besar, rumah, kendaraan, jalan dan berbagai infrastruktur tersapu arus.

Banjir datang begitu cepat hingga banyak warga nyaris tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.

Rekaman video dari kawasan Gyirong juga memperlihatkan kepanikan warga.

Orang-orang terlihat berlari ketika gelombang lumpur dan air meluncur deras melalui lembah.

Tak lama kemudian, bangunan dan berbagai fasilitas di jalur perbatasan diterjang air bah.

Awalnya Dikira Gempa, Ternyata Longsoran Gletser

Pada awal kejadian, getaran di kawasan tersebut sempat dilaporkan sebagai gempa bumi.

Namun, analisis berikutnya menunjukkan aktivitas seismik itu kemungkinan bukan berasal dari pergerakan tektonik.

Getaran tersebut diduga berkaitan dengan longsoran besar yang terjadi di kawasan pegunungan.

Berdasarkan analisis awal dan citra satelit, para ahli menduga runtuhnya material batuan di bawah atau di sekitar gletser memicu longsoran besar.

Material es, batu dan puing kemudian meluncur ke lembah serta sistem sungai di bawahnya.

Peristiwa tersebut menghasilkan gelombang air dan material dalam jumlah sangat besar yang kemudian menerjang kawasan di sepanjang aliran sungai.

Para ilmuwan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan rangkaian penyebab bencana secara lebih rinci.

Namun, sejumlah analisis awal mengarah pada peristiwa runtuhan gletser dan longsoran material pegunungan sebagai pemicu utama bencana.

Air Sungai Naik Drastis, Desa-Dusun Tersapu

Kekuatan banjir disebut sangat luar biasa.

Di beberapa kawasan, permukaan sungai dilaporkan meningkat drastis dalam waktu singkat.

Air bercampur batu, lumpur dan puing bergerak melalui lembah-lembah sempit Himalaya dan menghantam permukiman di sepanjang jalurnya.

Sejumlah desa dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Bangunan tertimbun lumpur, kendaraan terseret arus, sementara jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah.

Kawasan yang menjadi jalur penting antara Kathmandu dan Tibet juga terdampak.

Sejumlah infrastruktur vital ikut hancur sehingga menyulitkan akses menuju lokasi-lokasi yang paling parah terkena bencana.

Ancaman Banjir Susulan Muncul

Di tengah operasi pencarian, ancaman baru juga muncul.

Material longsoran dilaporkan membentuk genangan atau danau baru di kawasan hulu.

Ketika volume air terus meningkat dan mulai meluap, otoritas memperingatkan adanya kemungkinan banjir susulan.

Situasi tersebut bahkan sempat menghambat operasi penyelamatan.

Tim penyelamat harus menghadapi medan ekstrem, lumpur tebal, jalur yang rusak, serta ancaman aliran air baru dari kawasan pegunungan.

Helikopter dikerahkan untuk mengevakuasi warga, membawa bantuan dan mengangkut korban dari daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Banyak Turis dan Peziarah Dilaporkan Hilang

Bencana ini juga menjadi perhatian internasional karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur wisata, pendakian dan ziarah.

Banyak warga asing dilaporkan berada di kawasan Himalaya saat bencana terjadi.

Sebagian di antaranya sedang melakukan perjalanan menuju kawasan suci Gunung Kailash.

Para peziarah dan wisatawan dari berbagai negara masuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.

Operasi pencarian kini menjadi perlombaan dengan waktu.

Tim penyelamat menyisir lumpur, puing bangunan, lembah dan jalur sungai untuk mencari kemungkinan korban selamat.

Namun, skala kerusakan yang sangat luas membuat proses pencarian menjadi sangat sulit.

45 WNI di Nepal, Kemlu Pastikan Belum Ada Laporan Korban

Di tengah tragedi tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus memantau kondisi warga negara Indonesia di Nepal.

Kemlu memastikan hingga perkembangan terakhir belum terdapat laporan WNI yang terdampak banjir bandang.

Tercatat sekitar 45 WNI berada di Nepal, dengan mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada WNI yang berada di Nepal sebagai wisatawan, terutama mereka yang melakukan perjalanan dan pendakian.

Pemantauan dilakukan melalui koordinasi KBRI Dhaka, KBRI Beijing, jaringan komunitas WNI serta Konsul Kehormatan RI di Kathmandu.

WNI diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat dan menghindari wilayah terdampak bencana.

Himalaya Kembali Mengingatkan Bahaya Perubahan Iklim

Bencana ini kembali menyoroti kerentanan kawasan Himalaya.

Para ahli menjelaskan bahwa peningkatan suhu dapat memengaruhi stabilitas gletser dan kawasan pegunungan.

Namun, hubungan langsung antara perubahan iklim dan peristiwa runtuhan yang memicu bencana ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Analisis awal menunjukkan bahwa runtuhan material batuan dan gletser memicu rangkaian bencana besar yang kemudian menghantam sistem sungai di perbatasan Nepal dan Tibet.

Kini, ketika jumlah korban terus bertambah dan ribuan orang masih belum ditemukan, operasi pencarian terus dilakukan.

Banjir yang datang dalam hitungan menit telah mengubah lembah Himalaya menjadi kawasan penuh lumpur dan puing. Ratusan orang telah meninggal dunia, sementara lebih dari 1.500 lainnya masih dalam pencarian.

Risman
Sumber: berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *