Batam, Nagoyapos.com – Harapan pemanfaatan teknologi penyulingan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk mengatasi persoalan air bersih di Batam menghadapi batasan kebijakan. Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan teknologi tersebut ke depan akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri dan investasi, bukan pelanggan rumah tangga.
Pertimbangannya adalah tingginya biaya produksi air melalui teknologi SWRO yang dinilai belum sesuai jika dibebankan kepada pelanggan rumah tangga. BP Batam pun memilih memusatkan perhatian pada pembenahan jaringan distribusi dan penyelesaian persoalan pasokan air bersih yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
“Harga SWRO itu dengan harga rata-rata untuk pelanggan masyarakat kita ini nggak masuk. Jadi seandainya kami membangun, itu untuk kepentingan industri atau investasi yang nanti masuk di Batam,” tegas Amsakar.
Kebijakan ini menempatkan kebutuhan air industri dan rumah tangga pada dua pendekatan berbeda. Industri berskala besar didorong memenuhi kebutuhan airnya melalui fasilitas SWRO secara mandiri, sedangkan pelayanan bagi warga diarahkan pada perbaikan sistem distribusi dan optimalisasi pasokan yang tersedia.
Kebutuhan Air Industri Capai Ratusan Liter per Detik
Amsakar menjelaskan, kebutuhan air untuk kawasan industri dan investasi berskala besar jauh berbeda dibandingkan kebutuhan rumah tangga. Volume air yang dibutuhkan dalam operasional industri dinilai sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan pasokan dari waduk.
Ia mencontohkan kawasan Dayone yang membutuhkan air hingga 200 liter per detik (LPS). Sementara itu, kawasan Equator memerlukan pasokan sekitar 300 LPS.
Besarnya kebutuhan tersebut mendorong sejumlah investor menyepakati pembangunan fasilitas SWRO secara mandiri untuk menunjang kegiatan operasional mereka.
Dengan skema itu, industri diharapkan memiliki sumber pasokan air tersendiri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada sumber air baku yang juga dibutuhkan masyarakat.
Di sisi lain, keputusan memprioritaskan SWRO untuk industri menyisakan pekerjaan besar bagi BP Batam, yakni memastikan pasokan air bersih bagi rumah tangga semakin andal dan mampu menjangkau wilayah yang selama ini mengalami gangguan distribusi.
Pipa Air Batam Berusia hingga 56 Tahun Jadi Perhatian
Alih-alih mengandalkan SWRO untuk pelanggan rumah tangga, BP Batam memilih mempercepat peremajaan jaringan pipa distribusi air bersih yang telah berusia puluhan tahun.
Amsakar mengungkapkan, sebagian jaringan pipa di Batam sudah berumur lebih dari empat dekade. Bahkan, terdapat pipa yang usianya mencapai 56 tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jaringan yang menua dinilai rawan dan membutuhkan revitalisasi untuk meningkatkan keandalan distribusi air kepada pelanggan.
“Umurnya sudah ada yang 56 tahun, 46 tahun, itu rawan. Jadi perlu direvitalisasi,” jelasnya.
Peremajaan jaringan menjadi salah satu pekerjaan penting untuk mengurangi gangguan distribusi. Namun, tantangannya tidak hanya berkaitan dengan usia pipa, melainkan juga penanganan titik-titik jaringan yang selama ini mengalami persoalan pasokan.
BP Batam Tangani 18 Titik Bermasalah, Baru 8 Diklaim Tuntas
Selain memperbarui jaringan pipa, BP Batam mempercepat penanganan 18 stress area, yakni titik-titik yang mengalami kendala distribusi air bersih.
Program tersebut masuk dalam langkah percepatan atau quick win untuk memperbaiki pelayanan air kepada masyarakat.
Dari total 18 titik yang menjadi sasaran penanganan, BP Batam mengklaim delapan titik telah berhasil diselesaikan sepanjang tahun ini. Artinya, masih terdapat titik lain yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Pembenahan jaringan dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Sengkuang, Batu Ampar, Muka Kuning, dan Tanjung Uncang. BP Batam juga merespons keluhan warga di Perumahan Sungai Lekop.
Penanganan tersebut diharapkan dapat mengurangi persoalan distribusi air yang selama ini dirasakan masyarakat. Meski demikian, keberhasilan program perlu dilihat dari perbaikan layanan yang benar-benar dirasakan pelanggan, termasuk kestabilan pasokan dan berkurangnya gangguan distribusi.
Tantangan BP Batam: Air Industri dan Kebutuhan Warga
Pemisahan strategi penyediaan air untuk industri dan rumah tangga menjadi pendekatan yang dipilih BP Batam. Industri dengan kebutuhan besar diarahkan menyediakan pasokan melalui fasilitas SWRO, sementara kebutuhan warga diprioritaskan melalui pembenahan infrastruktur distribusi dan pengelolaan sumber air baku.
Tantangan berikutnya adalah memastikan revitalisasi jaringan pipa dan penanganan stress area berjalan sesuai target. Pasalnya, perbaikan infrastruktur harus berujung pada layanan yang lebih konsisten bagi masyarakat, bukan sekadar penyelesaian pekerjaan fisik.
Bagi Batam sebagai kawasan industri dan investasi, ketersediaan air menjadi kebutuhan strategis. Namun, kepastian pasokan bagi warga juga menjadi persoalan mendasar yang tidak bisa diabaikan.
Dengan SWRO yang diarahkan untuk mendukung industri, efektivitas pembenahan jaringan distribusi akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjawab persoalan air bersih rumah tangga di Batam.














