Batam, Nagoyapos — Siang yang teduh, cahaya menerobos pelan melalui jendela Kantor PWI Batam. Di tengah suasana hening itu, seorang gadis berusia 12 tahun duduk dengan senyum malu-malu, namun sorot matanya teguh dan percaya diri.
Dia adalah Thanaya Anasthasya Az’zikra, siswi kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Batam, yang baru saja mengukir sejarah dengan meraih Medali Perak Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tingkat Nasional untuk mata pelajaran IPA dan Sosial pada awal Oktober lalu di Banten.
Dari ribuan kilometer jauhnya, suara hangat Kepala Kemenag Batam, Budi Dermawan, mengalir melalui video call langsung dari tanah suci Mekkah.
“Terima kasih sudah mengharumkan nama Batam. Terima kasih untuk dukungan orang tua, guru pembimbing, dan kepala sekolah,” ujarnya, dengan suara sedikit menggema tertarik angin gurun yang sakral.
Momen apresiasi itu berlangsung pada Rabu (26/11/2025), menjadikan ruangan sederhana PWI Batam sebagai panggung kecil untuk perjalanan besar seorang anak.
Thanaya hadir bersama ibunya Vina Mawaddah Nasution, Kepala Sekolah MIN I Batam Sudarsono Limbong, guru pembimbing Syamsudin, serta perwakilan Kemenag Batam Darto dan Hamdani. Turut hadir pula guru berprestasi SMPN 28 Batam, Annisa Aginta, sebagai sesama penerima apresiasi.
Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Anshary, menegaskan bahwa apresiasi ini bukan sekadar seremoni.
“Kami ingin masyarakat melihat etos belajar dan mengajar mereka. Semoga kisah seperti ini memotivasi pelajar dan guru lainnya.”
Prestasi Pertama MIN I Batam di Nasional
Bagi MIN I Batam, pencapaian ini adalah tonggak sejarah.
Menurut Kepala Sekolah Sudarsono:
“Selama ini siswa-siswi kami hanya sampai tingkat kota atau provinsi. Alhamdulillah kali ini, berkat kerja keras, Thanaya meraih juara dua tingkat nasional.”
Namun perjalanan ke podium nasional tidak semudah kedengarannya.
Thanaya menjalani karantina belajar selama dua pekan, dengan jadwal belajar yang ketat. Di rumah, sang ibu menegakkan aturan disiplin: gadget hanya boleh saat akhir pekan.
“Kalau waktu belajar ya belajar. Kalau waktu main ya main. Pandai bagi waktu saja,” ujar Thanaya polos.
Perjuangan yang Tak Banyak Diketahui
Di balik medali perak itu ada kisah pengorbanan yang nyaris tak terdengar.
Satu paket buku latihan olimpiade berharga Rp5 juta — angka yang tak mungkin ditanggung sekolah.
“Kepala sekolah kami merogoh koceknya sendiri untuk membeli buku itu. Kami tidak punya dana,” ungkap Syamsudin, guru pembimbing.
Bahkan ketika sempat direncanakan untuk memanggil pembimbing profesional, biayanya Rp400 ribu per jam dengan paket 40 jam — angka yang membuat semuanya terdiam.
“Akhirnya saya putuskan membimbing sendiri,” kata Syamsudin.
Di kompetisi nasional, Thanaya tidak tampil sebagai anak paling vokal, paling percaya diri, atau paling cerdas. Tapi dia adalah anak yang tidak menyerah ketika lelah.
Medali perak itu bukan sekadar angka “juara dua”.
Ia adalah bukti bahwa ketekunan anak, doa ibu, dan ketulusan para guru dapat menjahit mimpi yang terlihat terlalu jauh.
Cahaya dari Madrasah Kecil di Batam
Hari itu, di Kantor PWI Batam, Thanaya tidak hanya membawa medali.
Ia membawa harapan — bahwa dari sekolah kecil pun bisa lahir prestasi besar.
Tanpa panggung mewah, tanpa sorotan nasional, tanpa mengubah dirinya menjadi orang lain.
Thanaya membuktikan satu hal:
Seorang anak bisa menjadi inspirasi hanya dengan terus berusaha — diam-diam, pelan-pelan, tapi tidak pernah berhenti. (jk)


















