Batam-NagoyaPos.Com ] Kekayaan budaya Melayu menjadi salah satu daya tarik utama dalam kunjungan rombongan dosen dan mahasiswa Universiti Teknologi MARA (UiTM) Pasir Gudang, Johor Bahru, Malaysia, ke Kota Batam melalui program EduXplore Indonesia. Berlangsung pada 22–25 Oktober 2026, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat sejarah, adat istiadat, serta identitas budaya masyarakat Melayu yang masih terpelihara di Kepulauan Riau.Sabtu (24/10/26).
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan wisata, tetapi juga bagian dari pembelajaran langsung di luar lingkungan kampus. Melalui interaksi dengan lingkungan budaya setempat dan kunjungan ke sejumlah destinasi penting, para dosen dan mahasiswa diajak memahami bagaimana tradisi Melayu tumbuh, diwariskan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Batam hingga saat ini.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian rombongan adalah Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau. Tempat ini memiliki nilai penting sebagai ruang pelestarian adat dan tradisi Melayu, sekaligus menjadi representasi identitas budaya yang melekat pada masyarakat setempat.
Bagi peserta dari Malaysia, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kedekatan akar budaya Melayu yang menghubungkan masyarakat di kedua negara. Meski berada dalam wilayah negara yang berbeda, Indonesia dan Malaysia memiliki sejumlah kesamaan dalam bahasa, adat istiadat, tradisi, serta warisan sejarah Melayu yang berkembang lintas generasi.
Penasehat Program EduXplore Indonesia, Dr. Jamaliah Binti Md Said, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman berharga bagi dosen dan mahasiswa untuk memperluas wawasan melalui pengenalan budaya secara langsung.
Melalui perjalanan edukatif ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai destinasi yang dikunjungi, tetapi juga memahami nilai-nilai sosial dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perspektif yang lebih luas mengenai keberagaman dan hubungan antarbudaya.
Gedung LAM Kepri, Ruang Mengenal Identitas dan Tradisi Melayu
Kunjungan ke Gedung LAM Kepri menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian EduXplore Indonesia. Di lokasi ini, rombongan memperoleh kesempatan untuk mengenal peran lembaga adat dalam menjaga keberlangsungan tradisi, norma, serta nilai-nilai Melayu di tengah perkembangan masyarakat modern.
Keberadaan lembaga adat menjadi penting karena kebudayaan bukan hanya menyangkut peninggalan masa lalu, melainkan juga identitas yang terus hidup dan diwariskan melalui kehidupan sehari-hari. Nilai kesantunan, penghormatan terhadap adat, hubungan kekeluargaan, dan tradisi bermasyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dipahami oleh generasi muda.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardi Winata, mengapresiasi kunjungan dosen dan mahasiswa Universiti Teknologi MARA Pasir Gudang tersebut. Menurutnya, kegiatan ini membuka ruang perkenalan budaya sekaligus mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia melalui jalur pendidikan dan pariwisata.
“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dosen dan mahasiswa Universiti Teknologi MARA Pasir Gudang, Johor Bahru, Malaysia. Kegiatan ini sangat luar biasa karena menjadi kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, serta memperkenalkan kebudayaan masing-masing negara,” ujar Ardi Winata.
Ia menilai, pengenalan budaya secara langsung dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar mempelajari kebudayaan melalui buku atau materi perkuliahan. Dengan melihat dan mengunjungi ruang-ruang budaya, peserta dapat memahami keterkaitan antara sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat.
Menurut Ardi, kedekatan budaya Melayu merupakan modal penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia. Pertukaran budaya juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah perbedaan kebangsaan dan perkembangan zaman.
Masjid Raya Batam Engku Hamidah, Mengenal Sisi Religius Masyarakat
Selain mengunjungi Gedung LAM Kepri, rombongan EduXplore Indonesia juga mendatangi Masjid Raya Batam Engku Hamidah. Kunjungan ini memperkenalkan salah satu landmark religi di Batam sekaligus memberikan gambaran mengenai peran kehidupan keagamaan dalam keseharian masyarakat.
Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam konteks Melayu, nilai-nilai keagamaan memiliki hubungan erat dengan tradisi, tata kehidupan, dan pembentukan karakter masyarakat.
Melalui kunjungan tersebut, para peserta dapat melihat sisi lain Kota Batam, yakni kehidupan masyarakat yang berkembang di tengah modernisasi, tetapi tetap memiliki hubungan kuat dengan nilai-nilai budaya dan keagamaan.
Rangkaian perjalanan kemudian mencakup ikon Welcome to Batam, yang menjadi salah satu penanda visual Kota Batam. Kehadiran landmark ini memperlihatkan karakter Batam sebagai kota yang terus berkembang, sekaligus menjadi pintu masuk bagi pengunjung untuk mengenal identitas daerah yang berada di jalur strategis perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Ketiga lokasi tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi. Gedung LAM Kepri memperkenalkan tradisi dan identitas Melayu, Masjid Raya Batam Engku Hamidah menggambarkan dimensi religius masyarakat, sedangkan Welcome to Batam merepresentasikan perkembangan kota dan daya tariknya bagi pengunjung.
Pertukaran Kebudayaan Mempererat Hubungan Indonesia-Malaysia
Program EduXplore Indonesia juga membawa dimensi pertukaran budaya melalui kehadiran tim kebudayaan dari pihak Universiti Teknologi MARA. Kehadiran tim tersebut membuka peluang bagi peserta untuk saling mengenalkan identitas budaya, tradisi, dan pengalaman kebudayaan dari negara masing-masing.
Pertukaran semacam ini menjadi penting karena hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dibangun melalui kedekatan geografis dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui interaksi masyarakat, dunia pendidikan, dan generasi muda.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai generasi penerus yang dapat menjaga hubungan persahabatan kedua negara. Pengalaman berkunjung, berdialog, dan mengenal kebudayaan secara langsung dapat menjadi bekal untuk membangun pemahaman lintas budaya yang lebih terbuka.
Ardi Winata menilai, kegiatan seperti EduXplore Indonesia juga memberikan manfaat bagi promosi pariwisata Batam. Para peserta dapat membawa pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama kunjungan untuk dibagikan kembali kepada lingkungan kampus maupun masyarakat di Malaysia.
Menurutnya, Batam memiliki potensi untuk dikenal tidak hanya sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah, budaya Melayu, serta beragam destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Upaya pengenalan tersebut sejalan dengan pengembangan pariwisata Kota Batam di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, yang turut mendorong penguatan daya tarik daerah dan peningkatan kunjungan wisatawan.
Budaya Melayu Menjadi Daya Tarik Wisata Edukatif Batam
Kunjungan dosen dan mahasiswa Universiti Teknologi MARA melalui EduXplore Indonesia memperlihatkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat dalam satu pengalaman.
Bagi Batam, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada pengunjung internasional sekaligus memperkuat posisi kebudayaan sebagai bagian dari daya tarik pariwisata daerah.
Pengembangan wisata berbasis budaya membutuhkan upaya pelestarian yang berkelanjutan, pengenalan sejarah kepada generasi muda, serta keterlibatan berbagai pihak dalam memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas.
Dengan mengunjungi Gedung LAM Kepri, Masjid Raya Batam Engku Hamidah, dan ikon Welcome to Batam, rombongan tidak hanya melihat sejumlah tempat penting di kota ini, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai hubungan antara tradisi, kehidupan religius, dan perkembangan perkotaan.
Rangkaian EduXplore Indonesia pada 22–25 Oktober 2026 diharapkan menjadi pengalaman yang memperkuat pemahaman peserta terhadap budaya Melayu serta mempererat persahabatan Indonesia dan Malaysia. Lebih dari sekadar kunjungan akademik, kegiatan ini menjadi jembatan kebudayaan yang mempertemukan generasi muda kedua negara dalam semangat saling mengenal, menghargai warisan budaya, dan menjaga hubungan baik lintas batas.














