Batam  

Tiada Batas Administrasi Batam dan Bintan bagi Dunia Pariwisata

Pemerhati pariwisata Kepri, Buralimar

Batam-(NagoyaPos.Com) – Batam dan Bintan dinilai menjadi wajah utama pariwisata Kepulauan Riau di mata wisatawan mancanegara. Kedua pulau tersebut dinilai saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan industri pariwisata Kepri.

Pemerhati pariwisata Kepri, Buralimar, mengatakan batas administratif antara Kota Batam dan Kabupaten Bintan hanya berlaku dalam urusan birokrasi, namun tidak bagi wisatawan.

Example 300x600

“Bagi wisatawan, yang penting bukan batas wilayah, tetapi pengalaman wisata yang mereka dapatkan. Batam dan Bintan justru menjadi satu paket cerita yang saling melengkapi,” ujar Buralimar dalam tulisannya, Selasa (27/5/2026).

Menurutnya, Batam berkembang sebagai kota industri, perdagangan, sekaligus pariwisata sejak era BJ Habibie. Sementara Bintan tumbuh sebagai destinasi resort dan wisata alam dengan daya tarik pantai, pulau privat, hingga ekowisata hutan bakau.

Ia menyebut Batam memiliki karakter kota yang dinamis dengan pusat perbelanjaan, hiburan malam, serta ragam kuliner Melayu, Tionghoa, dan India. Sebaliknya, Bintan menawarkan suasana tenang dengan resort yang menyatu dengan alam dan pantai berpasir putih.

Kondisi tersebut membuat kedua wilayah saling melengkapi dalam menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Wisatawan Singapura biasanya mencari hiburan, kuliner, dan spa di Batam. Sementara wisatawan China daratan cenderung memilih resort dan pantai di Bintan,” katanya.

Buralimar menambahkan, pelaku industri pariwisata selama ini tidak pernah menjual Batam dan Bintan secara terpisah. Paket wisata yang ditawarkan umumnya berupa perjalanan Batam-Bintan selama beberapa hari.

Menurutnya, sektor pariwisata tidak bekerja seperti politik yang sering membandingkan satu daerah dengan daerah lainnya.

“Pariwisata melihat apakah pantainya bersih, transportasinya lancar, hotel nyaman, dan pelayanan baik. Wisatawan tidak memikirkan batas administrasi,” ujarnya.

Ia juga menilai kerja sama lintas wilayah di Kepri sejalan dengan konsep SIJORI Growth Triangle yang pertama kali diperkenalkan pada 1989, meliputi Singapura, Johor, dan Kepulauan Riau.

Saat ini, konsep tersebut dinilai berkembang dari sektor industri menuju pariwisata dan ekonomi biru.

Salah satu proyek yang diyakini akan memperkuat konektivitas pariwisata yakni rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan. Survei tanah disebut telah selesai pada akhir 2024 dengan hasil wilayah perairan Batam dan Tanjunguban dinilai layak dibangun jembatan.

“Anak cucu kita nanti mungkin tidak lagi bertanya Batam atau Bintan yang lebih hebat, tetapi kenapa dulu tidak disambungkan lebih cepat,” katanya.

Buralimar berharap Batam, Bintan, dan Karimun dapat menjadi ujung tombak pariwisata Kepri yang didukung daerah lain seperti Lingga, Natuna, dan Anambas sebagai penguat destinasi wisata berbasis budaya dan alam.

Ia menegaskan, wisatawan datang ke Kepri bukan membawa identitas wilayah, melainkan untuk menciptakan memori terbaik selama berwisata.

“Wisatawan tidak membawa KTP saat menikmati sunset. Mereka membawa memori. Dan memori terbaik lahir ketika Batam dan Bintan dijual sebagai satu cerita, bukan dua ego,” ujarnya. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *