Cuaca Buruk Bikin Nelayan Tak Melaut, Harga Ikan di Batam Melonjak

harga ikan di Batam, harga ikan naik Batam, cuaca buruk Batam, musim angin utara Kepri, nelayan Batam
Cuaca buruk belakangan ini membuat harga ikan di Batam melonjak (ilustrasi)

Batam, Nagoyapos – Harga ikan di Kota Batam mulai merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya bukan sekadar permainan pasar, melainkan dampak langsung dari cuaca buruk yang melanda perairan Batam dan sekitarnya.

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat aktivitas melaut terganggu. Sejumlah kapal besar memilih bersandar di pelabuhan, sementara nelayan kecil—terutama nelayan kelong—nyaris tak punya pilihan selain menunggu cuaca membaik.

Example 300x600

“Musim angin utara ini selalu berat bagi kami,” ujar Amsah, nelayan kelong asal Bintan.

Menurutnya, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga medan pertaruhan nyawa. Angin kencang dan ombak tinggi membuat hasil tangkapan menurun drastis.

“Biasanya hasil tangkapan memang berkurang. Banyak juga nelayan yang tidak berani melaut karena angin terlalu kuat,” katanya.

Sebagian nelayan yang masih berani turun ke laut mencoba bertahan dengan mengincar jenis ikan yang relatif lebih mudah didapat saat musim angin utara, seperti ikan selar. Namun, risiko tetap mengintai.

Perahu harus menantang gelombang tinggi, sementara hasil yang dibawa pulang belum tentu sebanding dengan bahaya yang dihadapi.

“Kalau masih memungkinkan, kita turun. Tapi kalau anginnya kuat sekali, kita prioritaskan keamanan,” ujarnya.

Dampak cuaca ekstrem di laut itu pun merambat hingga ke pasar-pasar tradisional. Pasokan ikan menipis, sementara permintaan tetap tinggi.

Dilansir Batampos, di Pasar Viktoria, Sekupang, Batam, harga sejumlah hasil laut mulai melonjak. Cumi-cumi yang sebelumnya dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram kini menembus Rp170 ribu per kilogram. Sementara ikan tongkol berada di kisaran Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.

Tak hanya itu, ikan karang seperti kerapu dan kakap merah ikut mengalami kenaikan harga. Lapak-lapak ikan tampak lebih lengang dari biasanya. Para pedagang mengeluhkan stok yang semakin sedikit, sementara pembeli masih terus berdatangan.

Tanggapan Kadis Perikanan Batam

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut musim angin utara memang selalu berdampak langsung terhadap produksi perikanan tangkap.

“Memang saat angin utara produksi ikan laut menurun. Terutama cumi-cumi, karena penangkapannya masih manual, istilahnya ‘nyumi’. Kalau angin kuat tentu sangat terganggu,” jelasnya.

Selain cumi-cumi, penangkapan sotong yang mengandalkan lampu dan umpan udang juga ikut terhambat. Nelayan kecil dan penangkap ikan karang pun merasakan dampak serupa.

Di tengah cuaca yang belum menentu, pemerintah daerah terus mengimbau para nelayan agar mengutamakan keselamatan dan memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut.

Sementara itu, di pesisir Kepri, kapal-kapal masih setia bersandar. Para nelayan hanya bisa menatap laut dari kejauhan, menunggu saat angin kembali bersahabat.

Sebab bagi mereka, ketika laut kembali tenang, bukan hanya jala yang ditebar, tetapi juga harapan agar dapur kembali mengepul. (r)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *