Nagoyapos, — Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Musofa, menegaskan bahwa persoalan sampah di Kota Batam membutuhkan penanganan cepat dan solusi jangka panjang. Ia mengatakan komitmen Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam sudah berada di jalur yang tepat, namun upaya tersebut harus dibarengi terobosan berbasis teknologi, bukan sekadar menambah armada pengangkutan.
Musofa mengungkapkan pengalamannya saat mengikuti studi Komisi III DPRD Kota Batam pada 2010 ke Kabupaten Badung, Bali. Saat itu, Badung telah sukses menerapkan teknologi waste to energy melalui kerja sama dengan pihak swasta asal Jerman. Teknologi tersebut mampu mengubah sampah menjadi listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Di Bandung, sampah sudah diolah menjadi tenaga listrik. Investasinya memang besar, tapi itu satu-satunya cara agar sampah tidak terus menumpuk di TPA,” ujar Musofa, Rabu (26/11/2025)
Menurutnya, tanpa pengolahan berbasis energi, tumpukan sampah akan terus menghambat alur pengangkutan dari rumah ke TPS hingga TPA. Kondisi TPA yang semakin menggunung menyebabkan antrean panjang armada dan keterlambatan pengangkutan, sehingga memicu masyarakat membuang sampah sembarangan.
Musofa menilai Batam perlu membuka peluang investasi asing agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia mencontohkan investasi di Badung yang mencapai Rp5 triliun sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan Jerman, termasuk pengelolaan hingga penjualan listrik selama 25 tahun.
“Daerah hanya mendapat manfaat dari berkurangnya sampah dan lingkungan tetap bersih,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan teknologi waste to energy juga akan menghindarkan Batam dari persoalan keterbatasan lahan di TPA Punggur. Kendala masa lalu terkait skema tipping fee menurutnya masih bisa diselesaikan melalui komunikasi intensif pemerintah daerah dengan calon investor.
“Banyak negara seperti Jerman dan Swiss yang berminat. Kuncinya adalah pendekatan. Wali kota perlu diberi ruang untuk melakukan kunjungan dan penjajakan agar persoalan sampah ini benar-benar diselesaikan dengan teknologi,” katanya.
Musofa menegaskan, menambah armada atau personel kebersihan bukan solusi permanen. Selama sistem yang digunakan masih angkut dan tumpuk, kata dia, masalah akan terus berulang.
Di akhir pernyataannya, ia memberikan dukungan penuh kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam yang dalam beberapa hari terakhir menunjukkan inisiatif baru dalam menangani sampah.
“Saya mendukung penuh langkah wali kota dan wakil wali kota. Tapi solusi permanen harus segera diputuskan. Kalau Batam ingin bersih dan berdaya saing, teknologi pengolahan sampah menjadi listrik harus diprioritaskan,” tegasnya.(**)
Reporter : Herry
Editor : Fajri Hm


















