Dewan Pendidikan: Nama Jalan Berbasis Sejarah Perkuat Karakter Pelajar

Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Fendi Hidayat.

Batam-(NagoyaPos.Com) – Upaya memperkuat identitas budaya Melayu di Kota Batam melalui penataan ulang nama-nama ruang publik mendapat dukungan dari Dewan Pendidikan Kota Batam. Gagasan ini dinilai bukan sekadar simbolik, tetapi berpotensi menjadi media pembelajaran yang efektif bagi pelajar.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Fendi Hidayat, menilai penggunaan nama-nama tokoh dan sejarah Melayu di ruang publik dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi generasi muda.

Example 300x600

“Pelajar tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Ketika ruang publik menggunakan nama tokoh seperti Raja Ali Kelana, secara tidak langsung hal itu akan memicu rasa ingin tahu siswa terhadap sejarah dan identitas daerahnya. Ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang efektif dan relevan,” ujar Fendi, Rabu (15/4).

Ia menegaskan, ruang publik memiliki peran penting sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nonformal yang mampu membentuk kesadaran historis pelajar. Penamaan yang tepat dinilai dapat menjadi sarana edukasi sekaligus memperkuat memori kolektif masyarakat.

Menurutnya, penataan ulang nama-nama ruang publik yang belum memiliki relevansi historis perlu dilakukan secara terukur dan berbasis kajian akademik agar memiliki nilai edukatif yang kuat.

“Penamaan ini harus menjadi bagian dari strategi pendidikan kultural. Kita ingin simbol-simbol yang dilihat setiap hari oleh pelajar mampu menanamkan pemahaman sejarah dan kebanggaan terhadap budaya sendiri,” tambahnya.

Selain penamaan, Dewan Pendidikan juga menyoroti rencana penggunaan aksara Arab Melayu di fasilitas publik sebagai langkah inovatif yang sarat nilai edukasi. Upaya ini dinilai dapat diintegrasikan dalam pembelajaran lintas disiplin, seperti bahasa, sejarah, hingga seni budaya.

Untuk memaksimalkan dampaknya, Dewan Pendidikan mendorong kolaborasi antara Lembaga Adat Melayu, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan. Program tersebut dapat diwujudkan melalui penyusunan modul pembelajaran kontekstual, kegiatan kunjungan edukatif, hingga integrasi materi ke dalam kurikulum sekolah.

“Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembelajaran berbasis lingkungan dan pengalaman nyata. Pelajar tidak hanya memahami sejarah secara teori, tetapi juga melihat langsung penerapannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Fendi. (*)

 

 

Reporter : RY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *