Batam-(NagoyaPos.Com)-Musyawarah Nasional (Munas) VIII Afiliasi Perusahaan Penukaran Valuta Asing (APVA) Indonesia resmi digelar di Batam untuk periode kepengurusan 2026–2030. Forum ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat sinergi industri Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) guna menjaga stabilitas dan integritas sistem keuangan nasional.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Bank Indonesia, PPATK, Direktorat Jenderal Imigrasi, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, serta perbankan nasional seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia.
Dalam sambutannya, perwakilan PPATK, Adhitya Abriansyah, menegaskan bahwa Batam sebagai kawasan perbatasan dan gerbang ekonomi internasional memiliki aktivitas valuta asing yang tinggi, sehingga sektor KUPVA memegang peran strategis.
“Aktivitas penukaran valuta asing bukan sekadar layanan bisnis, tetapi bagian dari denyut ekonomi nasional yang harus dikelola dengan aman, tertib, dan terpercaya,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa tantangan industri semakin kompleks seiring berkembangnya modus kejahatan keuangan. Praktik pencucian uang kini kian sulit dideteksi karena dilakukan melalui transaksi kecil berulang serta penggunaan identitas yang tampak sah.
Menurutnya, dana hasil kejahatan seperti perjudian online, penipuan digital, narkotika, hingga penyelundupan dapat masuk melalui berbagai jalur transaksi, termasuk sektor penukaran valuta asing.
“Pencucian uang bukan hanya kejahatan finansial, tetapi juga bahan bakar bagi kejahatan lainnya. Pencegahannya berarti menjaga masa depan bangsa,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, PPATK mendorong penguatan Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang melalui program GERNAS MULIA 24 yang melibatkan pemerintah, regulator, aparat penegak hukum, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Dalam forum tersebut, PPATK menyampaikan tiga poin penting kepada pelaku industri KUPVA, yakni menjadikan kepatuhan sebagai budaya usaha, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam mendeteksi transaksi mencurigakan, serta memanfaatkan teknologi modern untuk pengawasan dan pelaporan.
Sementara itu, Ketua Umum APVA Indonesia, Datok Amat Tantoso, menegaskan bahwa Munas VIII merupakan forum strategis untuk menentukan arah industri ke depan, bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan.
Menurutnya, industri KUPVA memiliki peran vital dalam mendukung transaksi valuta asing, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta menjadi garda terdepan dalam pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Melalui Munas ini, APVA diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru yang adaptif, memperkuat sinergi dengan regulator, serta meningkatkan daya saing industri di tengah tantangan global dan percepatan digitalisasi ekonomi.
“Kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam industri ini, dan hanya dapat dibangun melalui integritas,” pungkasnya.(**)
Reporter : RY
Editor. : TJ


















