Batam-(NagoyaPos.Com)- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pattimura ke-209 di Batam menjadi momentum memperkuat persaudaraan masyarakat Maluku di perantauan. Kegiatan yang digelar Maluku Islam Kristen Satu Gandong (Masaga) Batam di Golden Prawn, Bengkong, Jumat (30/5), menegaskan kembali nilai kebersamaan yang selama ini menjadi identitas orang Maluku.
Suasana kekeluargaan tampak mewarnai acara. Warga Maluku dari berbagai latar belakang berkumpul dalam semangat yang sama: menjaga persatuan dan mempererat tali silaturahmi sebagai sesama orang basudara.
Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura, Mewujudkan Tali Silaturahmi Orang Basudara di Tanah Rantau”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan Kapitan Pattimura, tetapi juga ruang untuk merefleksikan nilai-nilai yang diwariskannya.
Ketua Panitia, Deni Talatua, mengatakan peringatan HUT Pattimura tahun ini sengaja dirancang sebagai wadah memperkokoh persaudaraan masyarakat Maluku, baik yang beragama Islam maupun Kristen.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin terus mempererat rasa persaudaraan dan memperkuat ikatan orang basudara sebagaimana nilai yang diwariskan leluhur dalam semangat satu gandong,” kata Deni.
Menurut dia, semangat kebersamaan yang dibangun Masaga Batam tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Organisasi tersebut juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial.
Deni menilai perjuangan Pattimura masih relevan di tengah tantangan kehidupan saat ini. Jika dahulu Pattimura berjuang melawan penjajahan, kini masyarakat dituntut menjaga persatuan di tengah berbagai perbedaan.
“Perjuangan Pattimura mengajarkan bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar. Selama orang basudara tetap bergandengan tangan, tidak ada perbedaan yang mampu memecah belah kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, menjaga persaudaraan merupakan bentuk nyata melanjutkan semangat perjuangan Pattimura.
“Kalau Pattimura dahulu mengangkat parang melawan penjajahan, maka kita hari ini harus mengangkat semangat persatuan untuk melawan perpecahan,” kata Deni.
Penasehat Masaga Batam, Robi Hamisi, mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
“Perkuat persaudaraan sejati. Jangan biarkan perbedaan meretakkan hubungan antarorang basudara, karena Pattimura mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan terbesar Maluku adalah persatuan dan kebersamaan,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri dan Pembina Masaga Batam, Leonard Wattimena, mengatakan Pattimura merupakan simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air. Menurut dia, perjuangan yang dipimpin Pattimura melawan penjajah pada 1817 lahir dari keinginan membebaskan rakyat dari penindasan.
“Mari kita rawat sejarah dan jaga jati diri. Jangan sampai anak cucu kita tumbuh tanpa mengenal siapa Pattimura dan semangat perjuangannya,” kata Leonard.
Ia juga mengajak masyarakat Maluku di Batam untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah serta menjaga kota itu tetap aman dan harmonis.
Menurut Leonard, falsafah Maluku “Potong di Kuku, Rasa di Daging” menjadi pengingat bahwa persaudaraan harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.
“Ketika satu orang merasakan kesusahan, yang lain ikut merasakannya. Itulah nilai orang basudara yang harus terus kita jaga di mana pun kita berada,” ujarnya.
Leonard berharap semangat kebersamaan tersebut terus menjadi fondasi masyarakat Maluku di tanah rantau. “Dengan kekompakan dan gotong royong, kita bisa ikut membangun Batam menjadi kota yang lebih maju dan sejahtera,” kata dia. (**)
Reporter : RY



















